Anomali Harga Emas, Tetap Perkasa Lawan Tekanan Suku Bunga Tinggi
- Harga emas dunia tembus rekor 5.000 Dolar AS saat tensi Teluk Persia memanas. Simak analisis anomali logam mulia yang tetap perkasa menguat 16% meski suku bunga naik tinggi.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Harga emas dunia sukses mencetak sejarah baru dengan bertahan kokoh atas level psikologis 5.000 Dolar AS per troy ounce hari ini. Fenomena unik tersebut terjadi saat pelaku pasar mencermati risiko inflasi tinggi akibat lonjakan harga energi dunia.
Data Bloomberg menunjukkan harga emas pasar spot merangkak naik 0,4% menyentuh level 5.026,75 Dolar AS. Sementara kontrak emas Comex menguat 0,81% menuju angka 5.040,40 Dolar AS mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset lindung nilai saat kondisi krisis global.
Penguatan logam mulia terjadi berbarengan lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya serangan Iran terhadap infrastruktur energi sekitar Teluk Persia. Ketegangan geopolitik semakin memanas saat Amerika Serikat bersiap merilis cadangan minyak darurat demi mengamankan jalur pelayaran Selat Hormuz.
Tersandera Krisis Teluk Persia
Perang antara pihak Amerika Serikat beserta Israel melawan Iran memasuki pekan ketiga sehingga memicu kekhawatiran stagflasi global. Peluang bank sentral Federal Reserve memangkas suku bunga semakin mengecil karena fokus utama otoritas moneter beralih menjaga stabilitas harga energi.
Suku bunga tinggi biasanya menjadi musuh utama logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga harian bagi pemegang. Namun ketidakpastian geopolitik luar biasa terus menopang permintaan emas sebagai instrumen penyimpan nilai paling aman sekarang.
Harga emas tercatat masih membukukan kenaikan fantastis sekitar 16% sejak awal tahun 2026 meskipun momentum penguatan melambat. Krisis Teluk Persia memicu kekhawatiran kombinasi pertumbuhan ekonomi melambat beserta inflasi tinggi yang memperkuat daya tarik logam kuning tersebut.
Benteng Pertahanan Investor China
Permintaan emas fisik terpantau tetap sangat kuat wilayah China meskipun harga global sedang berada level tertinggi sejarah. Investor negeri tirai bambu terus menambah kepemilikan emas melalui produk investasi dana bursa setiap hari sejak masa libur.
Total tambahan modal investasi emas pasar China mencapai angka lebih 17 miliar Yuan atau setara 2,5 miliar Dolar AS. Perhitungan resmi menunjukkan aliran dana masuk tetap deras seiring keinginan masyarakat mengamankan kekayaan dari risiko pelemahan nilai tukar.
Head of Market Analysis StoneX Financial Rhona O’Connell mengatakan solidnya daya beli warga tirai bambu menjadi pilar penopang harga logam mulia. "Permintaan emas di China masih bertahan cukup kuat dalam beberapa pekan terakhir," ungkapnya dikutip pada Selasa, 17 Maret 2026.
Namun Rhona menambahkan bahwa penguatan nilai tukar mata uang Yuan turut memberikan tekanan teknis terhadap pergerakan harga domestik. Dinamika nilai tukar tersebut menjadi faktor penyeimbang saat harga emas global terus berusaha menembus batas rekor tertinggi.
Prediksi Gerak Jangka Panjang
Momentum kenaikan harga emas memang terlihat melambat sejak perang pecah tanggal 28 Februari 2026 lalu. Namun kekhawatiran terhadap stagflasi dinilai tetap mendukung prospek emas jangka panjang karena memperkuat daya tarik instrumen tersebut sebagai penyimpan nilai aset utama.
Para pelaku pasar kini menanti hasil rapat bank sentral Amerika Serikat untuk menentukan arah pergerakan harga logam mulia selanjutnya. Kejelasan kebijakan moneter sangat krusial demi memastikan apakah emas mampu mempertahankan posisinya atas level 5.000 Dolar AS.

Alvin Bagaskara
Editor
