Tren Leisure

Sehari Tanpa Scroll Medsos, Apa yang Terjadi? Ini Temuannya

  • Sebuah studi ungkap detox media sosial selama seminggu turunkan depresi 24,8% dan kecemasan 16,1% pada anak muda usia 18–24 tahun.
Media sosial.
Media sosial. (Freepik)

JAKARTA, TRENASIA.ID  - Pernah membayangkan tidak membuka TikTok atau Instagram selama satu hari penuh? Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional pada November 2025 mencoba menjawab pertanyaan tersebut, hasilnya cukup mengejutkan.

Studi terbitan National Center for Biotechnology Information, Amerika Serikat berjudul “ Social Media Detox and Youth Mental Health” mengungkap fakta menarik. Penelitian tersebut melibatkan hampir 400 anak muda berusia 18–24 tahun menemukan bahwa berhenti mengakses media sosial selama satu minggu, efeknya mulai terasa hanya dalam sehari, membawa perubahan signifikan pada kesehatan mental.

Para peneliti memantau partisipan menggunakan metode digital phenotyping yakni pelacakan perilaku melalui sensor ponsel—serta kuesioner standar kesehatan mental. Hasilnya menunjukkan adanya penurunan gejala depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur.

Berdasarkan data penelitian, tiga indikator kesehatan mental menunjukkan perbaikan nyata. Pertama, tingkat depresi turun 24,8%, setara dengan pengurangan dua poin pada skala PHQ-9.

Kedua, tingkat kecemasan menurun 16,1%, terutama pada partisipan dengan gejala awal yang lebih berat. Ketiga, tingkat insomnia berkurang 14,5%, seiring membaiknya kualitas tidur.

Selama masa detox, rata-rata waktu penggunaan media sosial partisipan turun drastis dari 1,9 jam per hari menjadi hanya 0,5 jam per hari. Pengurangan durasi ini dinilai menjadi salah satu faktor utama membaiknya kondisi psikologis responden.

Baca juga : Beda dari Gen X, Gen Z Agresif Investasi Termotivasi Medsos

Bukan Sekadar Angka

Penurunan gejala tersebut bukan hanya statistik di atas kertas. Para ahli menjelaskan ada perubahan psikologis mendasar yang terjadi ketika seseorang berhenti scrolling.

Pertama, terputusnya lingkaran perbandingan sosial. Aktivitas scrolling sering kali membuat seseorang membandingkan hidupnya dengan potongan kehidupan orang lain yang telah dikurasi sedemikian rupa. Jeda dari paparan ini membantu mengurangi tekanan sosial dan ekspektasi tidak realistis.

Kedua, otak mendapat kesempatan untuk beristirahat. Platform berbasis video pendek dirancang untuk memicu perpindahan perhatian secara cepat dan berulang. Tanpa paparan konten yang terus-menerus, otak tidak lagi dibombardir rangsangan visual dan emosional, sehingga membantu memulihkan fokus dan mengurangi rasa kewalahan.

Ketiga, rasa menyesal akibat penggunaan waktu yang tidak produktif berkurang. Studi tentang infinite scrolling menunjukkan aktivitas tersebut kerap meninggalkan perasaan bersalah atau menyesal. Saat berhenti, waktu luang dapat dialihkan ke aktivitas yang lebih memuaskan seperti membaca, berolahraga, atau berinteraksi langsung dengan orang terdekat.

Penelitian ini juga menemukan bahwa tidak semua platform memiliki tingkat “ketergantungan” yang sama. Partisipan relatif lebih mudah meninggalkan platform berbasis teks. Namun, aplikasi berbasis visual dan video pendek menjadi tantangan terbesar dalam proses detox.

Karakteristik konten yang cepat, personal, dan dirancang mengikuti preferensi pengguna membuat platform visual lebih “mencengkeram”. Algoritma yang terus menyesuaikan konten dengan minat pengguna turut memperkuat siklus konsumsi tanpa henti.

Baca juga : Fenomena Sadfishing, Sedih Berlebihan di Media Sosial

Bisa Dimulai dari Sehari

Meski penelitian dilakukan selama satu minggu, para ahli menilai efek positif sudah dapat dirasakan dalam waktu lebih singkat. Memulai dengan satu hari tanpa scrolling dapat menjadi langkah awal yang realistis.

Beberapa strategi yang disarankan antara lain membuat komitmen 24 jam tanpa membuka aplikasi, menyiapkan aktivitas pengganti untuk mengisi waktu luang, serta melakukan refleksi terhadap momen munculnya dorongan untuk membuka media sosial.

Dengan memahami pemicu—apakah karena bosan, cemas, atau sekadar kebiasaan—seseorang dapat lebih sadar dalam mengelola perilaku digitalnya.

Dampak Lebih Luas

Temuan ini menambah bukti bahwa media sosial memiliki dampak langsung terhadap kondisi psikologis generasi muda. Di satu sisi, platform digital menawarkan konektivitas dan hiburan. Namun di sisi lain, konsumsi berlebihan tanpa jeda berpotensi mengganggu keseimbangan mental.

Kesimpulannya, jeda singkat dari media sosial dapat menjadi cara sederhana namun efektif untuk “mengatur ulang” suasana hati dan kualitas tidur. Perubahan yang terjadi bukan hanya pada waktu luang, tetapi juga pada cara otak memproses informasi dan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.

Pertanyaannya kini, apakah Anda siap mencoba satu hari tanpa scrolling?