Tren Pasar

Indeks ESG Red Flag? Asing Serok Rp2,2 T ke BBRI hingga ANTM

  • IHSG tembus 9.000 tapi Indeks SRI-KEHATI malah lesu? Plot twist! Asing justru borong BBRI sampai ANTM Rp2,2 triliun. Simak anomali saham ESG di awal 2026.
KEHATI ESG Award - Panji 5.jpg
Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) menobatkan 13 perusahaan sebagai pemenang penghargaan Environmental, Social, and Corporate Governance (ESG) Award 2023 By KEHATI yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa, 30 Juli 2024. Foto : Panji Asmoro (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pekan pertama perdagangan tahun 2026 menyajikan anomali mencolok di Bursa Efek Indonesia. Di tengah euforia IHSG yang mencetak sejarah baru menembus level 9.000, Indeks SRI-KEHATI justru kehilangan tenaga. Indeks saham berkelanjutan ini terkoreksi 0,28% ke level 381,33 pada periode 5-9 Januari.

Meskipun indeks acuan ESG ini memerah, data "di balik layar" menunjukkan pergerakan yang berlawanan. Investor asing justru agresif melakukan akumulasi pada saham-saham konstituen utama. Tercatat arus dana masuk (Net Foreign Buy) mengalir deras mencapai nilai total fantastis sebesar Rp2,2 triliun dalam sepekan.

Kondisi ini mengindikasikan adanya rotasi sektoral yang sangat agresif di awal tahun. Sementara investor domestik memburu saham komoditas demi capital gain instan, investor institusi asing justru memanfaatkan koreksi harga. Mereka mengumpulkan saham blue chip ESG yang fundamentalnya teruji di harga diskon.

1. BBRI: Magnet Utama Modal Global

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kembali menunjukkan taringnya sebagai favorit manajer investasi global. BBRI mencatatkan Net Buy asing tertinggi mencapai Rp644,44 miliar pekan lalu. Aksi borong masif ini sukses mengerek harga saham BBRI naik 1,1% ke level Rp3.680 per lembar.

Kenaikan BBRI sangat krusial bagi stabilitas pasar modal nasional saat ini. Mengingat bobotnya yang sangat besar dalam indeks SRI-KEHATI, penguatan BBRI berfungsi sebagai bantalan penahan jatuh. Investor asing tampaknya masih menaruh kepercayaan besar pada prospek penyaluran kredit mikro di tahun 2026.

Secara teknikal, akumulasi asing pada saham BBRI memberikan sinyal positif bagi sektor perbankan. Meskipun secara indeks SRI-KEHATI melemah, kekuatan fundamental BBRI tetap menjadi pilihan utama. Investor institusi melihat valuasi bank pelat merah ini masih sangat menarik untuk dikoleksi dalam jangka panjang.

2. ANTM: Kepercayaan Pasca Evaluasi

Kejutan datang dari PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang menduduki posisi kedua beli asing. Emiten pelat merah ini mencatat Net Buy asing sebesar Rp627,87 miliar dalam sepekan. Sinyal positif ini muncul tepat setelah ANTM dipastikan bertahan sebagai konstituen SRI-KEHATI pasca Evaluasi Mayor.

Meskipun sektor pertambangan sering disorot isu lingkungan, ANTM dinilai memiliki skor ESG memadai. Posisi strategisnya dalam hilirisasi mineral kritis seperti nikel dan emas menjadi daya tarik utama. Asing enggan melepas saham ini karena dianggap memiliki peran vital dalam rantai pasok global.

Keberhasilan ANTM bertahan dalam indeks berkelanjutan menjadi validasi atas tata kelola perusahaan yang baik. Langkah asing memborong ANTM menunjukkan bahwa standar ESG kini menjadi filter investasi yang sangat ketat. Emiten ini membuktikan mampu menyeimbangkan eksploitasi mineral dengan standar keberlanjutan yang dipersyaratkan.

3. ASII: Diversifikasi di Konglomerasi

Investor asing juga melakukan diversifikasi portofolio ke saham PT Astra International Tbk (ASII). Raksasa otomotif ini mencatatkan nilai beli bersih oleh investor mancanegara sebesar Rp489,8 miliar. Valuasi ASII yang masih dianggap atraktif dibanding pemain regional lainnya menjadi alasan utama pengumpulan saham.

Posisi ASII dalam ekosistem kendaraan listrik di Indonesia memperkuat profil ESG perusahaan tersebut. Sebagai konglomerasi terbesar, Astra memiliki standar tata kelola yang sangat matang bagi investor institusi. Hal ini menjadikannya instrumen wajib bagi pengelola dana global yang mengedepankan prinsip investasi berkelanjutan.

Secara fundamental, diversifikasi asing ke ASII menunjukkan optimisme terhadap daya beli domestik tahun 2026. Bisnis otomotif dan alat berat yang dikelola Astra masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Kehadiran dana asing di saham ini mempertegas status ASII sebagai barometer kekuatan korporasi di Indonesia.

4. BBCA: Instrumen Defensif Wajib

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap menjadi pilihan instrumen defensif wajib bagi dana asing. Pekan lalu, BBCA mencatatkan Net Buy sebesar Rp454,28 miliar di tengah volatilitas pasar. Stabilitas kinerjanya menjadikan BBCA tempat "parkir" paling aman sembari menunggu arah tren pasar yang jelas.

Kekuatan BBCA terletak pada efisiensi operasional dan loyalitas basis nasabah yang sangat luas. Dalam perspektif ESG, BBCA unggul melalui transparansi laporan dan inisiatif keuangan berkelanjutan. Aspek tata kelola yang sangat bersih membuat investor asing tidak ragu untuk terus menambah porsi kepemilikan.

Meskipun kenaikan harga sahamnya cenderung stabil, BBCA memberikan kepastian di tengah fluktuasi indeks SRI-KEHATI. Arus dana asing yang konsisten masuk membuktikan bahwa Smart Money tetap memprioritaskan keamanan aset. BBCA tetap menjadi pilar utama penyangga portofolio berbasis keberlanjutan di bursa saham domestik.