IHSG Sempat Pecah Rekor 9.000, Ongkos Utang RI Turun
- Asing kembali masuk pasar RI. Menkeu Purbaya sebut IHSG yang tembus 9.000 dan yield SBN turun ke 6,01% sebagai bukti pulihnya kepercayaan investor global.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Optimisme pasar keuangan Indonesia kembali memuncak pada awal tahun 2026 ini. Indikator utama pasar modal, yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sukses menembus level psikologis 9.000 hari ini, menandakan pulihnya kepercayaan investor domestik maupun asing terhadap fundamental ekonomi nasional yang sempat tertekan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti fenomena pembalikan arah ini dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026. Ia menegaskan bahwa sentimen positif ini didukung oleh penurunan tajam yield Surat Berharga Negara atau SBN yang membuat ongkos utang negara lebih murah.
"Kinerja IHSG menunjukkan sentimen sudah balik, paling tidak ke pasar modal kita. Di bulan Desember lalu ditutup di level 8.646,9 atau naik 22,1% dibanding tahun sebelumnya. Sepertinya tren ini akan berkelanjutan terus kenaikannya di tahun 2026 ini," ujar Purbaya dengan nada optimis.
Asing Sudah Masuk Sini Lagi
Ia menambahkan bahwa momentum kenaikan ini sangat terlihat jelas pada sesi perdagangan hari ini yang bergairah. "Kalau Anda lihat layar perdagangan hari ini, tadi kan sempat menembus level 9.000," tambahnya sembari menekankan bahwa sentimen investor, baik domestik maupun asing, kini telah kembali positif sepenuhnya.
Kenaikan pasar saham ini ditopang oleh derasnya arus modal asing atau capital inflow yang kembali membanjiri pasar domestik. Total arus modal masuk akumulasi November dan Desember 2025 tercatat mencapai Rp46,8 triliun, yang tersebar merata di instrumen saham, obligasi negara, maupun sekuritas Bank Indonesia.
"Artinya apa? Artinya investor asing sudah masuk ke sini lagi. Kredibilitas ekonomi dan pasar keuangan kita sudah kembali. IHSG yang naik ke 9.000 tadi itu baru awal, perkiraan saya akan naik terus karena ekonomi kita akan kita manage ke arah perbaikan," tegasnya.
Ongkos Utang Negara Makin Murah
Selain pasar saham, perbaikan signifikan juga terjadi di pasar obligasi negara yang menjadi tolak ukur risiko. Purbaya mengungkapkan Yield SBN tenor 10 tahun kini berada di level 6,01% atau turun 101 basis poin dibandingkan posisi akhir 2024, menandakan persepsi risiko investasi semakin membaik.
"Jadi surat utang kita lebih dipercayai market, sehingga yield-nya bisa turun. Artinya, ongkos kami untuk mengeluarkan surat utang lebih murah 1% dibanding akhir tahun lalu," jelas Purbaya sembari menyebut bahwa hal ini merupakan sebuah efisiensi anggaran negara yang sangat luar biasa bagi fiskal.
Sebagai informasi, yield SBN mencerminkan tingkat bunga yang harus dibayar pemerintah saat menerbitkan utang baru. Penurunan yield menandakan tingginya permintaan pasar terhadap surat utang Indonesia, sehingga pemerintah tidak perlu menawarkan bunga tinggi untuk menarik minat para investor global.
Kondisi ini secara otomatis menurunkan cost of fund atau biaya dana bagi kas negara. Dengan beban bunga yang lebih rendah untuk utang baru, ruang fiskal APBN menjadi lebih efisien dan hemat untuk membiayai berbagai program prioritas pembangunan.
Global Gonjang-Ganjing Ekonomi Kuat
Optimisme pasar ini berakar dari fundamental ekonomi riil yang tetap resilien meski global sedang tidak menentu. Pertumbuhan ekonomi terus menanjak dari 4,87% di Kuartal I menjadi 5,1% di Kuartal II, dan diproyeksikan mampu mencapai angka 5,45% pada penutupan Kuartal IV-2025 nanti.
Selain itu, surplus neraca perdagangan menjadi bantalan kuat stabilitas eksternal. "Makanya saya bilang, biar globalnya katanya gonjang-ganjing, ternyata balance kita kinerjanya amat baik. Harusnya global dampaknya ke kita tidak negatif, malah gainer," pungkas Purbaya menutup paparan kinerja ekonomi makro awal tahun ini.

Alvin Bagaskara
Editor
