3 Inisiatif Pengolahan Sampah Berbasis Komunitas di Jakarta
- Pengolahan sampah berbasis komunitas di Jakarta berkembang melalui bank sampah, TPS3R, dan kolaborasi lintas sektor ramah lingkungan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Sejumlah inisiatif pengolahan sampah berbasis komunitas dan kolaborasi lintas sektor terus berkembang di Jakarta. Upaya ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga mendorong pemanfaatan ulang dan pengolahan sampah secara berkelanjutan di tingkat lingkungan.
Uniknya, upaya ini banyak dikembangkan oleh komunitas warga, serta kolaborasi dengan sektor swasta dan organisasi lingkungan. Berdasarkan informasi pada postingan akun Instagram @jagakarsainfo, 21 Desember 2025, setidaknya terdapat tiga lokasi pengolahan sampah yang aktif menerapkan konsep ramah lingkungan dan berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.
Berikut 3 Pengolahan Sampah Ramah Lingkungan di Jakarta:
1. BSS RW 08 Lenteng Agung, Jakarta Selatan

Bank Sampah Sekolah (BSS) RW 08 Lenteng Agung menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah berbasis warga yang konsisten. Melansir dari laman Pemprov DKI Jakarta, Selasa, 6 Januari 2026, BSS RW 08 Lenteng Agung mampu mengumpulkan sekitar 25 ton sampah daur ulang setiap bulan.
Sampah tersebut terdiri dari plastik, kertas, logam, dan material lainnya. Dalam waktu satu bulan, hasil dari pengumpulan sampah tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kreativitas melalui Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K).
2. Komunitas Laskar Krukut Luhur (LASKARU)

Komunitas Laskar Krukut Luhur (LASKARU) memanfaatkan kawasan bantaran sungai di wilayah Jagakarsa untuk kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan. Salah satu aktivitas yang dijalankan adalah budidaya maggot sebagai bagian dari pengelolaan sampah organik.
Program ini berfungsi mengurangi timbulan limbah sekaligus menghasilkan pakan ternak bernutrisi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
3. TPS3R dan Bank Sampah Berbasis Warga Jagakarsa

Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) dan bank sampah ini dikelola langsung oleh warga Jagakarsa. Inisiatif pemetaan pengolahan sampah tersebut digagas oleh Klub Baca Ibu (Klabu) dan Ruang Ibu Bercerita, sebagai bagian dari gerakan Ibu Darling (Ibu Sadar Lingkungan).
Dalam hal ini, warga didorong untuk memilah sampah sejak dari sumber, mengelola sampah organik melalui komposter dan maggot, serta menyalurkan sampah anorganik ke bank sampah. Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai efektif karena melibatkan partisipasi langsung masyarakat di tingkat RT dan RW.
Selain itu, kegiatan ini menjadi bentuk kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Nestlé Indonesia, dan WWF Indonesia. Program ini berfokus pada penguatan infrastruktur pengelolaan sampah, peningkatan kapasitas TPS3R, serta edukasi pemilahan sampah kepada masyarakat.
Melalui sinergi ini, pemerintah dan mitra mendorong penerapan ekonomi sirkular, terutama dalam pengelolaan sampah plastik, agar dapat dikumpulkan, dipilah, dan didaur ulang secara tepat. Program tersebut juga mendukung target pengurangan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor.
Direktur Kemitraan WWF-Indonesia, Rusyda Deli, mengatakan bahwa kolaborasi lintas pihak menjadi kunci untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah.
“Kolaborasi ini merupakan langkah penting dalam mendukung ekonomi sirkular dan menekan kebocoran sampah ke lingkungan. Inisiatif ini adalah bagian dari komitmen WWF-Indonesia dalam mengatasi polusi plastik dan memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Indonesia,” ujar Rusyada dalam keterangan resmi, dikutip Senin, 5 Januari 2026.
Keberadaan berbagai inisiatif pengolahan sampah ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah ramah lingkungan di Jakarta tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada peran aktif komunitas dan kemitraan dengan sektor swasta serta organisasi lingkungan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
