Sukses Kelola Sampah Mandiri, UMY Kurangi Beban TPA Piyungan
- Melalui sistem terpadu berbasis inovasi teknologi dan pendidikan, kampus UMY mampu mengolah 100 persen sampahnya sendiri

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) membuktikan bahwa pengelolaan sampah mandiri bukan sekadar wacana. Melalui sistem terpadu berbasis inovasi teknologi dan pendidikan, kampus ini mampu mengolah 100 persen sampahnya sendiri tanpa mengirim satu pun ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Hasilnya bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga finansial. UMY mencatat biaya pembuangan sampah nol rupiah per bulan, sekaligus membangun ekosistem daur ulang yang berkelanjutan dan edukatif bagi seluruh civitas akademika.
"Saya bilang daripada kita buang itu kan pemerintah juga kesulitan tuh lahan ngolah sampah, bisa nggak UMY mengelola sampahnya sendiri," ungkap Rektor UMY, Achmad Nurmandi, dikutip Jumat, 23 Januari 2026.
Keberhasilan ini menjadikan UMY sebagai salah satu contoh nyata bagaimana institusi pendidikan dapat berperan langsung dalam menjawab krisis sampah, khususnya plastik, yang selama ini membebani kota-kota besar di Indonesia.
Baca juga : Melemah 41,35 Poin, IHSG Hari Ini Ditutup di 8.951,01
Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu
Fondasi utama keberhasilan UMY terletak pada Rumah Pengolahan Sampah Mandiri yang diresmikan pada 27 Desember lalu. Fasilitas ini menjadi pusat pengolahan seluruh sampah yang dihasilkan aktivitas kampus, mulai dari perkuliahan, perkantoran, hingga kegiatan mahasiswa.
Di fasilitas tersebut, sampah dipilah secara ketat sejak dari sumbernya menjadi tiga kategori utama: organik, anorganik (plastik dan kertas), serta residu. Skema pemilahan ini memungkinkan seluruh sampah diolah secara optimal tanpa harus berakhir di TPA.
“Seluruh sampah kampus selesai di sini. Tidak ada lagi yang dibuang keluar,” demikian keterangan pengelola fasilitas pengolahan sampah UMY.
Dengan sistem ini, UMY menghemat biaya pengangkutan dan pembuangan sampah hingga sekitar Rp10 juta per bulan, atau setara Rp150 juta per tahun, yang sebelumnya harus dibayarkan ke pihak ketiga.
Keunggulan lain dari sistem pengelolaan sampah UMY terletak pada pemanfaatan teknologi hasil riset internal kampus. Salah satunya adalah Mesin Peleleh Plastik, yang dikembangkan oleh dosen dan mahasiswa UMY dan telah mengantongi paten.
Mesin ini mampu mengolah sampah plastik, khususnya jenis PET, menjadi produk bernilai guna seperti paving block, pot tanaman, dan material konstruksi sederhana lainnya.
Setiap proses pelelehan mampu mengolah sekitar lima kilogram plastik, sementara satu paving block membutuhkan sekitar 1,2 hingga 2,1 kilogram plastik.
Selain itu, UMY juga menempatkan mesin daur ulang botol plastik di sejumlah titik strategis kampus. Mesin ini dilengkapi sistem reward berbasis poin, yang mendorong mahasiswa dan staf untuk aktif mengumpulkan botol plastik bekas.
Pendekatan ini tidak hanya mengurangi sampah plastik, tetapi juga membangun kebiasaan memilah dan mendaur ulang sejak dari tingkat individu.
Baca juga : LQ45 Hari Ini Ditutup Melemah ke 873,59 Poin
Model Ekonomi Sirkular yang Berjalan
Pengelolaan sampah di UMY tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi dirancang sebagai model ekonomi sirkular. Sampah anorganik yang tidak diolah di fasilitas internal dijual ke pengepul, sementara sampah organik diolah menjadi pupuk kompos melalui proses fermentasi selama sekitar 35 hari.
Pupuk kompos tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada petani di sekitar kampus, memperkuat hubungan antara kampus dan masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Dari penjualan sampah anorganik, sistem ini menghasilkan pendapatan tambahan sekitar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bulan, yang dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan petugas kebersihan kampus.
Lebih jauh, sistem ini turut membantu mengurangi beban TPA Piyungan, yang selama ini menjadi salah satu titik kritis pengelolaan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bagi UMY, pengelolaan sampah bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan bagian dari proses pendidikan. Rumah Pengolahan Sampah Mandiri berfungsi sebagai laboratorium hidup bagi mahasiswa lintas disiplin.
Mahasiswa terlibat langsung dalam perancangan alat, pengembangan teknologi, hingga penyelesaian persoalan operasional di lapangan. Pengalaman ini membekali mereka dengan keterampilan praktis sebagai problem solver yang siap diterapkan di masyarakat.
Keberhasilan sistem ini juga membuka peluang replikasi di luar kampus. Teknologi Mesin Peleleh Plastik UMY telah dihibahkan dan diterapkan pada UMKM mitra, salah satunya PT Inowastek, untuk menghasilkan produk daur ulang bernilai ekonomi.
Dengan capaian biaya nol pembuangan sampah, inovasi teknologi berpaten, serta integrasi pendidikan dan pengabdian masyarakat, UMY memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah berkelanjutan dapat diwujudkan melalui komitmen institusi, kolaborasi, dan inovasi lokal.
Ke depan, model ini berpotensi menjadi rujukan nasional bagi kampus, kawasan industri, hingga pemerintah daerah dalam menghadapi krisis sampah yang kian mendesak.

Muhammad Imam Hatami
Editor
