Bitcoin Bangkit Didorong Aksi Borong Institusi, Mampukah Lawan Kutukan September'?
- Dua perusahaan investasi besar, Strategy dan Metaplanet, dilaporkan secara kolektif telah 'menyerok' lebih dari 5.000 BTC senilai sekitar US$562 juta. Aksi ini menjadi 'bensin' utama yang berhasil memulihkan sentimen pasar yang sempat lesu.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan taringnya. Setelah sempat tertekan di bawah US$108.000, aset kripto terbesar ini berhasil bangkit dan kini diperdagangkan stabil di atas level US$111.000. Pemulihan harga ini didorong oleh aksi borong masif dari para investor institusional.
Dua perusahaan investasi besar, Strategy dan Metaplanet, dilaporkan secara kolektif telah 'menyerok' lebih dari 5.000 BTC senilai sekitar US$562 juta. Aksi ini menjadi 'bensin' utama yang berhasil memulihkan sentimen pasar yang sempat lesu.
Namun, di tengah momentum bullish ini, Bitcoin kini dihadapkan pada tantangan terbesarnya: 'kutukan' bulan September yang secara historis selalu menjadi bulan yang berat. Lantas, mampukah Bitcoin mematahkan mitos ini? Mari kita bedah tuntas.
1. Aksi Borong Sultan Institusi
Menurut Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, pemulihan harga Bitcoin kali ini didukung kuat oleh aksi beli dari investor institusional. Mereka dengan cerdik memanfaatkan momen harga diskon selama periode liburan panjang untuk mengakumulasi aset.
Langkah Strategy dan Metaplanet yang secara kolektif memborong Bitcoin senilai lebih dari setengah miliar dolar AS menunjukkan kepercayaan yang sangat kuat. Aksi ini menjadi sinyal bagi pasar bahwa para 'pemain besar' melihat potensi jangka panjang yang solid di balik aset digital ini.
2. Sinyal Teknikal & Kekuatan Jaringan
Dari sisi teknikal, Panji Yudha melihat adanya sinyal yang sangat positif. Menurutnya, Bitcoin saat ini sedang dalam proses breakout atau menembus keluar dari momentum tren turun (downtrend) yang terjadi sebelumnya.
“Jika BTC berhasil ditutup di atas level US112.000,maka ada potensi untuk melanjutkan kenaikan menuju MA−50 dan resistance US$116.000,” jelas Panji dalam risetnya, Rabu, 3 September 2025.
Sinyal positif ini juga didukung oleh fundamental jaringan Bitcoin yang semakin kokoh. Pada Agustus 2025, hashrateatau kekuatan komputasi jaringan Bitcoin berhasil mencetak rekor tertinggi baru, yang menurut JPMorgan mencerminkan tingkat keamanan dan kompetisi penambangan yang terus meningkat.
3. Hantu Bernama Kutukan September
Meskipun sinyal teknikal dan fundamentalnya kuat, ada satu 'hantu' yang membayangi pergerakan Bitcoin bulan ini. Secara historis, September dikenal sebagai bulan yang 'berdarah-darah' bagi Bitcoin.
Berdasarkan data dari Coinglass, rata-rata kinerja bulanan Bitcoin pada bulan September adalah penurunan sebesar 3,77%. Pola historis inilah yang menjadi tantangan psikologis terbesar yang harus dilawan oleh para bulls atau pelaku pasar yang optimistis.
Ujian sesungguhnya akan datang dari rilis serangkaian data makroekonomi AS pekan ini, terutama laporan ketenagakerjaan. Data inilah yang akan menentukan apakah pola 'September bear' akan kembali terulang atau justru berhasil dipatahkan pada tahun 2025.
4. Skenario Cuan dari The Fed
Di sinilah letak harapan terbesar para investor. Panji Yudha melihat bahwa data ekonomi AS yang melemah justru bisa menjadi 'bensin' baru bagi reli Bitcoin. Data manufaktur yang menunjukkan kontraksi, misalnya, dapat memicu harapan akan kebijakan moneter yang lebih longgar.
Skenario 'cuan' utamanya adalah jika laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis nanti ternyata lebih lemah dari perkiraan. Data yang melemah akan memberikan tekanan besar bagi bank sentral AS, The Fed, untuk segera memangkas suku bunga acuannya.
Jika The Fed benar-benar memangkas suku bunga, ini akan menjadi katalis yang sangat positif bagi pasar aset berisiko seperti kripto. Suku bunga yang lebih rendah akan membuat investor beralih dari dolar AS ke aset-aset dengan potensi imbal hasil yang lebih tinggi, termasuk Bitcoin.

Alvin Bagaskara
Editor
