Tren Global

Saat AI Sukses Jadi Dokter di India

  • Melalui aplikasi web dan seluler, AI memungkinkan dokter mendikte catatan klinis tanpa perangkat tambahan, mempercepat pembuatan resep dan ringkasan pasien
Ilustrasi dokter sedang menjalankan operasi.
Ilustrasi dokter sedang menjalankan operasi. (Freepik)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai memainkan peran penting dalam mengurangi burnout dokter di India, terutama dengan menyasar masalah krusial yang selama ini membebani tenaga medis, dokumentasi klinis. 

Di tengah kekurangan dokter, rumah sakit yang penuh sesak, serta data pasien yang terfragmentasi, beban administratif kerap menyita waktu dan energi dokter, bahkan melebihi waktu untuk merawat pasien.

Laporan The Economic Times menyebut sistem kesehatan India menghadapi tekanan berat akibat jumlah dokter yang tidak sebanding dengan populasi, tingginya jumlah pasien, serta kewajiban pencatatan medis yang kompleks dan memakan waktu. Kondisi ini membuat banyak dokter kelelahan secara fisik maupun mental.

Berbeda dengan banyak inovasi AI di sektor kesehatan yang langsung menyasar diagnosis penyakit, startup fosterhealth.ai memilih pendekatan berbeda. Mereka fokus pada masalah yang bisa segera diatasi dan berdampak langsung, yakni dokumentasi medis.

Pendiri startup tersebut menilai dokumentasi klinis adalah “pekerjaan besar yang bisa diperbaiki sekarang juga”, sekaligus menjadi salah satu sumber utama stres dan kelelahan dokter.

Baca juga : Gunung Es Terbesar di Dunia ini Berubah Jadi Bubur Biru

Cara Kerja Teknologi AI

Melalui aplikasi berbasis web dan seluler, dokter dapat mendikte catatan klinis menggunakan aplikasi web atau seluler tanpa hardware tambahan.

Input suara tersebut kemudian diproses oleh sistem AI untuk menghasilkan resep, ringkasan keluar pasien, dan catatan klinis terstruktur hanya dalam hitungan menit.

Teknologi ini dirancang agar mudah digunakan di ruang praktik sehari-hari, tanpa perlu perangkat khusus atau perubahan alur kerja yang rumit.

Pengembangan sistem ini tidak lepas dari tantangan. Model AI yang awalnya dilatih menggunakan data Barat mengalami kesulitan memahami nama pasien, nama obat, serta aksen dokter di India. 

Untuk mengatasi hal tersebut, tim pengembang beralih menggunakan model open source yang dilatih ulang dengan dataset lokal India, sehingga hasil transkripsi dan dokumentasi menjadi lebih akurat.

Dampak efisiensi teknologi ini terbilang besar. Tugas seperti pembuatan ringkasan keluar pasien yang sebelumnya memakan waktu sekitar satu jam, kini dapat diselesaikan hanya dalam dua hingga tiga menit.

Sementara itu, waktu untuk meninjau laporan pasien yang biasanya lebih dari sepuluh menit kini dipangkas menjadi satu hingga dua menit saja.

Untuk menjaga keandalan, sistem AI dilengkapi berbagai guardrail. AI tidak akan menghasilkan informasi di luar sumber input, dan setiap hasil dokumentasi dapat ditelusuri kembali ke audio atau dokumen asal. Pendekatan ini diterapkan untuk mencegah kesalahan fatal maupun fenomena hallucination AI.

Baca juga : Purbaya: Pegawai Pajak Nakal akan Dirumahkan!

Hasil Uji Coba Nyata

Dalam uji coba selama satu tahun di sebuah rumah sakit kanker besar di India yang melibatkan lebih dari 300 pasien, hasilnya dinilai sangat positif.

Sistem AI tersebut mencatat zero hallucination, penurunan 45% kesalahan dokumentasi, serta pengurangan waktu pembuatan dokumen klinis hingga 79% dibanding metode manual.

Isu privasi juga menjadi perhatian utama. Data pasien disimpan dan diproses di dalam wilayah India, dengan kontrol akses yang ketat. Sistem ini dirancang sejalan dengan standar keamanan global seperti HIPAA serta regulasi perlindungan data pribadi India yang tengah berkembang.

Secara keseluruhan, teknologi AI ini tidak hanya mempercepat dan menyederhanakan administrasi medis, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi layanan kesehatan.

Dengan berkurangnya beban dokumentasi, dokter kini memiliki lebih banyak waktu untuk fokus merawat pasien, alih-alih tenggelam dalam pekerjaan kertas yang melelahkan.