Tren Pasar

Gelora IHSG Tembus Langit, Intip Tuah Saham PTRO dan BUVA

  • Euforia pasar memuncak usai IHSG cetak rekor baru. Investor asing agresif, saham lapis kedua mulai dilirik. Cek target harga PTRO dan BUVA ini.
IHSG Ditutup Menguat-0.jpg
Karyawan berkatifitas di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat, 16 Januari 2026, ditiadakan seiring libur Isra Mi'raj. Namun, euforia pasar masih menyala usai indeks sukses menembus level psikologis 9.000 dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di posisi 9.075,41 pada penutupan kemarin.

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai pencapaian historis ini didorong oleh ekspektasi kebijakan The Fed yang semakin akomodatif. Selain itu, maraknya aksi beli pada saham lapis kedua dan Grup Bakrie menjadi indikator kuat bahwa selera risiko investor sedang berada di level puncak.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Kamis, 15 Januari 2026, IHSG menunjukkan penguatan sebesar 0,47% sebelum libur, melengkapi akumulasi kenaikan mingguan solid sebesar 1,55%. Lonjakan ini mengerek kapitalisasi pasar ke rekor Rp16.512 triliun, didukung investor asing yang mencatatkan pembelian bersih Rp947,45 miliar dalam sehari, sehingga total akumulasi beli sepanjang tahun ini menembus Rp7,3 triliun.

Sentimen The Fed dan Sinyal Risk On

Hendra menekankan bahwa momentum kenaikan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari pertemuan berbagai sentimen positif. Faktor eksternal global dan stabilitas fundamental domestik saling bahu-membahu menciptakan iklim investasi yang sangat kondusif bagi para pelaku pasar modal untuk melakukan akumulasi aset secara agresif.

"Berhasilnya IHSG menembus level psikologis 9.000 dan mencetak rekor tertinggi baru mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik yang sedang kondusif. Rebound indeks terutama ditopang oleh ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed yang semakin akomodatif setelah data inflasi AS menunjukkan pelonggaran," ujar Hendra kepada TrenAsia.id pada Jumat, 16 Januari 2026. 

Menurutnya, kondisi tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa siklus penurunan suku bunga global semakin dekat. Dampak positifnya sangat terasa, di mana aset berisiko di negara berkembang kembali diminati oleh pemilik modal besar yang mencari imbal hasil lebih tinggi dibandingkan pasar negara maju.

Dari sisi komposisi penguatan, reli IHSG saat ini tidak hanya ditopang oleh saham-saham perbankan besar dan emiten berkapitalisasi jumbo semata. “Arus dana mulai mengalir deras ke saham-saham energi, infrastruktur, dan komoditas yang mendapatkan angin segar dari kenaikan harga emas dan perak global,” terangnya. 

Hendra secara khusus menyoroti reli saham Bakrie mencerminkan meningkatnya selera risiko investor dan kembalinya minat pada saham berkarakter spekulatif. Fenomena ini biasanya muncul saat pasar berada dalam fase bullish, sehingga penguatan tersebut lebih berperan sebagai konfirmasi bahwa sentimen pasar sedang positif secara luas.

Proyeksi Pasar dan Pilihan Saham

Menatap perdagangan pekan depan, Hendra memproyeksikan IHSG secara teknikal memiliki ruang terbuka untuk menguji area resisten 9.100 hingga 9.200. “Sentimen pasar masih sangat kuat, didukung oleh data inflasi yang melandai serta harapan akan adanya pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat,” paparnya. 

Menyikapi peluang tersebut, Hendra merekomendasikan PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan target harga Rp13.000. Saham ini dinilai sangat menarik untuk dicermati investor seiring prospek kontrak tambang dan jasa pertambangan yang masih solid, terutama di tengah tingginya kebutuhan energi dan mineral global saat ini.

Selain sektor energi, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) juga direkomendasikan Trading Buy dengan target harga Rp2.000. Hendra melihat emiten ini berpotensi besar memanfaatkan momentum pemulihan sektor pariwisata dan properti hospitality yang terus bertumbuh seiring meningkatnya mobilitas masyarakat pasca pandemi berakhir.

Terakhir, Hendra menyarankan PT Panin Financial Tbk (PNLF) sebagai opsi Speculative Buy dengan target Rp330. Saham ini dinilai memiliki valuasi yang relatif murah dibandingkan dengan rata-rata industri, serta didukung oleh potensi perbaikan kinerja keuangan yang diharapkan terjadi secara bertahap tahun ini.

Senada dengan itu, PT MNC Land Tbk (KPIG) juga direkomendasikan dengan target Rp300. Rekomendasi ini didorong oleh ekspektasi pengembangan aset properti yang agresif serta sentimen pemulihan sektor properti secara umum, yang diyakini akan memberikan dampak positif terhadap pergerakan harga sahamnya ke depan.