Tren Pasar

Anomali! Rupiah Keok, Saham BBNI, BMRI, ARTO Menguat

  • Rupiah tembus Rp16.961, tapi saham bank kompak naik. BBNI pimpin reli, disusul BMRI dan ARTO. Ekonom INDEF ungkap penyebab dolar langka.
Aktifitas Bursa Saham - Panji 5.jpg
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Mail Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta 17 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham sektor perbankan terpantau bergerak perkasa di zona hijau pada perdagangan sesi pertama Senin, 19 Januari 2026. Fenomena penguatan ini terjadi justru di tengah tekanan berat pada nilai tukar Rupiah yang semakin melemah hingga menembus level psikologis Rp16.961 per dolar Amerika Serikat.

Anomali pergerakan pasar ini menarik perhatian pelaku pasar karena saham perbankan biasanya sangat sensitif terhadap fluktuasi kurs mata uang. Namun, data perdagangan menunjukkan investor tetap agresif memburu saham BBNI, BMRI, hingga ARTO, mengabaikan sentimen negatif yang terjadi di pasar valuta asing.

Hingga penutupan sesi siang pukul 11.59 WIB, mayoritas emiten bank pelat merah mencatatkan kenaikan harga yang cukup signifikan. Kondisi fundamental emiten yang dinilai solid serta valuasi yang masih atraktif menjadi faktor pendorong utama aksi beli investor di tengah volatilitas nilai tukar yang tinggi.

1. BBNI dan BMRI Pimpin Kenaikan

Kenaikan tertinggi di jajaran bank BUMN dipimpin oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang melonjak 2,64% ke posisi Rp4.660 per saham. Saham ini dibuka di level Rp4.540 dan sempat menyentuh level tertinggi intraday di angka Rp4.720, mencerminkan tingginya minat beli pelaku pasar.

Menyusul di posisi kedua, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turut mencatatkan penguatan sebesar 2,20% ke level Rp5.100 per saham hingga siang hari. Sepanjang sesi pertama, saham bank berlogo pita emas ini bergerak aktif di kisaran harga Rp4.980 hingga Rp5.100 di papan perdagangan.

2. Pergerakan Saham BBRI

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga tidak ketinggalan memanfaatkan momentum dengan kenaikan 1,31% ke level Rp3.870 per saham. Saham bank yang fokus pada segmen UMKM ini dibuka pada harga Rp3.850 dan terus bergerak positif di zona hijau sepanjang perdagangan sesi pertama berlangsung.

Pergerakan harga BBRI terpantau cukup fluktuatif namun terjaga dalam rentang area Rp3.810 hingga Rp3.900 per lembar saham hingga jeda siang. Stabilitas harga ini menunjukkan bahwa tekanan jual akibat sentimen pelemahan Rupiah tidak terlalu signifikan memengaruhi keputusan investor pada saham bank pelat merah ini.

3. Dinamika Bank Swasta

Berbeda dengan bank BUMN, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) cenderung bergerak stagnan atau mendatar di posisi Rp8.075 per saham. Saham bank swasta terbesar ini sempat mengalami tekanan jual sesaat hingga menyentuh level terendah harian di Rp8.025, sebelum akhirnya kembali ke posisi impas.

Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) berhasil mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan tipis 0,83% ke posisi Rp1.825 per saham. Pergerakan saham BNGA relatif stabil di rentang sempit antara Rp1.810 hingga Rp1.830, mencerminkan pergerakan yang lebih defensif dibandingkan saham perbankan lainnya.

4. Divergensi Bank Digital

Sektor bank digital menunjukkan pergerakan yang beragam, di mana PT Bank Jago Tbk (ARTO) berhasil menguat 1,57% ke level Rp1.935. Saham bank digital ini bergerak cukup lincah dalam kisaran harga Rp1.895 hingga Rp1.970 sepanjang sesi perdagangan pertama dengan valuasi P/E 112,97 kali.

Kontras dengan ARTO, saham PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) justru terkoreksi 0,67% ke level Rp1.485 per saham menjelang siang. Bank digital milik grup CT Corp ini bergerak lambat di rentang Rp1.450 hingga Rp1.510, gagal mengikuti tren penguatan mayoritas saham perbankan konvensional.

5. Penyebab Rupiah Terpuruk

Menanggapi pelemahan kurs yang kontras dengan kenaikan saham bank, Ekonom INDEF, Esther Sri Astuti, menilai tekanan Rupiah dipicu oleh faktor fundamental pasokan dolar yang ketat. “Menguatnya indeks Dolar AS akibat geopolitik global membuat mata uang emerging market ditinggalkan, sementara kebutuhan dolar domestik justru melonjak,” jelasnya ketika dihubungi TrenAsia.id belum lama ini.

Esther menyoroti adanya ketimpangan nyata antara permintaan dolar untuk pembayaran utang dan impor yang tidak diimbangi aliran masuk devisa. Hukum pasar berlaku mutlak; saat permintaan tinggi namun pasokan terbatas, Rupiah dipastikan terdepresiasi menuju level ekuilibrium barunya, terlepas dari sentimen positif pasar saham.