Harga Perak Cetak Rekor, Waktunya Beli atau Jual?
- Harga perak dunia menembus rekor tertinggi, kenaikan ini didorong ketegangan geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga, serta ketatnya pasokan fisik global.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Harga perak global kembali menjadi sorotan pelaku pasar keuangan dunia. Pada Rabu, 21 Januari 2026, harga perak menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level US$95 per ons troi. Sepanjang tahun berjalan, harga logam mulia ini telah melonjak sekitar 31% secara year to date (YTD) dan kini hanya terpaut tipis dari level psikologis US$100 per ons.
Lonjakan harga perak kali ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Kenaikan tersebut merupakan akumulasi berbagai faktor, mulai dari ketegangan geopolitik global, arah kebijakan moneter, hingga perubahan struktural di pasar perak dunia.
“Harga perak baru saja melonjak ke US$95 per ons troi, memecahkan seluruh rekor sebelumnya dan mengejutkan pasar global. Emas mungkin masih menyedot lebih banyak perhatian, tetapi laju kenaikan perak kini benar-benar mencuri sorotan,” tulis pendiri IBC Group (International Blockchain Consulting), Mario Nawfal, seperti dikutip Rabu 21 Januari 2026.
Secara fundamental, reli harga perak ditopang kombinasi faktor makro dan struktural yang kuat. Ketegangan geopolitik, khususnya terkait kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Uni Eropa, mendorong investor kembali memburu aset safe haven seperti emas dan perak.
Selain itu, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve membuat aset tanpa imbal hasil (non-yielding assets) semakin menarik. Namun, perbedaan utama antara perak dan emas terletak pada sisi permintaannya.
Sekitar 60% produksi perak global setiap tahun diserap oleh sektor industri. Logam ini menjadi komponen penting dalam pengembangan energi surya, kendaraan listrik, elektronik, hingga infrastruktur teknologi tinggi. Permintaan industri yang bersifat struktural ini membuat perak memiliki karakter ganda, yakni sebagai aset lindung nilai sekaligus komoditas strategis.
Di saat yang sama, pasokan fisik perak kian terbatas. Perdagangan perak berbasis kertas disebut jauh melampaui ketersediaan fisiknya di pasar. Ketimpangan antara pasokan riil dan kontrak finansial inilah yang memperbesar tekanan kenaikan harga.
Situasi tersebut turut meningkatkan risiko bagi pelaku pasar yang memegang posisi short. Sejumlah laporan menyebut bank-bank global memiliki posisi short perak hingga sekitar US$4,4 miliar. Dengan pasokan fisik yang terbatas, menutup posisi tersebut tanpa mendorong harga naik signifikan dinilai nyaris mustahil.
Kondisi ini membuka peluang terjadinya short squeeze, yakni lonjakan harga yang dipicu bukan hanya oleh permintaan baru, tetapi juga kepanikan penutupan posisi short secara bersamaan.
Proyeksi Harga dan Strategi Investasi
Mengutip laporan Beln Crypto, sejumlah analis memperkirakan harga perak berpotensi menembus US$100 per ons dalam waktu dekat. Bahkan, proyeksi jangka panjang cenderung sangat bullish.
Bank of America memperkirakan harga perak berada di kisaran US$135 hingga US$309 per ons pada 2026. Sebagian analis yang lebih agresif bahkan membuka peluang harga perak menembus US$300 per ons jika ketimpangan struktural antara pasokan dan permintaan terus berlanjut.
Meski demikian, reli tajam dalam waktu singkat juga meningkatkan risiko koreksi jangka pendek. Aksi ambil untung berpotensi muncul, terutama setelah harga menembus level psikologis penting.
Untuk jangka pendek (trader), strategi tahan atau jual saat harga menguat (sell on strength) dinilai lebih bijak. Kenaikan lebih dari 30% sepanjang tahun membuka ruang koreksi teknikal, terutama di sekitar atau setelah harga menyentuh US$100 per ons.
Sementara bagi investor jangka menengah hingga panjang, perak masih dinilai menarik untuk akumulasi bertahap (buy on weakness). Secara fundamental, perak masih relatif undervalued dibanding emas dan ditopang permintaan industri yang bersifat struktural. Koreksi harga justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang masuk secara bertahap, bukan membeli saat euforia memuncak.
Adapun bagi investor dengan profil konservatif, perak tetap disarankan sebagai instrumen diversifikasi, bukan aset utama dalam portofolio.
Kenaikan harga perak saat ini bukan sekadar euforia sesaat, melainkan refleksi dari perubahan mendasar dalam keseimbangan pasokan dan permintaan global. Fokus pasar memang tertuju pada level US$100 per ons, namun cerita besarnya terletak pada kekuatan fundamental perak di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Muhammad Imam Hatami
Editor
