Tren Global

Rapuhnya Iran, Ribuan Warga Tewas dalam Kerusuhan Massal

  • Aksi demonstrasi dipicu oleh tekanan ekonomi yang semakin berat, namun dalam perkembangannya berubah menjadi tantangan langsung terhadap Khamenei
iran.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Iran kembali diguncang gelombang protes besar-besaran yang menyebar luas ke berbagai wilayah negara itu sejak akhir Desember 2025. 

Aksi demonstrasi dipicu oleh tekanan ekonomi yang semakin berat, namun dalam perkembangannya berubah menjadi tantangan langsung terhadap otoritas politik dan kepemimpinan tertinggi negara.

Protes dilaporkan mulai muncul sekitar 28 Desember 2025 di kawasan bazar Teheran, menyusul melonjaknya inflasi dan harga kebutuhan pokok. Sejumlah komoditas penting seperti minyak goreng dan ayam mengalami kenaikan harga tajam, memperparah beban hidup masyarakat.

Situasi diperburuk oleh kebijakan bank sentral Iran yang menghapus program akses dolar murah, langkah yang memicu lonjakan harga impor. Akibatnya, banyak pedagang dilaporkan menutup toko mereka sebagai bentuk protes terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.

Baca juga : BI Perkuat Stabilitas Saat Gejolak Global Bayangi Rupiah

Menyebar ke Ratusan Kota

Dalam waktu singkat, demonstrasi meluas jauh melampaui ibu kota. Aksi protes dilaporkan menyebar ke lebih dari 180 kota dan kota kecil di seluruh Iran, menjadikannya salah satu mobilisasi massa terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah pihak menyebut gelombang ini sebagai yang terbesar sejak 2022, dengan intensitas dan cakupan yang mengingatkan pada gerakan “Women, Life, Freedom” yang sempat mengguncang Iran sebelumnya.

Tidak lagi terbatas pada isu ekonomi, protes berkembang menjadi perlawanan politik terbuka. Di sejumlah lokasi, massa terdengar meneriakkan slogan “Death to Khamenei”, sebuah tantangan langsung terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Para demonstran juga meluapkan kemarahan terhadap korupsi, ketidakadilan, dan kegagalan sistemik rezim, menandakan bahwa krisis yang terjadi dinilai lebih dalam dari sekadar persoalan harga barang.

Pemerintah Iran berupaya membingkai protes sebagai gangguan keamanan. Otoritas menyebut para pengunjuk rasa sebagai “pengacau” dan “agen asing”, serta berusaha memisahkan demonstrasi ekonomi dari upaya menggulingkan sistem.

Sejumlah pejabat bahkan memperingatkan bahwa beberapa peserta aksi bisa menghadapi hukuman berat, termasuk hukuman mati, dengan tuduhan “moharebeh” atau mengambil senjata melawan Tuhan, sebuah dakwaan serius dalam sistem hukum Iran.

Kondiri Terkini Iran

Situasi di Iran kian memburuk setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Teheran. Trump mengatakan AS akan mengambil “very strong action” jika pemerintah Iran mengeksekusi para demonstran anti-pemerintah. 

Ancaman ini muncul di tengah laporan kelompok hak asasi manusia yang menyebut lebih dari 2.400 demonstran telah tewas akibat tindakan keras aparat keamanan Iran dalam beberapa pekan terakhir.

Ketegangan meningkat setelah keluarga Erfan Soltani (26 tahun) mengungkapkan kepada BBC Persian bahwa Soltani dijadwalkan dieksekusi pada hari Rabu, hanya beberapa hari setelah penangkapannya. 

Kerabatnya menyatakan bahwa proses hukum berlangsung “sangat cepat, hanya dalam waktu dua hari”, yang menggambarkan betapa cepatnya pengadilan menjatuhkan vonis mati tanpa proses yang transparan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengaitkan ancamannya dengan rencana eksekusi tersebut. Dalam wawancara dengan CBS News, ia mengungkapkan ancaman serius terhadap Iran.

Baca juga : Purbaya: Pegawai Pajak Nakal akan Dirumahkan!

“Jika mereka menggantung mereka, Anda akan melihat sesuatu terjadi… Kami akan mengambil tindakan yang sangat keras jika mereka melakukan hal itu.” ujar Trump.

Namun, Trump juga mengakui bahwa data jumlah korban masih perlu diverifikasi. “Pembunuhan ini tampaknya signifikan, tetapi kami belum mengetahui secara pasti,” ujarnya.

Sementara itu, versi pemerintah Iran berbeda. Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa sekitar 2.000 orang tewas, tetapi menyalahkan “terrorists” atas kekerasan tersebut. 

Di sisi lain, kelompok pemantau independen HRANA menyatakan telah mengonfirmasi 2.403 demonstran tewas, termasuk 12 anak, meski akses informasi sangat terbatas akibat pemadaman internet nasional. 

HRANA juga mencatat hampir 150 orang yang berafiliasi dengan pemerintah turut tewas dalam kerusuhan. Trump mengatakan ia akan menghadiri pertemuan di Gedung Putih untuk mendapatkan “accurate numbers” terkait korban tewas di Iran.