IHSG Tertekan Free Float dan Tarif AS, Cermati ASII dan TINS
- Indeks Harga Saham Gabungan anjlok imbas tarif impor AS dan aturan free float. Riset sekuritas menyarankan investor agar mengoleksi saham TINS dan emiten ASII.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa ditutup melemah menuju level 8.235,26 pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026. Sentimen negatif bertubi-tubi dari kancah global maupun domestik sukses menekan pergerakan indeks turun cukup dalam sebesar 1,05% secara persentase harian.
Mengutip riset harian dari lembaga BRI Danareksa Sekuritas, pelemahan indeks saham sejalan dengan hantaman eksternal. "IHSG terkoreksi ke 8.235 dengan Net Foreign Sell mencapai Rp409,35 miliar, tertekan oleh sentimen eksternal dan kondisi domestik," tulis mereka dalam risetnya pada Jumat, 27 Februari 2026.
Menghadapi sesi Jumat, 27 Februari 2026, Phintraco Sekuritas memproyeksikan indeks menguji level 8.150. Di tengah tren pelemahan tersebut, para analis merekomendasikan saham PT Astra International Tbk (ASII) beserta PT Timah Tbk (TINS) untuk masuk pengawasan perlindungan portofolio bursa.
Hantaman Sentimen Global dan Tarif AS
Sementara itu, Tim Research Phintraco Sekuritas menyoroti sentimen negatif yang bersumber dari kebijakan proteksionisme otoritas Amerika Serikat. "Amerika Serikat menetapkan tarif bea sebesar 104,38% untuk produk panel dari Indonesia," tulis Phintraco Sekuritas menanggapi isu larangan subsidi energi surya lokal kita.
Tim Phintraco Sekuritas turut membeberkan fakta penyelidikan dari lembaga United States TradeRepresentative/USTR. "Perwakilan perdagangan Amerika berencana membuka penyelidikan resmi praktik perdagangan untuk memeriksa kapasitas industri perikanan Indonesia," terang laporan Phintraco Sekuritas mengenai ancaman sentimen global tersebut.
Dari sudut pandang riset BRI Danareksa Sekuritas, kekhawatiran pelaku bursa semakin memuncak akibat eskalasi kawasan. "Tensi geopolitik yang berpotensi melibatkan negara Rusia serta China turut memicu dorongan aksi Risk Off masif," sebut laporan analisis BRI Danareksa Sekuritas.
Aturan Free Float Bebani Pasar Domestik
Membahas kondisi dalam negeri, BRI Danareksa Sekuritas membedah sentimen regulasi yang meresahkan. "Implementasi aturan minimum Free Float sebesar 15% memunculkan kekhawatiran potensi sanksi notasi khusus di lantai bursa," urai mereka.
Analis BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa penerapan aturan baru tersebut sangat berpotensi menjerat perusahaan publik. "Risiko penghapusan pencatatan paksa atau Delisting bagi emiten yang terbukti belum siap sukses mendorong gelombang aksi jual," tegas laporan riset BRI Danareksa Sekuritas.
Menambah beban hambatan internal, Phintraco Sekuritas menyoroti pandangan S&P Global Ratings terkait peningkatan tekanan fiskal. "Meningkatnya beban pembiayaan utang negara bisa memperbesar risiko penurunan terhadap proyeksi stabilitas profil kredit Indonesia," tambah Phintraco Sekuritas.
Proyeksi Teknikal dan Rekomendasi Saham
Beralih pada tinjauan teknikal, tim analis Phintraco Sekuritas secara cermat membedah pola grafik bursa guna memetakan arah pergerakan indeks. "Pembentukan histogram positif pada indikator Moving Average ConvergenceDivergence/MACD kini terpantau kembali mengecil tajam," ungkap tim riset mengamati lunturnya daya beli.
Menghadapi rentetan gejolak bursa, riset BRI Danareksa Sekuritas menyarankan investor beralih kepada emiten komoditas andalan. "Pasar menanti arah komoditas, saham PT Timah Tbk dan PT Hartadinata Abadi Tbk menjadi pilihan," tulis BRI Danareksa Sekuritas dipadu emiten PT Indofood Sukses Makmur Tbk.
Riset Phintraco Sekuritas secara resmi melengkapi daftar rekomendasi saham harian dengan membidik sektor pertahanan fundamental. "Kami merekomendasikan saham PT Telkom Indonesia Tbk beserta PT Astra International Tbk," tulis Phintraco Sekuritas ditambah pamungkas PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.

Alvin Bagaskara
Editor
