Tren Pasar

BREN, BYAN hingga DCII Keluar dari IHSG, Apa Dampaknya bagi Indeks?

  • BEI berencana mengeluarkan 80 saham HSC dari IHSG. Simak potensi dampaknya bagi bobot indeks, saham konglomerat, dan investor.
<p>Pekerja beraktivitas dengan latar belakang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 3 Agustus 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22 pada akhir sesi Senin (3/8/2020), setelah bergerak di rentang 4.928,47 &#8211; 5.157,27. Artinya, indeks sempat anjlok 4 persen dan terlempar dari zona 5.000. Risiko penurunan data perekonomian kawasan Asean termasuk Indonesia menjadi penyebab (IHSG) terkoreksi cukup dalam hari ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Pekerja beraktivitas dengan latar belakang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 3 Agustus 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22 pada akhir sesi Senin (3/8/2020), setelah bergerak di rentang 4.928,47 – 5.157,27. Artinya, indeks sempat anjlok 4 persen dan terlempar dari zona 5.000. Risiko penurunan data perekonomian kawasan Asean termasuk Indonesia menjadi penyebab (IHSG) terkoreksi cukup dalam hari ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mengeluarkan 80 saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Langkah ini berpotensi menjadi semacam detoksifikasi indeks dalam jangka panjang, terutama untuk mengurangi pengaruh pergerakan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi terhadap gambaran kinerja pasar secara keseluruhan.

Sejumlah saham yang masuk daftar tersebut terafiliasi dengan konglomerasi besar di Indonesia, mulai dari Grup Sinar Mas, Djarum, Salim, Barito, Lippo, hingga kelompok usaha lainnya. Saham-saham itu tidak akan dihapus dari perdagangan bursa, tetapi pergerakan harganya tidak lagi diperhitungkan dalam IHSG apabila kebijakan tersebut diberlakukan.

Langkah ini menjadi sorotan karena sejumlah saham HSC memiliki bobot cukup besar dalam indeks, sementara sebagian di antaranya mengalami koreksi tajam sepanjang 2026. Kondisi tersebut membuat pergerakan beberapa saham berkapitalisasi besar berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap IHSG.

Tim Riset Mirae Asset Sekuritas menilai pengeluaran saham HSC berpotensi membuat indeks lebih longgar dari tekanan saham-saham yang mengalami penurunan harga besar. Meski demikian, perubahan tersebut tidak serta-merta membuat IHSG melonjak karena BEI akan menyesuaikan pembagi indeks atau divisor.

“Pengeluaran saham HSC berpotensi positif bagi kinerja IHSG ke depan, mengingat sejumlah saham berbobot besar telah turun tajam sepanjang 2026,” ujar Mirae Asset Sekuritas, dalam keterangannya, dikutip Selasa, 20 Oktober 2026.

Mengapa Pencoretan Saham HSC Bisa Menjadi Detoksifikasi IHSG?

Secara konsep, IHSG digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga saham yang tercakup dalam indeks. Karena pengaruh setiap saham berkaitan dengan bobotnya, koreksi tajam pada saham berbobot besar dapat memberikan tekanan berarti terhadap indeks secara keseluruhan.

Persoalannya, saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi memiliki jumlah saham yang relatif terbatas untuk diperdagangkan secara bebas di publik. Kondisi tersebut dapat membuat likuiditas perdagangan lebih terbatas dan meningkatkan sensitivitas harga terhadap aktivitas transaksi tertentu.

Dengan mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG, BEI berupaya mengubah komposisi indeks agar tidak lagi dipengaruhi oleh pergerakan harga saham-saham tersebut. Dalam jangka panjang, langkah ini berpotensi membuat IHSG lebih representatif terhadap saham yang tetap menjadi konstituen indeks.

Saham HSC Berbobot Besar, Koreksinya Menekan IHSG

Data yang dikutip dari riset Mirae Asset Sekuritas menunjukkan sejumlah saham HSC memiliki bobot relatif besar terhadap IHSG, tetapi mengalami penurunan harga signifikan sepanjang tahun berjalan hingga 19 Oktober 2026.

PT DCI Indonesia Tbk (DCII), misalnya, memiliki estimasi bobot 3,82% terhadap IHSG, dengan koreksi harga 6,6% sejak awal tahun. Sementara itu, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) memiliki bobot sekitar 3,40%, tetapi harganya turun 33,9%.

Koreksi lebih dalam terjadi pada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang turun 81,1%, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), yang terkoreksi 81,9%. Keduanya merupakan saham yang terafiliasi dengan kelompok usaha besar.

Selain itu, PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) memiliki estimasi bobot 1,27% dan mencatatkan penurunan harga 69,8%. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) memiliki bobot sekitar 1,02%, dengan koreksi 35,2%.

Secara keseluruhan, enam saham tersebut—DCII, BYAN, BREN, DSSA, MORA, dan SRAJ—diperkirakan menyumbang sekitar 12,33% terhadap bobot IHSG. Angka ini menunjukkan besarnya potensi pengaruh saham-saham tersebut terhadap indeks ketika mengalami perubahan harga.

Apabila saham-saham itu tidak lagi menjadi bagian dari perhitungan IHSG, kontribusi langsung pergerakan harganya terhadap indeks akan hilang setelah penyesuaian berlaku. Dengan demikian, tekanan dari saham-saham tersebut tidak lagi tercermin secara langsung dalam pergerakan IHSG.

Dari Sinar Mas hingga Barito, Ini Saham Konglomerat yang Masuk Daftar

Dalam daftar saham HSC, Grup Sinar Mas milik keluarga Widjaja menjadi salah satu kelompok usaha dengan jumlah saham terbanyak. Lima saham yang masuk daftar adalah PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA).

Grup Mayapada yang dikendalikan Dato' Sri Tahir juga memiliki tiga saham dalam daftar, yakni PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA), PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ).

Sementara itu, Grup CT Corp yang dikendalikan Chairul Tanjung terafiliasi dengan PT Bank Mega Tbk (MEGA) dan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI). Grup Lippo memiliki keterkaitan dengan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO).

Dari kelompok usaha lainnya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terafiliasi dengan kelompok usaha Prajogo Pangestu. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) terafiliasi dengan Grup Djarum, sedangkan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) memiliki keterkaitan dengan Grup Salim.

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) merupakan perusahaan yang dikendalikan pengusaha Low Tuck Kwong, sedangkan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) terafiliasi dengan Grup Harita.

IHSG Tidak Otomatis Naik, Divisor Akan Disesuaikan

Meskipun pengeluaran saham HSC berpotensi mengurangi tekanan dari saham-saham yang terkoreksi tajam, kebijakan ini tidak otomatis membuat IHSG naik.

BEI perlu menyesuaikan divisor, yakni faktor pembagi dalam penghitungan indeks, agar perubahan komposisi saham tidak dengan sendirinya memunculkan lonjakan atau penurunan indeks yang semata-mata disebabkan oleh perubahan konstituen.

Setelah penyesuaian dilakukan, arah IHSG tetap bergantung pada pergerakan harga saham-saham yang masih masuk dalam perhitungan indeks. Sentimen pasar, kondisi ekonomi, kinerja emiten, dan arus modal tetap menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan indeks.

Di sisi lain, bobot relatif saham-saham yang bertahan dalam IHSG berpotensi meningkat setelah saham HSC dikeluarkan. Perubahan bobot ini dapat memengaruhi komposisi portofolio pengelola dana yang menjadikan IHSG sebagai acuan, bergantung pada mandat dan metode investasi masing-masing.

Bagi investor ritel, perubahan tersebut juga perlu dibaca secara hati-hati. Saham yang dikeluarkan dari IHSG tetap dapat diperdagangkan, sedangkan kenaikan bobot relatif saham yang bertahan tidak otomatis berarti harganya akan naik.

IHSG yang lebih tahan terhadap pengaruh saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi dapat menjadi tujuan jangka panjang, tetapi perbaikan kualitas indeks tidak bisa menggantikan kebutuhan akan tata kelola emiten yang baik, likuiditas pasar yang memadai, dan kepercayaan investor yang berkelanjutan.