Unik, Masih Ada Sistem Pembayaran dengan Koin Kayu
Di era yang serba modern ini, pembayaran untuk berbagai macam transaksi sudah banyak yang menggunakan sistem nontunai. Jadi orang tidak perlu lagi mengeluarkan uang cash, semua serba digital baik dengan menggunakan kartu maupun aplikasi di handphone. Tetapi Pasar Kaki Langit di Mangunan, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta justru menawarkan hal yang berbeda. Pasar yang menyajikan […]

Tyo Sulistyo
Author


Di era yang serba modern ini, pembayaran untuk berbagai macam transaksi sudah banyak yang menggunakan sistem nontunai. Jadi orang tidak perlu lagi mengeluarkan uang cash, semua serba digital baik dengan menggunakan kartu maupun aplikasi di handphone.
Tetapi Pasar Kaki Langit di Mangunan, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta justru menawarkan hal yang berbeda. Pasar yang menyajikan beragam kuliner tradisional khas Yogyakarta dan Jawa Tengah seperti thiwul, gudeg, kicak, wedang uwuh dan beragam kuliner lainnya ini jauh dari unsur modern. Pasar ini benar-benar mengusung konsep tradisional.
Bahkan pembayaran dengan menggunakan uang rupiah pun tidak akan diterima di Pasar Kaki Langit. Sistem pembayaran di Pasar Kaki Langit cukup unik, yakni menggunakan koin kayu atau yang biasa disebut kreweng. Pengunjung harus menukarkan lebih dulu uang rupiah dengan koin kayu yang nantinya digunakan untuk melakukan pembelian.
Koin-koin kayu itu bertuliskan angka 10, 5, 2, dan 1. Angka 10 yang dimaksud senilai Rp 10.000, sedangkan 5 setara Rp 5.000, dan seterusnya. Kreweng dimasukkan ke dalam kantong yang tertera tulisan Pasar Kaki Langit dengan desain gambar menarik.
Koin-koin tersebut dapat
dipergunakan untuk membeli apa saja yang ada di Pasar Kakilangit, bisa membeli
makanan, minuman, atau merchandise khas Pasar Kaki Langit. Jika nantinya koin
tersisa, pengunjung tidak perlu khawatir karena masih bisa ditukarkan lagi
dengan uang rupiah.
Bowo, salah satu pengunjung asal Jakarta mengaku sangat terkesan dengan keunikan sistem pembayaran di Pasar Kaki Langit. “Ini benar-benar destinasi wisata yang sangat unik, asyik, menarik, dan mengobati rasa kangen akan makanan tradisional,” ujar pria 40 tahun itu.
Pasar Kaki Langit sendiri merupakan salah satu destinasi wisata digital yang dicanangkan Kementrian Pariwisata dan dibangun diinisiasi Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Jogja. Genpi sendiri merupakan komunitas relawan yang digawangi anak muda dan bertujuan mempromosikan beragam destinasi wisata di Indonesia.
Pasar Kaki Langit buka setiap Sabtu dan Minggu mulai pukul 06.00 hingga 12.00 WIB.
