Ubah Plastik Jadi Cuan, Recycling Village Jadi Inspirasi
- Recycling Village hadir sebagai inspirasi bisnis fesyen berkelanjutan dengan mengolah limbah plastik sekaligus memberdayakan perempuan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Di tengah kekhawatiran soal sampah plastik dan polusi dari industri fesyen, sebuah inisiatif lokal muncul menjadi inspirasi bisnis baru. Recycling Village, sebuah merek fesyen yang memanfaatkan limbah plastik untuk produk berkualitas tinggi berhasil didirikan oleh sosok perempuan cerdas dan menginspirasi.
Founder Recycling Village Sabrina Naula Allisha, menceritakan bahwa dirinya bukanlah seseorang yang ahli dalam bidang produksi limbah. Ia memiliki latar belakang di bidang Biomedical Engineering dan menempuh pendidikannya di Universitas Teknologi Malaysia, Johor.
“Tidak berawal dari hobi, tetapi dari niat dan tekad untuk memberikan dampak baik sebanyak-banyaknya kepada lingkungan dan banyak orang,” ujar Sabrina, dikutip Senin, 12 Januari 2026.
Sabrina menegaskan dirinya meluncurkan Recycling Village dengan niat yang kuat untuk memberikan dampak yang baik untuk Indonesia dan membangun komunitas perempuan yang terpinggirkan. Brand ini menjadi platform bagi para perempuan untuk menunjukan potensi-potensi dalam dunia fesyen berkelanjutan.

Sebagai informasi, Recycling Village didirikan sebagai respons terhadap masalah pengelolaan sampah plastik di Indonesia, di mana jutaan ton limbah plastik tidak terkelola dengan baik dan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau lingkungan.
Melansir dari Plastic Smart Cities, Senin, 12 Januari 2026, program ini bekerja sama dengan masyarakat di Desa Air Naningan, Lampung, untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah limbah plastik menjadi produk fesyen seperti tas jinjing, tas belanja, pouch, dompet kecil, serta tas selempang.
Sejak Oktober 2021, brand ini berhasil mengalihkan sekitar 150 kg limbah plastik dari TPA menjadi lebih dari 500 item fesyen buatan tangan. Recycling Village bukan sekadar usaha fesyen, melainkan upaya dalam menerapkan prinsip ekonomi sirkular, di mana bahan limbah seperti plastik LDPE dimanfaatkan kembali menjadi barang baru yang bernilai.
Konsep ini tidak hanya membantu mengurangi limbah tetapi juga menciptakan peluang ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Produk yang dihasilkan, dirancang agar tahan lama, fungsional, estetis, dan dapat dipakai ulang, sehingga cocok dengan tren konsumsi sadar yang semakin diminati generasi muda.
Peluang Bisnis Baru dan Dampak Positif
Inisiatif seperti Recycling Village menyajikan peluang bisnis baru dalam beberapa bidang:
- Sustainable fashion yang menggabungkan estetika, kualitas, dan nilai lingkungan. Brand seperti ini dapat menarik konsumen muda yang peduli terhadap jejak lingkungan.
- Ekonomi sirkular dari model bisnis yang mengubah limbah menjadi produk bernilai tinggi, dan berpotensi berkembang ke segmen lain seperti homeware atau aksesoris.
- Pemberdayaan komunitas melalui produk berbasis kerajinan tangan membuka peluang UMKM baru dengan nilai tambah yang tinggi.
- Edupreneurship lingkungan yang dilengkapi program edukasi daur ulang dan bank sampah, menjadi referensi bagi daerah lain untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam pengelolaan limbah plastik.
Brand Recycling Village memiliki kantor resmi di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Produk mereka juga tersedia secara online melalui Tokopedia, Sonderlab, Happy Go Lucky, Uma Seminyak, atau akun Instagram resmi (@recyclingvillage).
- Baca juga: Alasan Asam Lambung Banyak Diderita Gen Z
Dengan hadirnya tren sustainable fashion, banyak anak-anak muda yang memilih dan beralih terhadap produk ramah lingkungan Model bisnis seperti Recycling Village ini, menjadi contoh nyata sekaligus peluang usaha yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berdampak sosial dan lingkungan positif.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
