Obsesi Glowing Hajar Mental Gen Z, Ini Cara Atasinya
- Obsesi kulit glowing di media sosial picu tekanan mental Gen Z. Simak dampak psikologis dan cara menjaga kesehatan mental di era digital.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Tren fast beauty tidak hanya mengubah pola konsumsi produk kecantikan, tetapi juga membentuk lanskap psikologis Generasi Z. Di era media sosial, standar kulit “glowing”, mulus tanpa pori, dan bercahaya menjadi simbol estetika baru yang viral dan seolah wajib dimiliki.
Di balik tren tersebut, muncul tekanan psikologis yang kian nyata. Paparan konten kecantikan melalui TikTok dan Instagram memperkuat standar visual yang seragam, instan, dan sering kali tidak realistis. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah di laman National Center for Biotechnology Information menunjukkan bahwa tekanan untuk tampil “sempurna” berdampak langsung pada citra diri dan kesehatan mental remaja.
Dalam studi bertajuk "Dampak yang Tak Terlihat: Persepsi Diri dan Kesehatan Mental Remaja di Wilayah Pedesaan di Era Media Sosial Terkait Dermatologi", mengungkap tekanan psikologis akibat standar kecantikan tinggi sering bermuara pada perilaku konsumtif.
Hasil riset tersebut juga menunjukkan bahwa social media-induced stress berkontribusi pada meningkatnya pembelian impulsif daring di kalangan Gen Z. Dalam konteks ini, belanja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan mekanisme koping negatif cara instan untuk meredakan emosi tidak nyaman seperti cemas, rendah diri, atau merasa tertinggal tren.
Penelitian tersebut juga menegaskan pentingnya kontrol diri (self-control). Individu dengan regulasi diri rendah lebih rentan melakukan pembelian impulsif ketika menghadapi tekanan sosial digital. Dalam penelitian lain, studi kualitatif terhadap remaja putri dan perempuan muda di Belanda menemukan bahwa paparan konten kecantikan wajah tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga memunculkan dorongan kuat untuk membeli produk yang direkomendasikan influencer.
Lebih jauh, riset pendahuluan lain menunjukkan bahwa kecenderungan belanja impulsif dan kompulsif pada dewasa muda dapat berkaitan dengan early maladaptive schemas, pola pikiran dan emosi negatif yang terbentuk sejak dini. Dalam kondisi ini, belanja berfungsi sebagai sarana untuk mengurangi emosi negatif, mencari penghargaan instan, dan melarikan diri dari kesadaran diri yang menyakitkan
Standar Instan dan “Instagram Face”
Media sosial kini bukan sekadar ruang berbagi, tetapi arena pembentukan standar estetika global. Istilah Instagram Face menggambarkan wajah simetris dengan hidung kecil, bibir penuh, tulang pipi tegas, dan kulit tanpa cela, ciri yang kerap diasosiasikan dengan standar Eurocentric.
Standar ini diperkuat oleh filter digital, teknik pencahayaan, makeup kontur, hingga prosedur dermatologis. Tekanan tampil glowing tidak berhenti pada konsumsi produk. Dalam beberapa kasus, tekanan ini dapat memicu Body Dysmorphic Disorder (BDD), gangguan kecemasan sosial, penurunan self-esteem, dan ketergantungan terhadap validasi digital (likes dan views).
Fenomena ini dikenal sebagai “Snapchat dysmorphia”, yakni kondisi ketika individu ingin terlihat seperti versi dirinya yang telah difilter secara digital. Di era ekonomi atensi, wajah menjadi “aset digital”. Algoritma cenderung menampilkan wajah dengan proporsi seragam, memperkuat persepsi bahwa kecantikan memiliki satu standar baku.
Kombinasi antara tekanan visual, model bisnis fast beauty, dan kemudahan belanja digital menciptakan ekosistem yang saling memperkuat, rasa tidak puas terhadap diri mendorong konsumsi, sementara konsumsi memperpanjang eksposur terhadap standar yang sama.
Tips Atasi Tekanan Mental
Pakar kesehatan mental menegaskan tekanan akibat standar kecantikan digital tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan “percaya diri saja”. Diperlukan pendekatan sistemik yang melibatkan keluarga, sekolah, platform digital, hingga industri kecantikan itu sendiri.
Kesadaran bahwa media sosial adalah ruang kurasi di mana konten telah dipilih, diedit, dan sering kali dimanipulasi secara visual menjadi fondasi utama dalam membangun ketahanan psikologis remaja. Tanpa pemahaman ini, remaja cenderung membandingkan diri dengan standar yang sebenarnya tidak realistis. Berikut pengembangan langkah yang disarankan para ahli:
Membatasi Paparan Konten yang Memicu Perbandingan Berlebihan
Bukan berarti remaja harus sepenuhnya menjauh dari media sosial. Namun, penting untuk mengenali jenis konten yang memicu rasa tidak puas terhadap diri sendiri. Strategi yang dapat diterapkan antara lain,
- Mengatur waktu penggunaan media sosial (screen time limit)
- Menghindari akun yang secara konsisten menampilkan standar tubuh atau wajah yang tidak realistis
- Menggunakan fitur mute, unfollow, atau “not interested” untuk mengurangi paparan konten pemicu
Mengikuti Akun yang Mempromosikan Keberagaman
Algoritma bekerja berdasarkan interaksi. Semakin sering seseorang menyukai atau menonton konten tertentu, semakin besar kemungkinan konten serupa muncul kembali. Karena itu, secara aktif mengikuti akun yang mempromosikan,
- Body positivity
- Skin positivity (kulit berjerawat, tekstur alami, warna kulit beragam)
- Representasi ras dan etnis yang inklusif
- dapat membantu membentuk ulang “feed” media sosial menjadi ruang yang lebih sehat secara psikologis.
Paparan terhadap representasi yang beragam terbukti dapat meningkatkan penerimaan diri dan mengurangi tekanan untuk memenuhi satu standar tunggal.
Edukasi Sekolah tentang Body Image dan Self-Acceptance
Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun literasi psikologis sejak dini. Kurikulum dapat memasukkan materi mengenai,
- Cara kerja filter dan manipulasi visual digital
- Dampak perbandingan sosial terhadap kesehatan mental
- Konsep self-worth yang tidak bergantung pada penampilan
- Keterampilan regulasi emosi dan kontrol diri
Edukasi ini membantu remaja memahami bahwa rasa tidak puas terhadap diri bukan semata kelemahan pribadi, melainkan respons psikologis terhadap tekanan sosial yang masif.
Peran Orang Tua dalam Pengawasan dan Dialog Terbuka
Pengawasan tidak harus berbentuk larangan keras. Yang lebih penting adalah komunikasi terbuka dan non-judgmental. Orang tua dapat melakukan hal berikut,
- Mendiskusikan standar kecantikan digital secara kritis
- Membantu anak membedakan kebutuhan medis dan tekanan sosial terkait prosedur estetika
- Mengamati perubahan perilaku seperti belanja impulsif berlebihan atau obsesi terhadap kekurangan fisik
- Dialog terbuka memberi ruang aman bagi remaja untuk mengekspresikan kecemasan tanpa rasa takut dihakimi.
Penguatan Regulasi Diri dan Kesehatan Emosional
Selain faktor eksternal, aspek internal seperti kontrol diri (self-control) dan kemampuan regulasi emosi juga penting. untuk melatih kontrol diri dapat melakukan hal berikut,
- Mindfulness
- Journaling
- Aktivitas non-digital (olahraga, seni, komunitas offline)
Hal-hal di atas dapat membantu remaja membangun identitas yang lebih stabil dan tidak sepenuhnya bergantung pada validasi digital. Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul adalah: apakah kecantikan merupakan ekspresi otonomi individu, atau respons terhadap tekanan kolektif yang terinternalisasi?
Fenomena fast beauty menunjukkan industri kecantikan tidak lagi sekadar soal produk. Ia berkaitan erat dengan identitas, psikologi, dan kesejahteraan generasi muda di era digital. Jika tidak diimbangi kesadaran kritis, standar yang seragam berisiko membatasi makna kecantikan itu sendiri yang sejatinya lahir dari keberagaman.

Ananda Astri Dianka
Editor
