Tren Leisure

13 Tahun Tutup, Planetarium Jakarta Dibuka, Ini Sejarahnya

  • Fasilitas edukasi astronomi ini digratiskan selama tiga bulan sebagai ruang belajar publik bagi pelajar.
Planetarium%20Jakarta%20-%205-Hour%20Tour-9ba4be21-c4cb-4b3d-bf40-a15b3e326e09.jpeg
Planetarium Jakarta (Traveloka)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Planetarium, objek wisata edukasi yang tutup selama 13 tahun resmi kembali dibuka. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung membuka resmi tempat tersebut pada Selasa, 23 Desember 2025.

"Setelah lebih dari 13 tahun, Planetarium yang digagas oleh Bang Ali Sadikin, alhamdulillah hari ini bisa kita hidupkan kembali," ujar Pramono di Planetarium Jakarta.

Tempat yang memiliki fasilitas edukasi astronomi tersebut, akan dibuka gratis selama 3 bulan. Pemberian gratis tersebut diberikan kepada para pengunjung, khususnya pelajar. Pembukaan tempat ini menjadi komitmen pemerintah dalam mendengar aspirasi warga Jakarta, yang sudah merindukan kehadiran Planetarium sebagai ruang edukasi publik.

“Planetarium Jakarta pernah menjadi salah satu ikon kebanggaan kota. Harapannya, Planetarium dapat kembali menjadi rumah belajar bagi anak-anak Jakarta untuk memperkuat wawasan akademik, literasi sains, serta membangun mimpi dan cita-cita generasi masa depan,” ungkap Pramono dalam postingan akun Instagram miliknya @pramonoanungw.

Sejarah Planetarium

Planetarium dan Observatorium Jakarta merupakan salah satu pusat edukasi sains tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam memperkenalkan ilmu astronomi kepada masyarakat. Gagasan pendirian planetarium ini berawal pada tahun 1960-an, atas prakarsa Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang memiliki visi besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pembangunan Planetarium Jakarta dilakukan sebagai bagian dari pengembangan kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini, Jakarta Pusat, yang dirancang sebagai pusat seni dan sains nasional. Setelah melalui proses pembangunan selama beberapa tahun, Planetarium Jakarta resmi dibuka untuk umum pada 1 Maret 1969, dan menjadi planetarium pertama di Asia Tenggara.

Sejak awal berdirinya, Planetarium Jakarta ditujukan sebagai sarana edukasi publik untuk mengenalkan tata surya, rasi bintang, serta fenomena alam semesta melalui pendekatan visual dan ilmiah. Fasilitas ini dilengkapi dengan teater kubah dan proyektor bintang yang memungkinkan pengunjung menyaksikan simulasi langit malam secara realistis.

Dalam perjalanannya, Planetarium Jakarta tidak hanya menjadi tujuan wisata edukatif bagi pelajar dan mahasiswa, tetapi juga berfungsi sebagai pusat penyebaran pengetahuan astronomi bagi masyarakat luas. Berbagai program edukasi, observasi benda langit, serta kegiatan ilmiah kerap diselenggarakan untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap sains.