ARCI Rela 'Bakar' Uang Gede Demi Potensi Sulawesi
- Emiten emas ARCI rela bakar uang di Sulawesi demi harta karun ini. Sepanjang 2025 sahamnya meroket 639% dengan valuasi PBV 7x. Saat ini masih wajar atau mahal?

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Di tengah rekor harga emas dunia yang menyentuh level US$4.600 per troy ounce pada awal 2026, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) mencuat dengan valuasi mencengangkan. Pergerakan harga saham emiten milik Grup Rajawali ini sukses mencuri panggung pasar modal.
Fenomena ini memantik perdebatan sengit di kalangan pelaku pasar mengenai kewajaran harga saham ARCI saat ini. Investor mempertanyakan apakah harga tersebut sudah terlalu mahal atau justru merupakan harga premium yang layak dibayar untuk sebuah cerita pertumbuhan agresif perusahaan.
Phintraco Sekuritas membedah valuasi ARCI yang kini jauh di atas rata-rata industri sejenis. Perusahaan efek ini menyoroti bahwa harga premium ini didukung oleh aktivitas eksplorasi masif senilai puluhan juta dolar AS di Sulawesi Utara demi keberlanjutan cadangan masa depan.
1. Valuasi Langit vs Bumi
ARCI kini diperdagangkan dengan rasio PBV 7,87x, angka yang sangat tinggi dibandingkan rata-rata sektor material dasar. Valuasi ini jauh melampaui PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang hanya diperdagangkan di kisaran 1,34x hingga 1,4x meskipun sama-sama menikmati kenaikan harga komoditas.
Posisi ARCI bahkan lebih mahal dibandingkan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang dikenal memiliki banyak proyek strategis. MDKA saat ini hanya diperdagangkan di kisaran PBV 3,6x hingga 4,0x, menjadikan ARCI sebagai emiten dengan valuasi paling premium di sektornya.
Dari sisi profitabilitas, pasar bersedia membayar 28 kali lipat laba per saham ARCI saat ini. Tim riset Phintraco mencatat dalam laporannya, "Saat ini, ARCI diperdagangkan pada PBV 7,87x, lebih tinggi dibanding PBV sektor basic materialsdi 2,61x," dalam risetnya pada Selasa, 13 Januari 2026.
2. Investasi Eksplorasi Jumbo
Phintraco Sekuritas menilai tingginya valuasi tersebut bukan tanpa alasan yang jelas dari manajemen. Perseroan tercatat telah merogoh kocek sangat dalam sebesar US$10 juta atau sekitar Rp150 miliar sepanjang periode 2025 khusus untuk membiayai aktivitas eksplorasi baru.
Dana jumbo tersebut dialokasikan untuk mencari sumber cadangan emas baru di tengah tingginya harga jual global. Strategi counter-cyclical ini dinilai cerdas karena memanfaatkan arus kas yang kuat untuk memastikan kelangsungan hidup tambang dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Aktivitas ini dilakukan melalui entitas anak usaha di Tambang Emas Toka Tindung, Sulawesi Utara. Phintraco menyoroti hasil awal langkah agresif ini, "Hasil pengeboran menunjukkan sejumlah temuan signifikan dengan interval emas berkadar tinggi dan ketebalan yang cukup panjang."
3. Misi Masif di Sulawesi Utara
Fokus kegiatan eksplorasi dilakukan secara intensif di Koridor Timur dan Koridor Barat wilayah tambang. ARCI telah melakukan pengeboran di 397 titik berbeda dengan total kedalaman mencapai 85.893 meter, setara dengan jarak tempuh perjalanan darat dari Jakarta hingga Purwakarta.
Upaya masif ini bertujuan menemukan deposit emas berkadar tinggi atau high-grade yang menjadi kunci efisiensi produksi. Tanpa adanya temuan cadangan baru yang signifikan, sebuah tambang hanyalah aset menyusut yang nilainya akan terus tergerus seiring berjalannya waktu operasional.
Temuan cadangan baru ini menjadi justifikasi utama mengapa investor berani membayar harga premium. Phintraco menganalisis dampaknya, "Membuka peluang peningkatan sumber daya, memperpanjang umur tambang, serta mendukung prospek produksi dan fundamental perusahaan."
4. Apakah Valuasi Premium?
Secara rasio angka statis, harga saham ARCI memang terlihat mahal dibandingkan kompetitor terdekatnya. Namun, pasar saham selalu bekerja berdasarkan ekspektasi masa depan, di mana investor membayar potensi pertumbuhan dari cadangan emas baru yang sedang dikejar oleh manajemen perseroan.
Harga premium saat ini dianggap sebagai tiket masuk bagi investor yang percaya pada keberhasilan eksplorasi tersebut. Jika dana US$ 10 juta sukses dikonversi menjadi cadangan terbukti, maka valuasi tinggi saat ini akan terjustifikasi oleh peningkatan aset riil.
Phintraco melihat prospek positif dari upaya manajemen menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang. Dalam risetnya disimpulkan, "Valuasi premium ini mencerminkan prospek usaha ARCI yang positif di tengah potensi penguatan sumber daya dan cadangan emas Perseroan kedepan."
5. Multibagger 639% Setahun
Asal tahu saja, kinerja saham ARCI mencatatkan rekor fantastis dengan status multibagger dalam satu tahun terakhir. Data perdagangan menunjukkan saham ini telah melesat hingga 639% dari level terendah di Rp228 per lembar, didorong oleh momentum kenaikan harga emas global yang sangat kuat.
Pada perdagangan Sesi I Selasa, 13 Januari 2025, harga saham ARCI bergerak konsolidasi tipis di kisaran Rp1.770 hingga Rp1.790. Meskipun terkoreksi sekitar 0,5% hingga 1,1% hari ini, tren bullish mayor masih terjaga dengan kenaikan performa mingguan yang tercatat positif sebesar 5,25% di pasar reguler.
Sementara itu, performa enam bulan terakhir juga menunjukkan pembalikan arah atau turnaround yang sangat masif sebesar 216%. Investor merespons positif perbaikan kinerja keuangan perseroan. Dengan demikian, saham berkodekan ARCI menunjukkan tren Bullish Mayor yang sangat kuat dalam satu tahun terakhir.

Alvin Bagaskara
Editor
