Sejak Abad ke-19 AS Sudah Ingin Memiliki Greenland
- Amerika pernah menawarkan US$100 juta dalam bentuk emas kepada Denmark untuk membeli Alaska

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID- Menyusul penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro oleh AS, Presiden Donald Trump meningkatkan retorikanya seputar keinginannya untuk memperoleh Greenland.
Meskipun ekspansionisme Amerika kembali menguat di bawah Trump, gagasan Washington mengendalikan wilayah Denmark yang berpemerintahan sendiri telah ada jauh sebelum presiden saat ini menjabat.
Greenland, sebuah pulau dengan luas 836.000 mil persegi menempati posisi geopolitik yang strategis. Pulau terletak di antara AS dan Eropa dan berada di atas apa yang disebut celah GIUK. Sebuah jalur maritim antara Greenland. Islandia, dan United Kingdom yang menghubungkan Arktik ke Samudra Atlantik. Pulau ini juga kaya akan sumber daya alam termasuk minyak, gas, dan mineral langka yang menjadikannya semakin penting secara strategis.
Ketertarikan AS terhadap Greenland berawal sejak abad ke-19, ketika Menteri Luar Negeri saat itu, William H. Seward, yang baru saja membeli Alaska dari Rusia pada tahun 1867 mengemukakan gagasan untuk membeli Greenland dan Islandia dari Denmark.
Meskipun penjualan tersebut tidak pernah terwujud, Amerika terus mengincar pulau terbesar di dunia itu pada beberapa kesempatan sepanjang sejarah. Bahkan pernah membahas kemungkinan pertukaran dengan Denmark untuk wilayah Amerika di Filipina.
Kita akan melihat lebih mendalam tentang sejarah ketertarikan AS terhadap Greenland.
1867: Penjualan Alaska dan ambisi AS di Arktik
Pada tahun-tahun setelah berakhirnya Perang Saudara, pemerintahan Presiden Andrew Johnson saat itu berupaya memperluas pengaruh AS di Pasifik. Setelah berhasil membeli Alaska dari Rusia seharga US$7,2 juta pada tahun 1867, Menteri Luar Negeri Seward Johnson mengarahkan pandangannya ke wilayah Arktik lainnya.
Atas permintaan Seward, Robert J. Walker, mantan menteri keuangan dan pendukung ekspansi yang gigih yang membantu menengahi kesepakatan Alaska merekomendasikan agar AS menambahkan Greenland dan Islandia ke dalam inventarisnya. Alasannya bersifat politis dan komersial. Dia menekankan bentang alam Greenland yang luas dan kekayaan mineralnya.
Walker menulis Pantai Greenland jauh lebih daripada pantai negara lain mana pun. Memiliki banyak teluk, ceruk, muara, dan fyord yang dalam. Beberapa di antaranya mungkin membentang dari pantai barat ke pantai timur. Kondisi ini menghadirkan garis pantai yang sangat luas dan menyediakan lahan penangkapan ikan yang sangat luas dan terlindungi.
Selain batubara berharga yang ditemukan, Greenland juga menunjukkan kekayaan mineral yang sangat besar. Dia berpendapat bahwa mengakuisisi Greenland akan membantu AS menguasai perdagangan dunia. Namun, tidak ada tawaran resmi yang diajukan ke Denmark.
1910: Sebuah Saran yang Sangat Berani
Pada tahun 1910, Duta Besar Amerika untuk Denmark saat itu, Maurice Francis Egan menulis surat kepada Asisten Menteri Luar Negeri dan menyebutnya sebagai "saran yang sangat berani, Egan mengusulkan agar AS memberikan pulau Mindanao di Filipina yang saat itu merupakan wilayah AS kepada Denmark. Ini sebagai imbalan atas Greenland dan Hindia Barat Denmark. Usulan itu tidak berlanjut lebih jauh. Dan dengan Perang Dunia I yang sudah di depan mata, perhatian AS pun terfokus ke tempat lain
Namun, beberapa tahun kemudian, AS membeli Hindia Barat Denmark yang sekarang menjadi Kepulauan Virgin AS dari Denmark. Wilayah itu dibeli dengan harga 25 juta dolar AS dalam bentuk emas. Denmark menjualnya untuk mencegah kepulauan tersebut jatuh ke tangan Jerman.
1946: Tawaran US$100 Juta
Selama Perang Dunia II, setelah Jerman menginvasi Denmark, AS mengambil alih tanggung jawab pertahanan Greenland dan mendirikan kehadiran militer di pulau tersebut.
Kemudian pada tahun 1946, setelah puluhan tahun mempertimbangkan gagasan tersebut, Amerika di bawah Presiden Harry Truman mengajukan tawaran resmi pertamanya untuk membeli Greenland dari Denmark.
Penawaran itu bersifat rahasia pada saat itu dan pertama kali dipublikasikan pada tahun 1991 oleh sebuah surat kabar Denmark. Dua dekade setelah dokumen-dokumen tersebut dideklasifikasi.
Disebutkan Pada April 1946, pejabat Departemen Luar Negeri John Hickerson menghadiri pertemuan komite perencanaan dan strategi Kepala Staf Gabungan dan mengatakan bahwa hampir setiap anggota setuju bahwa AS harus mencoba membeli Greenland.
Komite tersebut mengindikasikan bahwa uang sekarang berlimpah, bahwa Greenland sama sekali tidak berharga bagi Denmark, dan bahwa kendali atas Greenland sangat penting bagi keamanan Amerika Serikat.
Perang Dingin sedang dimulai dan Amerika memandang Greenland sebagai wilayah yang penting bagi keamanan nasionalnya. Namun, Hickerson mengatakan kepada komite bahwa ia ragu pihak Denmark ingin menjualnya.
Dalam memo lanjutan pada bulan Mei, William C. Trimble, asisten kepala divisi urusan Eropa Utara Departemen Luar Negeri menetapkan harga untuk pulau tersebut. Dia menyarankan Amerika menawarkan Denmark US$100 juta dollar Amerika dalam bentuk emas.
Dia mengatakan bahwa pembelian Greenland akan memberi Amerika Serikat pangkalan berharga. Fasilitas yang dapat digunakan untuk melancarkan serangan balasan udara di wilayah Arktik jika terjadi serangan.
Para pejabat Amerika juga membahas pertukaran lahan kaya minyak di Alaska dengan sebagian wilayah Greenland meskipun Trimble mengatakan dia pikir Denmark akan kurang terbuka terhadap ide ini.
Menteri Luar Negeri AS saat itu, James Byrnes kemudian menyampaikan tawaran resmi kepada Menteri Luar Negeri Denmark Gustav Rasmussen pada 14 Desember 1946.
Denmark tidak ingin menjual Greenland. Namun, Amerika diizinkan untuk membangun dan mengoperasikan pangkalan militer di sana. Amerika memiliki beberapa pangkalan, tetapi sejak itu telah menutup semuanya kecuali satu yakni Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, yang sebelumnya bernama Pangkalan Udara Thule.
Pada tahun 1979, Greenland memperoleh pemerintahan sendiri melalui referendum, yang memberinya otonomi lebih besar dari Denmark.
Eera Trump
Terlepas dari sejarah panjang ketertarikan Amerika terhadap Greenland, pemerintahan Trump telah menghidupkan kembali upaya AS untuk sekali lagi mencoba mengakuisisi pulau tersebut dan meningkatkan ancaman terhadap wilayah Denmark itu
Trump pertama kali secara terbuka menyatakan minatnya untuk membeli Greenland selama masa jabatan pertamanya pada tahun 2019. Dia menyamakan potensi pembelian tersebut dengan "kesepakatan real estat besar. Namun, gagasan itu dengan cepat ditolak oleh otoritas Greenland dan Denmark yang bersikeras bahwa pulau itu tidak untuk dijual.
Tak lama setelah memenangkan pemilihan 2024, Trump menghidupkan kembali tawaran masa jabatan pertamanya untuk membeli Greenland. Sekali lagi ditolak. Hampir tepat setahun yang lalu, ia mengadakan konferensi pers bahwa ia tidak mengesampingkan tindakan militer untuk mengambil alih Greenland . Sebuah sentimen yang digaungkan dalam beberapa hari terakhir oleh Gedung Putih.
Gedung Putih mengatakan bahwa Trump telah "menyampaikan dengan jelas bahwa memperoleh Greenland adalah prioritas keamanan nasional Amerika Serikat, dan sangat penting untuk mencegah musuh Amerika di wilayah Arktik. Washington merujuk pada Rusia dan China.
