Kamu Anak Korban Pilih Kasih? Ini Langkah Sembuhkan Diri
- Kamu pernah terluka karena orang tua pilih kasih? Psikolog jelaskan langkah membangun kesadaran diri dan cara pulih dari luka masa kecil secara bertahap.

Muhammad Imam Hatami
Author


Ilustrasi/Foto: Havard University
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID - Pengalaman diperlakukan berbeda oleh orang tua sejak kecil bukanlah hal sepele. Bagi sebagian orang, luka akibat pilih kasih dalam keluarga bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara memandang diri sendiri maupun membangun hubungan dengan orang lain.
Isu ini kembali menjadi perbincangan publik setelah kasus pembunuhan satu keluarga di Warakas, Jakarta Utara, yang memicu diskusi luas tentang dinamika anak tengah dan relasi dalam keluarga.
Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Amalia Indah Permata, menyarankan individu yang mengalami perlakuan berbeda dari orang tua sejak kecil untuk membangun kesadaran diri terlebih dahulu sebelum mengambil langkah lebih jauh, Ia menegaskan pentingnya refleksi diri.
“Jika ketika kecil mengalami pengalaman beda perlakuan oleh orang tua, maka sadari dulu bagaimana hal tersebut memengaruhi dinamika diri saat ini. Kesadaran diri adalah kunci.” ujar Amalia dalam keterangan resminya, dikutip laman antara, Jumat, 13 Februari 2026.
Menurut Amalia, pengalaman dibedakan dalam keluarga dapat memengaruhi rasa percaya diri, pola komunikasi, hingga cara seseorang membangun relasi romantis atau sosial. Perasaan tidak cukup dihargai, dibanding-bandingkan, atau merasa kurang dicintai bisa membentuk keyakinan negatif terhadap diri sendiri jika tidak disadari sejak awal.
Baca juga : Masjid UGM Siapkan 2.000 Porsi Buka dan Sahur Gratis
Terima Masa Lalu Secara Bertahap
Setelah menyadari dampaknya, individu dapat mulai memperbaiki aspek kehidupan yang dirasa mengganggu pada masa dewasa, baik dalam hal kepercayaan diri, cara berkomunikasi, hingga pola menjalin hubungan dengan pasangan maupun lingkungan kerja.
Proses ini, kata Amalia Indah Permata, tidak harus instan karena setiap orang memiliki kapasitas emosional yang berbeda dalam mengolah pengalaman masa lalu. Ia menekankan pentingnya penerimaan secara bertahap agar proses penyembuhan berjalan lebih sehat dan tidak memunculkan tekanan baru.
“Terimalah masa lalu dan pengalaman tersebut secara perlahan. Tidak harus terburu buru memaafkan semuanya.” tambah Amalia.
Menurutnya, banyak orang merasa harus segera memaafkan agar dianggap dewasa atau sudah move on. Padahal, memaksakan diri untuk memaafkan sebelum benar-benar siap justru bisa menimbulkan konflik batin. Proses menerima tidak selalu linier, ada fase marah, sedih, kecewa, hingga akhirnya sampai pada titik pemahaman.
Ia juga menambahkan bahwa berdamai dengan masa lalu bukan berarti membenarkan perlakuan yang menyakitkan, melainkan memahami bahwa kejadian tersebut sudah terjadi dan tidak dapat diubah. Penerimaan lebih berfokus pada bagaimana seseorang memaknai ulang pengalaman tersebut agar tidak terus-menerus menjadi sumber luka.
“Masa lalu berada di luar kendali kita dan tidak bisa diubah. Yang bisa diubah adalah persepsi kita terhadap pengalaman tersebut.” jelas Amalia.
Dengan mengubah persepsi, seseorang dapat membangun narasi baru tentang dirinya, bukan lagi sebagai korban keadaan, melainkan individu yang mampu bertumbuh dari pengalaman sulit. Perspektif inilah yang, menurut Amalia, menjadi fondasi penting dalam proses pemulihan psikologis jangka panjang.
Baca juga : Pasar Streaming Melejit, Konten Indonesia Saingi Drakor
Kapan Perlu Bantuan Profesional?
Dalam praktiknya, proses penyembuhan bisa dilakukan melalui refleksi pribadi, journaling, membangun batasan sehat dengan keluarga, hingga memperkuat relasi positif di lingkungan sosial. Namun, jika luka emosional terasa berat dan mengganggu fungsi sehari-hari, bantuan profesional sangat dianjurkan.
“Jika sudah berusaha namun masih terasa sulit, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.” pungkas Amalia.
Pengalaman diperlakukan berbeda oleh orang tua memang bisa meninggalkan jejak psikologis mendalam. Namun dengan kesadaran diri, penerimaan bertahap, serta dukungan yang tepat, proses pemulihan tetap memungkinkan.
Luka masa kecil tidak harus menentukan masa depan, selama individu bersedia memahami dan mengolahnya secara sehat.

Muhammad Imam Hatami
Editor
