IHSG Terpuruk, Pasar Cermati Minyak dan Defisit APBN
- IHSG anjlok 7,89% sepekan ke level 7.585. Konflik AS-Iran, lonjakan harga minyak, dan kekhawatiran defisit APBN memicu tekanan pasar saham Indonesia.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan pada 2 hingga 6 Maret 2026 tercatat anjlok 7,89%. Tak ayal, indeks komposit tersebut terkoreksi menuju level 7.585,68 dari posisi penutupan pada pekan sebelumnya, atau terkoreksi 13,29% secara year to date.
Sejalan dengan pelemahan tersebut, nilai kapitalisasi pasar IHSG juga ikut merosot. Total kapitalisasi pasar saham domestik turun 7,85% menjadi Rp13.627 triliun pada penutupan perdagangan pekan pertama Maret 2026. Hal tersebut didorong outflow asing sepanjang pekan ini sehingga Rp263 miliar, sehingga total pelarian dana mencapai Rp7,29 triliun.
Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai tekanan terhadap IHSG hingga turun ke kisaran 7.500 pada awal Maret 2026 tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia menjelaskan tekanan terhadap pasar saham domestik dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik yang muncul secara bersamaan.
Kombinasi Tekanan Global dan Domestik
Dari sisi eksternal, Hendra memaparkan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berlansung sejak pekan lalu hingga berita ini ditulis menjadi faktor utama. “Kondisi ini merupakan kombinasi dari tekanan global dan domestik yang datang secara bersamaan sehingga membuat sentimen pasar menjadi sangat sensitif,” ungkap Founder Republik Investor, Hendra Wardana kepada TrenAsia.id pada Minggu, 8 Maret 2026.
Hendra bilang peningkatan ketegangan geopolitik itu berdampak pada pasar energi global, terutama lonjakan harga minyak mentah Brent yang sempat menembus US$93 per barel. Kondisi ini menunjukkan fluktuasi energi global dapat memicu sentimen di pasar saham dan ketahanan ekonomi nasional.
Menurutnya, kenaikan harga energi global menjadi tantangan bagi negara yang masih bergantung pada impor minyak, termasuk Indonesia. "Bagi negara seperti Indonesia yang masih menjadi net importer minyak, kenaikan harga energi global ini menjadi sentimen negatif karena berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan, nilai tukar rupiah," jelasnya merinci.
Dilema Defisit Anggaran Negara
Tekanan global tersebut juga berdampak pada arus modal di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. "Kondisi ini membuat investor asing cenderung melakukan aksi jual di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, yang terlihat dari masih terjadinya arus dana keluar (foreign net sell) di pasar saham," urai Hendra.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mulai mencermati kondisi fiskal domestik. Hingga Februari 2026, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tercatat mengalami defisit sekitar Rp135 triliun, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap ruang fiskal pemerintah.
Sebagai informasi, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 ditetapkan sekitar US$70 per barel. Dengan harga yang kini telah melampaui level tersebut, pemerintah dinilai menghadapi dilema kebijakan dalam menjaga stabilitas fiskal. "Jika harga minyak dunia terus bertahan di level tinggi, pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan antara menambah subsidi energi yang akan memperlebar defisit anggaran atau menaikkan harga BBM," jelas Hendra.
Meski demikian, Hendra menilai IHSG masih memiliki peluang pemulihan jika tekanan global mulai mereda. "Dalam jangka pendek, IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kisaran support kuat di area 7.450–7.500. Jika tekanan global mulai mereda, indeks berpeluang kembali bergerak menuju area 7.900 hingga 8.000 dalam jangka menengah," tutup Hendra.

Alvin Bagaskara
Editor
