Tren Inspirasi

Mikrohidro Berbasis Warga Perkuat Energi Hijau

  • Mikrohidro berbasis masyarakat menjadi solusi energi hijau di daerah terpencil, mendorong kemandirian warga dan menjaga kelestarian lingkungan.
sistem-pembangkit-listrik-26-728.jpg
Mikrohidro (Rumah Energi)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro berbasis masyarakat menjadi solusi energi ramah lingkungan sekaligus memperkuat kemandirian warga di wilayah yang jauh dari layanan listrik. Model ini menekankan partisipasi aktif masyarakat sejak tahap awal perencanaan hingga pengoperasian, sehingga keberlanjutan infrastruktur dapat terjaga.

Sebagai informasi, mikrohidro merupakan pembangkit listrik skala kecil. Umumnya, pembangkit listrik mampu memberikan energi di bawah 100 kW, yang memanfaatkan energi potensial air seperti sungai, irigasi, atau air terjun untuk menggerakkan turbin dan generator. 

Dalam kata lain, mikrohidro adalah teknologi ramah lingkungan, ekonomis, dan sering digunakan sebagai sumber energi mandiri di wilayah pedesaan atau daerah terpencil. Beberapa wilayah pedalaman yang berhasil membangun mikrohidro adalah Kampung Sungai Pelaik, Kedungkang, Entebuluh dan Sungai Iring, di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Penggunaan mikrohidro di wilayah tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2024.

Melansir dari laman CIFOR-ICRAF, Selasa, 27 Januari 2026, mikrohidro ini merupakan swakelola bersama masyarakat. Masyarakat bergotong-royong dan menyediakan bahan-bahan yang mudah didapatkan di kampung antara lain pasir dan batu. 

Namun, pembangunan pembangkit ini dibantu dengan tenaga ahli mikrohidro, yaitu Yayasan Riak Bumi dan CIFOR, dengan dukungan utama dari Darwin Initiative (pemerintah Inggris), dan kontribusi dari IKI-BMUB (pemerintah Jerman).

Direktur Eksekutif Yayasan Riak Bumi Valentinus Heri menjelaskan bahwa perlu ada kesepakatan dari warga setempat terkait pembangunan mikrohidro tersebut.

“Gimana caranya supaya mikrohidro awet dan dirawat oleh masyarakat? Ada persetujuan dari masyarakat, jauh dari pelayanan listrik. Pemerintah paham yang kuat, teknologi tepat gunanya melibatkan masyarakat dari awal,” ungkap Valentinus dalam wawancara singkat yang diunggah  akun Youtube CIFOR-ICRAF, dikutip Selasa 27 Januari 2026.

Dalam implementasinya, Valentinus menjelaskan masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama pembangunan. Partisipasi warga dimulai dari perencanaan, pembangunan, hingga operasional pembangkit.

Selain itu, Ahli Mikrohidro Ridwan Soleh turut mengapresiasi peran dari masyarakat setempat. “Masyarakat partisipasinya aktif sejak awal, mulai tahap perencanaan, pembangunan, pengoperasian,” ucap Ridwan.

Source: CIROF-ICRAF

Selama pembangunan berlangsung, para warga mendapatkan pelatihan teknis terkait pengelolaan mikrohidro, mulai dari pemanfaatan potensi air hingga perawatan sistem. “Mereka diajarkan bagaimana merubah potensi air menjadi energi mekanik yang menggerakkan turbin, menjadi listrik melalui sebuah generator sehingga masyarakat mampu memahami dan memperbaiki sistem secara mandiri,” tegas Ridwan.

Selain pelatihan, masyarakat dilibatkan dalam perhitungan potensi sungai agar pembangkit tidak melebihi kapasitas generator. Pendekatan ini mendorong tumbuhnya ide-ide lokal yang berkembang, terutama setelah dilakukan studi banding ke beberapa lokasi mikrohidro lain. 

Meski demikian, sejumlah kendala teknis masih dihadapi, seperti gangguan akibat petir dan faktor lingkungan. “Ketika ada petir, pasti diodanya terbakar,” serta masalah daun dan pohon tumbang yang dapat mengganggu saluran air,” ucap Kepala Dusun Kedungkang, Enggoh.

Namun, hal tersebut dapat diatasi oleh warga setempat setelah mendapatkan pelatihan yang diberikan. Bagi warga setempat, pendekatan mikrohidro berbasis masyarakat mampu menjaga kelestarian alam sekaligus mempertahankan pengetahuan lokal.

Banyak warga yang merasa senang dan mudah untuk melakukan aktivitas bekerja, salah satunya adalah bertenun. Wilayah yang sebelumnya minim akan penerangan, kini mulai terang dan memiliki infrastruktur yang kian berkembang.

Melalui pendekatan berbasis pengetahuan lokal dan partisipasi warga, mikrohidro tidak hanya menghadirkan energi bersih, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat setempat.