Tren Pasar

AS Tangkap Maduro: Emas Pesta, Bank Kakap Merana

  • Efek penangkapan Maduro, emas tembus US$4.360 & saham BRMS terbang 9%. Awas rotasi sektor, saham bank justru anjlok. Simak tips investasi anti-FOMO.
Papan elektronik menunjukkan indeks saham Shanghai dan Shenzhen, di distrik keuangan Lujiazui, setelah wabah penyakit virus korona (COVID-19), di Shanghai, China, 25 Oktober 2022.
Papan elektronik menunjukkan indeks saham Shanghai dan Shenzhen, di distrik keuangan Lujiazui, setelah wabah penyakit virus korona (COVID-19), di Shanghai, China, 25 Oktober 2022. (Reuters/Aly Song)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Senin ini, 5 Januari 2026, menjadi momen "penghakiman pasar". Investor yang menahan napas sepanjang akhir pekan akibat berita operasi militer AS dan penangkapan Presiden Venezuela, akhirnya bereaksi. Akumulasi kepanikan selama 48 jam libur bursa langsung tumpah ruah begitu bel pembukaan berbunyi.

Fenomena klasik Weekend Effect memaksa investor melakukan eksekusi order secara brutal. Namun, terjadi anomali mencolok: Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melaju hijau menembus level 8.700-an berkat dorongan saham komoditas, sektor perbankan raksasa justru 'kebakaran'.

Info saja, informsi tersebut yang diistilahkan sebagai Black Swan dari Venezuela memicu rotasi arus dana yang masif. Pelaku pasar ramai-ramai melepas saham perbankan yang likuid (Cash Out) untuk memburu aset aman (Safe Haven) seperti emas yang harganya sedang gap upgila-gilaan.

1. Skenario 'Chaos' & Target US$5.000

Harga emas dunia pagi ini langsung gap up menembus level US$4.360 per ons troi. Kenaikan drastis ini adalah respons instan pasar terhadap risiko kekosongan kekuasaan di Caracas, Venezuela. Risiko sabotase ladang minyak oleh loyalis Maduro menjadi hantu utama yang memicu ketakutan pasar global saat ini akan krisis energi.

Angka psikologis US$5.000 dinilai sangat mungkin tercapai mengingat eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan militer Amerika Serikat seringkali berdampak panjang pada inflasi global. 

Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi memberikan peringatan keras mengenai potensi kenaikan lanjutan ini. "Emas bisa tembus US$5.000 di kuartal pertama jika transisi kekuasaan berjalan rusuh," kata Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi pada Senin, 5 Januari 2026.

Lonjakan harga yang terjadi dinilai sebagai antisipasi wajar terhadap situasi politik yang tidak menentu di negara penghasil minyak. Investor global memilih mengamankan aset mereka ke dalam instrumen lindung nilai daripada mengambil risiko. "Respons atas ketidakpastian nasib Venezuela pasca-Sabtu kelabu," tambah Ibrahim.

2. Perlindungan Diri di Lantai US$4.600

Senada dengan Ibrahim, aksi borong emas pagi ini dinilai sebagai respons investor yang tidak mau ambil risiko melihat perkembangan geopolitik yang semakin liar. Emas menjadi pilihan utama karena sifatnya yang tidak terikat pada kewajiban pembayaran pihak manapun. "Bentuk perlindungan diri investor," nilai Analis Doo Financial Futures Lukman Leong.

Lukman menilai bahwa target harga emas kini telah membentuk lantai baru yang jauh lebih tinggi dalam pergerakan teknikalnya. Kisaran harga US$4.300 hingga US$4.600 kini menjadi level support baru bagi pergerakan harga emas dunia. Level ini dianggap sebagai benteng pertahanan terakhir investor global di tengah badai ketidakpastian politik.

Pasar tampaknya enggan mengambil risiko melihat perkembangan geopolitik yang semakin tidak terprediksi arahnya. Kenaikan harga emas menjadi cerminan ketakutan pasar terhadap eskalasi konflik yang lebih luas ke wilayah lain. "Target harga US$4.300–US$4.600 kini menjadi lantai baru," pungkas Lukman.

3. BRMS Mengamuk, ANTM Panen Raya

Efek kejut berita Sabtu lalu langsung membuat saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melesat tajam bak roket. BRMS menjadi bintang utama sesi pagi dengan lonjakan harga mencapai 9,32% ke level Rp1.290. Kenaikan agresif hampir dua digit ini adalah bukti nyata bahwa spekulan telah mengincar saham ini sejak berita penangkapan Maduro pecah.

Aksi Hajar Kanan atau HAKA terjadi begitu pasar dibuka, menandakan akumulasi serius dari pelaku pasar yang yakin konflik berdurasi panjang. Level harga Rp1.290 terbentuk dari volume pembelian masif yang tertahan selama libur akhir pekan kemarin. Spekulasi pasar meyakini valuasi cadangan mineral BRMS akan terkerek signifikan oleh sentimen komoditas global yang memanas.

Tak mau kalah, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mencatatkan kenaikan solid sebesar 3,43% ke level Rp3.340 per saham. Dua raksasa lain, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), juga kompak menghijau pagi ini. Kekompakan sektor tambang ini mengonfirmasi bahwa institusi besar sedang melakukan rotasi aset besar-besaran dari sektor lain ke komoditas.

4. Rotasi Ekstrem: Bank Kakap 'Kebakaran'

Di balik pesta pora sektor emas, sektor perbankan raksasa justru mengalami nasib tragis pagi ini. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi korban paling parah dengan koreksi lebih dari 2,5% ke level Rp4.260. Tekanan jual asing terasa sangat deras, memaksa BBNI memimpin penurunan di jajaran perbankan The Big 4.

Saham yang biasanya menjadi benteng pertahanan indeks seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pun tak berdaya. BBCA terlihat bergerak sideways dengan kecenderungan melemah di harga Rp8.025. 

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga kompak memerah. Kondisi ini menciptakan anomali pasar di mana IHSG hijau tetapi saham penggerak utamanya justru merah membara.

Fenomena ini mengindikasikan adanya rotasi sektor jangka pendek yang agresif oleh para pelaku pasar. Arus dana tampaknya ditarik paksa dari sektor finansial yang likuid untuk membiayai pembelian di sektor komoditas. Investor rela melakukan profit taking di BBRI dan kawan-kawan demi mengejar kereta emas yang sedang melaju kencang.

5. Seni Menangkap Pisau Jatuh

Kejadian Sabtu Kelabu Venezuela memberikan pelajaran mahal bagi investor, khususnya Gen Z, mengenai bahaya membeli saham saat gap up. Saat saham komoditas langsung loncat tinggi di pembukaan Senin, sebaiknya jangan langsung tergiur untuk membeli di harga pucuk atau FOMO

Seringkali harga akan turun dulu menutup celah (gap) karena trader jangka pendek melakukan aksi ambil untung (profit taking). Di sisi lain, koreksi tajam pada saham perbankan Big Caps seperti BBNI dan BBRI justru membuka peluang emas bagi investor jangka panjang.  

Namun, strategi "menangkap pisau jatuh" sangat berisiko jika dilakukan terburu-buru saat tekanan jual asing masih deras. Sebaiknya tunggu hingga harga saham perbankan mulai stabil atau bergerak sideways sebelum mulai melakukan pembelian bertahap atau cicil beli.

Terakhir, selalu sisakan porsi uang tunai atau Cash is King di Rekening Dana Nasabah (RDN) dalam situasi geopolitik yang tidak menentu. Uang tunai ini berguna sebagai peluru cadangan untuk bermanuver jika pasar tiba-tiba berbalik arah atau ada berita susulan yang lebih heboh. Fleksibilitas adalah kunci bertahan hidup di pasar modal saat badai perang sedang berkecamuk.

> Disclaimer: Artikel ini adalah produk jurnalistik dan tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan Sobat TrenAsia. Lakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan finansial.