Estetik! Kampung Mrican di Yogyakarta Curi Perhatian
- SHAU Indonesia menyulap kawasan pinggiran saluran irigasi di Yogyakarta, dengan menjadikan ruang publik yang estetis dan fungsional.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – SHAU Indonesia menyulap kawasan pinggiran saluran irigasi di Yogyakarta, dengan menjadikan ruang publik yang estetis dan fungsional. Proyek tersebut dikenal sebagai Kampung Mrican Phase 1.
Proyek ini terbentang 1,2 km di sepanjang Sungai Gajah Wong, dan menjadi contoh penerapan konsep urban acupuncture, yaitu serangkaian intervensi kecil namun strategis yang dirancang bersama warga setempat.
Dilansir dari akun Instagram @arsitekturpedia.id, ide utama proyek ini sederhana, tapi powerful, mengubah mindset warga terhadap lingkungannya. Area yang sebelumnya dianggap sebagai halaman belakang rumah, atau tempat pembuangan sampah, kini diubah orientasinya menjadi halaman depan yang membanggakan.
Fokus utamanya adalah Microlibrary Pringwulung. Dirancang dengan struktur bamboo construction yang diangkat (panggung) untuk merespons potensi banjir sekaligus memaksimalkan cross ventilation. Dengan desain tersebut, ruang membaca terasa sejuk meski tanpa AC.
Adapun, material yang digunakan sangat membumi, menggunakan bata ekspos dan paving block yang disusun dengan pola geometris yang menarik. Proyek ini menjadi contoh nyata penerapan urban acupuncture dan placemaking, yang berhasil menghidupkan ruang interaksi sosial warga dari berbagai usia.

Dilansir dari akun Instagram @ammodoarchitecture, berada di dekat sejumlah universitas besar, kawasan permukiman padat dengan bangunan rendah ini telah direvitalisasi untuk mengatasi masalah keamanan, sanitasi, dan ketahanan terhadap banjir.
Tak sampai di situ saja, proyek ini juga menghadirkan berbagai fungsi publik yang edukatif dan menyenangkan, seperti microlibrary, taman bermain, pos pengendali banjir, pusat pengelolaan sampah, dan sistem jembatan dan jalur pedestrian yang menghubungkan ruang-ruang komunitas lebih aman dan inklusif.
Bahkan, proyek ini menjawab masalah lingkungan yaitu banjir yang pernah mencapai ketinggian hingga 2 meter di daerah tersebut yang membentuk lapisan intervensi pertama. Sungai dan jalan dibersihkan dari sampah yang tidak terkelola, sementara rumah-rumah yang berdiri di sepanjang sungai ditata kembali sedikit menjauh dari tepi sungai.
Pemasangan sheet pile dilakukan untuk mencegah longsor, dan dibangun jalan inspeksi selebar 3 meter yang juga menampung sistem drainase dan saluran pembuangan di bawahnya, yang terhubung dengan pos pengendali banjir. Selain itu, sistem pengumpulan sampah dan pelatihan yang dipimpin oleh masyarakat mendukung lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Dikembangkan bersama masyarakat, proyek ini memperlihatkan bagaimana arsitektur dan infrastruktur skala kecil bisa memperkuat ketahanan lingkungan dan juga meningkatkan kualitas hidup di kawasan permukiman yang padat.

Distika Safara Setianda
Editor
