Big 4 Banks Comeback: Ini Target Harga BBRI hingga BMRI
- Momentum comeback Big 4 Banks! Analis pasang target BBCA hingga Rp10.000 dan BBRI Rp5.000. Cek rekomendasi lengkap dan target harga BMRI serta BBNI di sini.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham perbankan berstatus blue chip kembali unjuk gigi pada perdagangan sesi pertama Senin, 19 Januari 2026, melanjutkan tren pemulihan awal tahun. Kenaikan kompak ini tidak hanya memperbaiki kinerja harian, tetapi juga memperkokoh laju pertumbuhan tahunan yang menjadi indikator utama kepercayaan investor jangka panjang.
Momentum positif ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor perbankan mulai meninggalkan tekanan berat yang terjadi sepanjang tahun 2025 lalu. Investor institusi tampak mulai agresif melakukan akumulasi pada saham-saham berkapitalisasi besar guna memperbaiki imbal hasil portofolio mereka di awal tahun fiskal ini.
Sejumlah analis yang dihimpun TrenAsia.id menilai pergerakan harga saat ini mulai mencerminkan valuasi fundamental yang sebenarnya, setelah sebelumnya terdiskon cukup dalam. Optimisme pasar terhadap perbaikan kinerja emiten bank di tahun 2026 menjadi bahan bakar utama bagi reli harga saham di papan perdagangan.
1. BBNI Pimpin Laju YTD, BMRI Kejar Ketertinggalan
Hingga penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) memimpin reli dengan kenaikan 2,64% ke level Rp4.660. Lonjakan ini semakin mengukuhkan posisi BBNI sebagai emiten bank dengan performa tahunan terbaik, memperlebar akumulasi kenaikan sejak awal tahun yang positif.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik 2,20% ke posisi Rp5.100, sebuah momentum krusial untuk membalikkan kinerja tahunan. Kenaikan signifikan ini berpotensi menghapus koreksi tahun berjalan yang sempat menyentuh zona merah pada pekan lalu, membawa BMRI kembali ke jalur positif.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga menguat 1,31% ke level Rp3.870, menjaga tren positif tahunan yang stabil di kisaran 5%. Sayangnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpantau stagnan di level Rp8.075, menahan laju pertumbuhan tahunannya untuk sementara waktu.
2. Prospek BBCA dan BBRI di Mata Analis
Meskipun stagnan pada perdagangan hari ini, analis Indo Premier Sekuritas David Kurniawan tetap merekomendasikan Buy untuk BBCA dengan target harga Rp10.000. Laju pertumbuhan tahunan BBCA dinilai akan tetap solid dalam jangka panjang, ditopang oleh basis nasabah transaksional yang kuat dan biaya dana yang efisien.
Untuk BBRI, analis OCBC Sekuritas Budi Rustanto menyematkan target harga Rp5.000 dengan rekomendasi Buy yang patut dicermati investor. Konsistensi kenaikan harga sejak awal Januari mencerminkan apresiasi pasar terhadap strategi perseroan yang fokus pada segmen mikro, yang menjadi mesin pertumbuhan laba berkelanjutan.
Kedua bank ini dinilai memiliki ketahanan atau resilience yang teruji dalam menghadapi berbagai siklus ekonomi yang dinamis. Stabilitas kinerja keuangan mereka menjadi alasan utama mengapa investor asing kerap menjadikan saham BBCA dan BBRI sebagai instrumen wajib dalam keranjang investasi tahunan mereka.
3. Strategi Cermat untuk BMRI dan BBNI
Analis Henan Putihrai Sekuritas, James Stanley Widjadja, merekomendasikan Hold untuk saham BMRI dengan target harga Rp5.300 per lembar. Investor disarankan mencermati apakah pembalikan arah kinerja tahunan BMRI hari ini mampu bertahan secara konsisten di tengah tantangan pertumbuhan laba bersih yang sempat terkoreksi.
Di sisi lain, performa impresif BBNI mendapatkan rekomendasi Buy dari Victor Stefano, analis BRI Danareksa Sekuritas, dengan target harga Rp4.700. Laju kenaikan harga saham BBNI yang melampaui rekan-rekannya secara tahun berjalan dinilai wajar mengingat valuasi sahamnya yang masih relatif lebih murah dibandingkan industri.
Strategi transformasi yang dijalankan manajemen BBNI mulai membuahkan hasil nyata yang diapresiasi oleh pelaku pasar modal domestik maupun asing. Konsistensi pertumbuhan kredit dan perbaikan kualitas aset menjadi katalis positif yang menjaga tren kenaikan harga saham tetap berada di jalur hijau sepanjang tahun.
4. Makroekonomi Topang Laju Tahunan
Perbaikan kinerja saham bank blue chip secara tahunan sangat erat kaitannya dengan kondisi makroekonomi yang semakin kondusif pada awal tahun 2026. Stabilitas nilai tukar Rupiah dan inflasi yang terkendali memberikan ruang bagi perbankan untuk memacu penyaluran kredit tanpa khawatir akan pemburukan kualitas aset.
Masuknya kembali aliran dana asing atau foreign inflow secara konsisten sejak awal Januari menjadi penopang utama penguatan harga saham berkapitalisasi jumbo. Sentimen positif ini diharapkan terus berlanjut, menjaga agar kinerja tahunan emiten perbankan tidak kembali terperosok ke zona merah seperti tahun sebelumnya.
Investor disarankan untuk tetap menggunakan momentum koreksi sebagai peluang akumulasi atau buy on weakness guna memaksimalkan potensi keuntungan tahunan. Saham perbankan tetap menjadi proksi terbaik untuk menikmati pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama di tengah siklus pemulihan yang sedang berlangsung saat ini.

Alvin Bagaskara
Editor
