Tren Pasar

Efek Moody’s: Asing Buang BBRI dan BBCA, Tapi Borong BMRI

  • Moody’s memangkas outlook emiten big cap menjadi negatif. Investor asing melepas BBRI, namun justru memborong BMRI dan TLKM di tengah sentimen ini.
WhatsApp Image 2025-12-05 at 16.05.05.jpeg
Bank Mandiri meraih lima penghargaan dalam Bank Indonesia Award 2025 berkat kontribusinya pada kebijakan makroprudensial, moneter, dan sistem pembayaran. Kinerja kredit dan transaksi valas yang tumbuh solid memperkuat peran bank ini dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. (Bank Mandiri)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG bersiap membuka perdagangan Senin, 9 Februari 2026, dengan fokus utama pada saham-saham Big Caps. Investor wajib mencermati emiten yang baru saja terkena pemangkasan outlook utang oleh Moody's dari level stabil menjadi negatif.

Pada penutupan Jumat lalu, reaksi pasar terlihat sangat beragam terhadap daftar perusahaan nasional yang masuk radar negatif Moody's tersebut. Sebagian besar saham perbankan dan korporasi besar mengalami tekanan jual masif, namun ada beberapa anomali menarik di mana asing justru melakukan akumulasi.

Data perdagangan akhir pekan lalu menjadi peta jalan penting bagi strategi investor pagi ini. Phintraco Sekuritas memprediksi volatilitas tinggi akan membayangi pergerakan saham-saham tersebut, seiring IHSG yang diperkirakan akan menguji level support krusial di area 7.700 hingga 7.800.

1. BBRI dan BBCA 

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) termasuk dalam lima bank yang outlook-nya diturunkan Moody's. Respons pasar Jumat lalu sangat negatif, di mana asing membuang BBRI senilai Rp213,5 miliar dan BBCA Rp100,4 miliar.

Harga saham BBRI pun terkoreksi 1,82% ke level Rp3.780, sementara BBCA turun 1,60% menjadi Rp7.675. Penurunan prospek ini memicu kekhawatiran investor mengenai kenaikan biaya dana atau Cost of Funds, yang berpotensi menggerus margin keuntungan bank ke depannya nanti.

Phintraco Sekuritas menilai aksi jual ini wajar sebagai bentuk penyesuaian risiko jangka pendek. Tak ayal, investor asing cenderung mengurangi porsi kepemilikan di dua bank raksasa itu sementara waktu. "Penurunan outlook oleh Moody’s tersebut berpotensi meningkatkan risk premium," tulisnya dalam risetnya pada Senin, 9 Februari 2026. 

2. Anomali BMRI 

Menariknya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang juga masuk daftar downgrade Moody's justru menunjukkan respons berbeda. Meskipun harganya stagnan di Rp5.050, saham pelat merah ini malah diborong investor asing dengan nilai Net Buy jumbo mencapai Rp679,9 miliar Jumat lalu.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN). Kedua bank yang juga turun outlook-nya ini kompak melemah, dengan BBTN mencatat penurunan terdalam sebesar 3,03% ke level Rp1.280.

Anomali pada BMRI menunjukkan bahwa meski outlook dipangkas, investor institusi global masih melihat valuasi yang sangat menarik. Fundamental BMRI yang solid tampaknya menjadi alasan asing berani melawan arus sentimen negatif Moody's dan menampung barang saat investor ritel panik.

3. TLKM dan UNTR 

Di sektor korporasi non-bank, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga terkena revisi outlook negatif. Namun, saham ini justru tampil perkasa dengan kenaikan 2,74% ke Rp3.380 dan mencatatkan Net Buy asing Rp157,6 miliar, mengabaikan sentimen rating tersebut.

Nasib berbeda dialami oleh PT United Tractors Tbk (UNTR) yang sama-sama di-downgrade. Saham distributor alat berat ini ambles 3,65% ke level Rp26.400, mencerminkan kekhawatiran pasar yang lebih besar terhadap dampak makro ekonomi pada sektor pertambangan dan alat berat.

Begitu juga dengan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang prospeknya ikut dipangkas menjadi negatif. Harga sahamnya terkoreksi 2,71% menjadi Rp8.075, menandakan bahwa sektor barang konsumsi pun tak luput dari aksi penghindaran risiko oleh para pelaku pasar.

4. Sentimen Penyeimbang Global

Meski saham-saham domestik tertekan isu Moody's, sentimen global dari Wall Street memberikan sedikit harapan. Phintraco mencatat rekor baru di AS, "Indeks Dow Jones untuk pertama kalinya ditutup di atas level 50 ribu, ditopang oleh penguatan saham siklus ekonomi."

Kenaikan harga emas ke level US$4.954 per troy ounce juga menjadi katalis positif bagi emiten pertambangan emas. Sentimen eksternal ini diharapkan mampu meredam kepanikan pasar pagi ini akibat penurunan outlook pada deretan perusahaan raksasa Indonesia tersebut.

Investor berharap euforia pasar global dapat menular ke Asia hari ini. "Sentimen ini diharapkan menular ke pasar Asia hari ini," tulis tim riset Phintraco, memberikan optimisme bahwa IHSG mungkin tidak akan jatuh sedalam yang dikhawatirkan banyak pihak.

5. Rekomendasi Saham 

Menghadapi volatilitas pada saham-saham yang di-downgrade, Phintraco menyarankan diversifikasi ke sektor lain. Saham properti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan keuangan non-bank PT Panin Financial Tbk (PNLF) menjadi pilihan menarik untuk perdagangan sepekan ini.

Selain itu, saham defensif seperti PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan ritel PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAL) juga layak dicermati. Secara teknikal, saham-saham ini memiliki pola pergerakan yang potensial meskipun pasar sedang dibayangi sentimen negatif makro.

Phintraco menutup risetnya dengan daftar lengkap saham pilihan pekan ini. "Top Picks pekan ini: PANI, TLKM, PNLF, CMRY, INTP dan ERAL," tutup Phintraco, di mana TLKM menjadi satu-satunya saham terdampak Moody's yang masih direkomendasikan beli.