Tren Leisure

Setiap Tahun, Rata-Rata Orang Indonesia Hasilkan 22,5 Kg Sampah Plastik

  • Indonesia masih belum mampu mengelola sampah plastik ini menjadi produk yang memiliki nilai jual dan manfaat.
Sampah-di-TPST-Piyungan-belum-melewati-proses-pemilahan.-1200x800.jpg
Ilustrasi Tempat Pembuangan Akhir (mongabay.co.id)

JAKARTA-Penggunaan plastik di Indonesia terus meningkat. Di sisi lain negara ini belum mampu mengolah sampah plastik menjadi barang yang memiliki nilai jual. 

“Tantangan kita saat ini adalah mengubah cara pandang atau paradigma konsumen dan semua pihak terkait bahwa ketika kita beralih ke kemasan plastik, artinya sampah plastik harus diguna-ulang dan atau didaur-ulang,” ujar Guru Besar Tetap dalam bidang Teknologi Polimer Universitas Indonesia, Mochamad Chalid, dilansir ui.ac.id, Jumat, 22 September 2023.

Data terbaru menunjukkan bahwa konsumsi plastik per kapita di Indonesia telah meningkat dari 19,8 kg per orang per tahun pada tahun 2017 menjadi 22,5 kg per orang per tahun pada tahun 2022. Angka tersebut mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan negara seperti Jerman yang mencapai 95,8 kg per orang per tahun. 

“Namun, perlu dicatat bahwa Indonesia masih belum mampu mengelola sampah plastik ini menjadi produk yang memiliki nilai jual dan manfaat,” tambah Chalid. 

Penumpukan sampah plastik di Indonesia semakin menjadi perhatian serius seiring dengan peningkatan konsumsi plastik per kapita yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kebiasaan masyarakat yang belum terlepas dari pola penggunaan kemasan plastik menjadi salah satu penyebab utama dari permasalahan ini.

Dahulu kala, masyarakat menggunakan dedaunan, kayu, bahkan kulit hewan sebagai kemasan alami untuk mengemas barang-barang mereka. Meskipun memiliki keterbatasan dalam penggunaan, bahan-bahan ini memiliki dampak yang lebih baik pada lingkungan. Namun, dengan pengembangan desain produk, kemasan kertas berbahan baku kayu mulai digunakan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sayangnya, produksi kemasan kertas juga meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi, dan hal ini berdampak pada isu bio konservasi alam.

Pada tahun 1959, ditemukannya kemasan kantong plastik yang ringan dan dapat dipakai ulang seakan menjadi solusi atas permasalahan kemasan ini. Kemasan plastik ini dibuat dari bahan baku minyak dan gas bumi, yang memiliki kebutuhan air dan energi manufaktur yang lebih rendah dibandingkan dengan kemasan kertas. Meskipun plastic merupakan inovasi yang signifikan dalam dunia kemasan, kebiasaan penggunaan produk kemasan alami masih melekat pada masyarakat. Hasilnya, Indonesia sekarang dihadapkan pada masalah serius berupa penumpukan sampah plastik.

Kebiasaan Lama

Penumpukan sampah plastik terjadi karena Masyarakat Indonesia masih mempertahankan kebiasaan lama dalam mengolah sampah kemasan organic sebelumnya. Pada masa dahulu kemasan dari daun, kayu, dan bahan alami lain biasa dibuang begitu saja oleh Masyarakat. 

Bahan bahan tersebut dapat dengan mudah terurai oleh alam. Ketika pergeseran bahan kemasan terjadi kebiasaan Masyarakat tersebut masih dipertahankan. Akibatnya bahan kemasan plastik yang tidak dapat terurai justru menumpuk bila dibuang begitu saja.

Prinsip ekonomi sirkular, yang menekankan pada penggunaan ulang dan daur ulang bahan-bahan, menyiratkan perlunya keterlibatan aktif masyarakat dan dukungan lembaga sosial masyarakat (LSM) dalam pengumpulan dan pemilahan sampah plastik sebagai komoditas yang berpotensi bernilai ekonomis. 

Selain itu, pengusaha daur ulang perlu bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menciptakan suatu ekosistem yang mendukung transformasi sampah plastik menjadi produk yang dapat digunakan kembali atau diolah menjadi barang-barang bernilai.

Masalah penumpukan sampah plastik bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Kesadaran akan dampak negatif penggunaan plastik serta peran aktif dalam upaya pengelolaan sampah plastik menjadi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan . Dengan kerja sama yang kuat dan tindakan konkret, kita dapat mengatasi tantangan ini dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan untuk Indonesia.