Tren Leisure

Rumah Pensiun Malaysia Tawarkan Pelarian untuk Anak Muda

  • Dengan biaya RM2.000 per bulan, hunian ini menawarkan fasilitas tempat tinggal, tiga kali makan sehari, dan lingkungan yang tenang dan dekat dengan alam.
Rumah pensiun anak muda di Malaysia.
Rumah pensiun anak muda di Malaysia. (Facebook: 务边青年养老院 – Gopeng, PERAK)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Sebuah rumah pensiun untuk muda telah dibuka di Gopeng, Perak, Malaysia. Tempat ini menawarkan kesempatan bagi kaum muda untuk beristirahat dari kehidupan kota selama satu bulan dengan harga RM2.000 atau sekitar Rp8 juta. Bahkan sebelum resmi beroperasi, hunian tersebut sudah penuh dipesan untuk bulan pertama.

Konsep yang tidak lazim ini terletak di lahan seluas delapan hektar di Gopeng, dan telah memicu diskusi luas di kalangan anak muda Malaysia yang bergulat dengan kenaikan biaya hidup, kelelahan kerja, dan persoalan perumahan.

Dengan biaya RM2.000 per bulan, hunian ini menawarkan fasilitas tempat tinggal, tiga kali makan sehari, dan lingkungan yang tenang dan dekat dengan alam. Tempat ini dirancang sebagai ruang untuk memperlambat ritme kehidupan sekaligus memulihkan kondisi mental.

Dilansir dari The Rakyat Post, hunian tersebut didirikan oleh seorang pemuda berusia 25 tahun yang saat ini menganggur. Dia terinspirasi dari keluarganya yang mengelola panti jompo tradisional di Ipoh.

Alih-alih melanjutkan dengan bisnis keluarga, ia memutuskan untuk menggunakan tanah orang tua mereka untuk sesuatu yang sama sekali berbeda, menciptakan tempat peristirahatan khusus untuk anak muda yang kelelahan.

Menurut survei Mental Health UK pada tahun 2024, pekerja di bawah usia 25 tahun lebih cenderung membutuhkan cuti karena kesehatan mental yang buruk akibat stres dibandingkan kelompok usia lainnya. 29% dari mereka yang berusia antara 25-34 tahun mengatakan mereka mengambil cuti karena kelelahan kerja (burnout). 

Dan tampaknya resor kesehatan terbaru di Malaysia ini bisa menjadi solusi tepat untuk mengurangi stres pada generasi muda. Hunian ini mulai beroperasi pada Januari 2026 dan terdaftar di Facebook dengan kategori “fasilitas pensiun dan perawatan lansia.”

Gagasan ini tampaknya sangat menarik bagi generasi muda Malaysia, yang mulai mempertanyakan apakah gaya hidup tradisional bekerja sampai kelelahan benar-benar sepadan, terutama dengan harga barang yang semakin mahal.

Berbeda dengan penginapan pada umumnya, tempat ini tidak menetapkan jadwal kegiatan, target produktivitas, maupun aturan yang ketat. Para penghuni justru dianjurkan untuk benar-benar beristirahat dan, jika perlu, tidak melakukan apa pun.

“Tidak ada KPI, tidak ada jam kerja. Kamu bisa tidur sampai bangun sesukamu, berkebun, berjalan-jalan di alam, memberi makan ikan, menanam sayuran, makan makanan rumahan, atau sekadar melamun,” jelas pendirinya.

Ia berharap, dengan memberikan ruang istirahat total, para tamu dapat memulihkan energi dan kembali menjalani kehidupan mereka dengan lebih siap setelah masa rehat berakhir.

Konsep ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Konsep serupa pernah populer di China ketika banyak anak muda di sana merasa jenuh dengan ritme kehidupan kota yang begitu cepat dan mulai mencari alternatif gaya hidup.

Yang membuat versi Malaysia menarik adalah kemampuannya menyentuh keinginan utama generasi muda saat ini, menjalani hidup dengan lebih sederhana dan ringan.

Hal ini menandai perubahan pola pikir yang cukup besar dibandingkan generasi sebelumnya.

Jika dulu ada keyakinan bahwa seseorang harus terus bekerja keras tanpa henti dan bertahan apa pun keadaannya, kini banyak anak muda justru mengatakan bahwa kesehatan mental lebih penting daripada sekadar mengejar jenjang karier.

Apakah konsep ini bisa bertahan dalam jangka panjang atau diterima sebagai pilihan hidup yang nyata masih belum dapat dipastikan.

Namun, antusiasme yang langsung muncul menunjukkan satu hal, generasi muda benar-benar sedang bergulat dengan tekanan kehidupan modern dan bersedia mencoba pendekatan yang sama sekali berbeda untuk mengatasinya.

Terkait hal tersebut, respons di media sosial pun terbelah. Para pendukung menilai konsep ini mampu menjawab kebutuhan nyata anak muda yang merasa kewalahan, dengan komentar seperti, “Kita butuh lebih banyak tempat seperti ini!” dan “Akhirnya, Malaysia punya ini!”

Sementara itu, pihak lainmempertanyakan apakah model ini dapat bertahan dalam jangka panjang dan khawatir hal tersebut justru mendorong orang untuk menghindari tanggung jawab di dunia nyata.