Tren Inspirasi

Kampoong Ecopreneur, Dari Wakaf Jadi Usaha Hijau

  • Kampoong Ecopreneur di Bogor mengubah wakaf jadi modal usaha hijau nyata, menciptakan ekosistem ekonomi produktif berbasis komunitas.
Picture3.png
Kampoong Ecopreneur (Kampoong Ecopreneur)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Sebuah desa bernama Leuwisadeng di Kabupaten Bogor, berhasil mengubah konsep wakaf menjadi modal usaha hijau yang menggerakkan ekonomi lokal. Kampoong Ecopreneur, merupakan komunitas pemberdayaan berbasis lingkungan ini berhasil mengubah cara pandang tradisional terhadap wakaf dari aset non produktif menjadi sumber modal ekonomi yang nyata.

Perbedaan utama Kampoong Ecopreneur dibanding pendekatan wakaf konvensional terletak pada pengelolaan wakaf secara produktif. Wakaf tanah seluas lebih dari satu hektare dijadikan basis pembangunan fasilitas yang menghasilkan nilai ekonomi sekaligus sosial bagi masyarakat setempat.

Berbeda dari wakaf yang hanya disiapkan sebagai bentuk amal atau filantropi, di tempat ini wakaf menjadi modal untuk usaha yang produktif dan berkelanjutan. Aset-aset wakaf dikelola profesional untuk menghidupkan sejumlah unit usaha yang mendukung ekonomi hijau, bukan hanya sekadar berdiri sebagai fasilitas.

Ekonomi Hijau Berbasis Komunitas: Produk dan Peluang

Melansir dari laman resmi Kampoong Ecopreneur, Rabu, 4 Februari 2026, tempat ini mengembangkan beberapa program nyata yang menjadi mesin ekonomi hijau lokal, melalui:

1. Masjid EcoWakaf 

Masjid EcoWakaf bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat pemberdayaan komunitas berbasis wakaf produktif. Di sini, fungsi masjid diperluas menjadi ruang pengembangan ekonomi, pendidikan, dan sosial yang menghidupkan pemberdayaan masyarakat lokal.

Program ini mendorong warga untuk menjadi mandiri melalui pelatihan, pendampingan, dan kegiatan usaha yang dikelola dengan prinsip syariah dan keberlanjutan.

2. Kampoong Hening (Pusat Healing dan Eco-Business)

Source: Kampoong Ecopreneur

Kampoong Hening adalah unit usaha yang berfungsi sebagai destinasi retreat dan eco-business berbasis alam serta spiritualitas. Tempat ini dirancang untuk memadukan ketenangan spiritual, pelatihan ekowisata, serta usaha ramah lingkungan seperti penginapan, restoran, dan kegiatan edukasi.

Di sini, pengunjung dapat mengikuti program retreat, kegiatan konservasi, dan pelatihan lingkungan. Fasilitas bisnis yang tersedia dikelola secara produktif, di mana hasilnya dialokasikan kembali untuk program pemberdayaan masyarakat.

3. Tadfizhpreneur (Santri Qur’an yang Berjiwa Wirausaha)

Tadfizhpreneur adalah program pendidikan terpadu selama 12 bulan yang menggabungkan hafalan Al-Qur’an (Tadfizh) dengan pelatihan kewirausahaan berbasis wakaf.

Kurikulum utama mencakup hafalan dan tadabbur Al-Qur’an, pembentukan karakter dan pola pikir bisnis (business mindset), serta lainnya.

4. Kampoong Niaga (Inkubator & Ekosistem Bisnis Halal)

Source: Kampoong Ecopreneur

Kampoong Niaga adalah pusat kolaborasi bisnis halal yang menjadi ekosistem bagi santri, alumni, dan mitra untuk mengembangkan unit usaha berbasis wakaf produktif. Program ini juga menyediakan beberapa fasilitas berupa:

- Inkubator Bisnis: Wadah untuk membantu transformasi ide produk menjadi usaha yang nyata dan berkelanjutan.

- Marketplace Lokal: Saluran pemasaran khusus untuk produk-produk hasil karya santri dan mitra.

- Kemitraan CSR: Ruang kolaborasi dengan perusahaan dan lembaga eksternal untuk memperluas dampak sosial serta ekonomi

Kampoong Ecopreneur mampu menunjukkan bahwa wakaf produktif bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi hijau yang nyata. Dengan membangun ekosistem usaha berbasis komunitas, model ini tidak hanya menjaga nilai lingkungan tetapi juga membuka peluang ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. 

Model ini bisa menjadi contoh inspiratif bagi daerah lain yang ingin mengintegrasikan nilai spiritual dan ekonomi dalam satu sinergi.