Setali Indonesia, Ubah Limbah Jadi Barang Berharga
- Setali adalah perusahaan sosial yang didedikasikan untuk penanganan limbah fesyen dengan cara memperpanjang masa pakai pakaian.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Kesuksesan fast fashion tidak hanya terletak pada kecepatan tetapi juga pada harga murah dan pengalaman berbelanja. Konsumen tertarik pada perasaan mendapatkan banyak barang dengan harga murah dan sensasi berburu gaya baru.
Di balik layar, rantai pasokan efisien fast fashion sangat bergantung pada produksi luar negeri berbiaya rendah. Hal ini seringkali melibatkan perekrutan tenaga kerja dari kelompok yang kurang beruntung, terutama perempuan, dengan upah rendah dan kondisi kerja yang buruk.
Dilansir dari fabricofchange.ie, pekerja di negara-negara seperti Bangladesh, Vietnam, dan India menghadapi jam kerja lembur yang berlebihan, kondisi kerja yang tidak sehat, dan terpisah dari keluarga mereka.
Merek-merek tersebut memberikan tekanan kepada pemasok untuk memenuhi tenggat waktu produksi yang menyebabkan pelecehan dan depresi di antara para pekerja ini.
Produksi fast fashion yang terus meningkat juga memiliki konsekuensi lingkungan yang signifikan. Mulai dari produksi serat hingga krisis limbah tekstil, sejumlah besar sumber daya dan dampak negatif tercatat sepanjang siklus hidup pakaian.
Miliaran pakaian mengeluarkan emisi dan mencemari lingkungan dalam proses pembuatannya, hanya untuk kemudian mencemari ekosistem setelah beberapa kali dipakai. Fast fashion yang tidak terkelola dengan baik berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.
Untuk mengurangi sikap tersebut, hadir konsep slow fashion yang menekankan keberlanjutan. Di Indonesia, salah satu organisasi yang telah mengadopsi dan menerapkan konsep ini adalah Setali Indonesia.
Setali adalah perusahaan sosial yang didedikasikan untuk penanganan limbah fesyen dengan cara memperpanjang masa pakai pakaian. Melalui pendekatan ini, Setali memberikan kehidupan baru pada pakaian dan limbah tekstil yang dibuang, ketinggalan zaman, atau tidak terjual.
Dilansir dari setali.net, Setali Indonesia yang didirikan pada 2018 berkomitmen terhadap keberlanjutan dan inovasi, Setali mengubah limbah menjadi produk berkualitas tinggi dan unik yang memadukan fungsionalitas dengan daya tarik artistik.
Upaya tersebut bertujuan menekan dampak lingkungan sekaligus mengangkat mata pencaharian para perajin dan penjahit yang membuat setiap potong pakaian. Setali mengubah limbah menjadi nilai, mendukung prinsip-prinsip ekonomi sirkular dan secara aktif mengurangi dampak lingkungan.
Pada 2019, Setali Indonesia menginisiasi advokasi festival berkelanjutan yang pertama kali diperkenalkan dalam Festival Kebahagiaan bersama Andien Aisyah dan Didiet Maulana. Di tahun yang sama, Intan Anggita bergabung sebagai salah satu pendiri dengan menghadirkan tas jinjing daur ulang pertama, dan menyambut Fahmi, seorang teknisi perbaikan sepeda sebagai seniman daur ulang pertama Setali.

Tahun tersebut juga ditandai dengan perubahan nama dari Salur menjadi Setali Indonesia dan keberhasilan penyelenggaraan bazar barang bekas untuk kedua kalinya. Untuk memperkuat pengelolaan limbah, Setali menjalin kemitraan dengan Bank Sampah Bersinar dalam pengolahan sisa kain, sekaligus berkolaborasi dengan Carsome membangun kotak donasi komunitas di lima titik lokasi.
Pada tahun 2022, Setali Indonesia memperluas dampaknya melalui berbagai kolaborasi strategis dan program daur ulang limbah. Perjalanan Jeda Wastra menelusuri memetakan para seniman tekstil, pegiat slow fashion, dan perajin pewarna alami sepanjang jalur Jakarta-Sumba-Jakarta.
Selain itu, Setali bekerja sama dengan Electrolux dalam kampanye Make It Last dengan menghasilkan hampir 1.000 jaket daur ulang, dan berkolaborasi dengan IKEA untuk mengolah lebih dari 700 kilogram seragam bekas menjadi produk-produk baru.
Sebuah pameran berskala besar di Ashta turut menampilkan koleksi busana siap pakai karya Setali, yang dilengkapi dengan lokakarya daur ulang interaktif bagi individu maupun kalangan korporasi.
Sejak 2023, Setali Indonesia berfokus pada pengelolaan limbah yang inovatif dan kolaborasi lintas pihak untuk mengolah limbah tekstil menjadi produk bernilai baru. Dalam ajang Jakarta Fashion & Food Festival (JF3), Setali memperkenalkan koleksi daur ulang utuh pertamanya yang di atas panggung peragaan busana.
Setali juga menyaksikan lokakarya terbesar Setali dengan melibatkan 100 peserta, yang dibekali keterampilan upcycling praktis.
Selain itu, Setali memperkenalkan Sande, sebuah eksplorasi tekstil tradisional dengan teknik pewarnaan alami, dan FBL, sebuah proses downcycling yang mengubah sisa potongan kain kecil yang sebelumnya tak terpakai menjadi material industri padat, sekaligus membuka peluang baru bagi solusi keberlanjutan.
Dengan mengubah pakaian dan limbah tekstil yang dibuang, Setali mencegah penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir sekaligus menciptakan mode yang indah dan berkelanjutan. Pendekatan ini mencerminkan komitmen terhadap kesadaran lingkungan dan inovasi dalam industri mode.
Setiap produk Setali melalui proses desain yang cermat di mana keahlian dan keberlanjutan bertemu. Dengan memadukan kreativitas dengan praktik ramah lingkungan, Setali menawarkan fesyen yang tidak hanya terlihat bagus tetapi juga memberikan dampak positif bagi planet ini.
Dengan menyuplai limbah fesyen, baik individu maupun lembaga berkontribusi dalam mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperoleh produk daur ulang yang dibuat dengan penuh ketelitian.
Setiap penjualan dan proyek yang dijalankan Setali turut mendukung komunitas perajin dan penjahit lokal melalui pelatihan, program peningkatan keterampilan, dan kesempatan kerja yang berkelanjutan. Setali Indonesia adalah wujud nyata dari kepedulian Andien Aisyah terhadap isu lingkungan dan sosial.
Dampak Setali meluas lebih dari sekadar mendaur ulang limbah fesyen, Setali juga memberdayakan pengrajin lokal, mendorong keterlibatan komunitas, dan mempromosikan praktik berkelanjutan. Setali menciptakan perubahan positif menuju masa depan fesyen yang lebih hijau dan bertanggung jawab.

Distika Safara Setianda
Editor
