Saham Boncos? Belajar Stoikisme untuk Bangkit dari Kerugian
- IHSG anjlok bikin boncos? Pelajari filosofi Stoikisme untuk mengendalikan emosi, berpikir rasional, dan bangkit dari kerugian investasi saham.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID—Pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam, meninggalkan banyak investor dalam keadaan pusing bahkan boncos. Portofolio yang tadinya hijau mendadak berubah merah menyala. Di tengah kepanikan pasar, ada satu pendekatan kuno yang justru kembali relevan: Stoikisme. Apa alasannya?
Filsafat dari zaman Yunani kuno ini menawarkan cara berpikir yang bisa membantu investor keluar dari kubangan emosi negatif dan kembali mengambil keputusan rasional. Stoikisme adalah ilmu filsafat dari zaman Yunani kuno awal abad 301 SM.
Aliran ini kali pertama dibidani filsuf bernama Zeno dari Citium. Stoikisme menjadi salah satu ilmu filsafat pertama yang bersifat universal. Sebelumnya para filsuf selalu memandang Yunani sebagai bangsa dengan peradaban tertinggi.
Setelah Zeno, Stoikisme kemudian dikembangkan oleh sejumlah tokoh seperti Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius. Sampai sekarang, pemikiran mengenai Stoikisme masih terus berkembang dan tetap relevan dengan kehidupan manusia modern, termasuk bagi investor yang tengah menghadapi kerugian.
Filosofi Stoikisme menekankan bahwa semua hal dalam hidup ini bersifat netral. Interpretasi manusia sendiri yang membuat hal-hal tersebut menjadi baik atau buruk. Bagi investor, ini berarti anjloknya IHSG bukanlah akhir segalanya. Kerugian di portofolio adalah peristiwa netral. Yang menentukan apakah kamu hancur atau bangkit adalah bagaimana Anda meresponsnya.
Kendalikan Emosi
Para filsuf Stoik menilai kebahagiaan tidak seharusnya dikejar. Stoikisme mengajarkan manusia lebih fokus mengendalikan emosi negatif sehingga hidup lebih tenang dan tak terbebani. Dalam konteks investasi, ini sangat relevan.
Ketika saham boncos, emosi negatif seperti panik, kecewa, bahkan marah pada diri sendiri sangat wajar muncul. Namun jika dibiarkan, emosi ini akan mendorong keputusan impulsive seperti panic selling, revenge trading, atau malah meninggalkan pasar sama sekali.
Stoikisme mengajarkan untuk tidak menekan emosi, tapi mengenalinya dan tidak membiarkannya mengendalikan tindakan. Investor yang bisa mengelola emosinya akan lebih mampu berpikir jernih, apakah saham yang merugi masih memiliki fundamental baik? Apakah ini waktu yang tepat untuk cut loss atau justru averaging down?
Selain mengontrol emosi negatif, Stoikisme membantu kita mensyukuri segala sesuatu yang dimiliki saat ini. Meski portofolio merah, mungkin kamu masih punya pekerjaan tetap, kesehatan, atau aset lain. Perspektif ini mencegah investor larut dalam kesedihan berlebihan.
Dikotomi Kendali: Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Kamu Kontrol
Stoikisme mendefinisikan hidup menjadi dua bagian yakni dimensi internal dan dimensi eksternal. Kalangan Stoa menyebutnya sebagai dikotomi kendali. Dimensi internal adalah segala sesuatu yang berada dalam kendali penuh diri kita. Adapun dimensi eksternal adalah sesuatu yang berada di luar kontrol kita.
Dalam investasi saham, dikotomi ini sangat jelas. Dimensi eksternal atau yang di luar kendali kamu seperti pergerakan IHSG hari ini atau besok, keputusan The Fed menaikkan atau menurunkan suku bunga, sentimen pasar global, kinerja emiten, tanggapan investor lain hingga berita ekonomi-politik.
Yang bisa kamu kendalikan hanyalah dimensi internal. Hal itu seperti riset sebelum membeli saham, strategi diversifikasi portofolio, disiplin cut loss dan take profit, keputusan untuk panic selling atau hold, menyediakan waktu untuk belajar sampai mengelola respons emosional terhadap kerugian.
Untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup, Stoikisme mengajarkan agar fokus pada dimensi internal atau pikiran kita sendiri. Semakin kita berusaha mengendalikan apa yang ada di luar kita, kita akan terbawa ke perasaan kecewa, frustrasi bahkan patah hati.
Banyak investor stres karena terus-menerus memantau pergerakan harga, membaca setiap berita ekonomi, atau membandingkan return mereka dengan investor lain. Padahal semua itu adalah dimensi eksternal yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Buku untuk Mempelajari Stoikisme dengan Mudah
Para Stoa (penganut ajaran Stoikisme) percaya ada keadaan yang tidak bisa diubah. Yang bisa diubah hanyalah respons kita terhadap keadaan tersebut. Intinya, manusia dilatih untuk merespons segala sesuatu secara rasional. Hal itu selaras dengan tujuan utama aliran ini yakni pengendalian diri.
Hal ini karena kita tidak bisa mengubah atau menentukan respons orang lain. Fokus kebahagiaan yang diajarkan Stoikisme ada dalam diri manusia masing-masing. Begitu pula dalam berinvestasi. IHSG mungkin masih akan turun esok hari, atau mungkin rebound. Kamu tidak bisa mengendalikannya.
Yang bisa kamu kendalikan adalah evaluasi strategi, perbaiki manajemen risiko, dan ambil pelajaran dari kerugian ini. Stoikisme bukan tentang pasrah menerima kerugian. Justru sebaliknya, tentang mengambil kendali penuh atas satu-satunya hal yang memang bisa kamu kendalikan, diri sendiri.

Chrisna Chanis Cara
Editor
