Mengapa RI Cenderung Tahan Banting Krisis Energi?
- Di tengah krisis global, Indonesia justru lebih tahan terhadap guncangan harga energi berkat batu bara, gas, dan diversifikasi energi.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Saat dunia sedang panik menghadapi krisis energi akibat konflik Timur Tengah, Indonesia justru mencatat prestasi yang tak banyak diduga, masuk jajaran dua negara paling tangguh di dunia dalam menghadapi gejolak harga minyak dan gas global.
Bukan klaim pemerintah, tapi penilaian dari salah satu lembaga keuangan terbesar dunia. Dalam laporan terbaru JP Morgan berjudul Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis Maret 2026, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia dalam hal ketahanan (resilience) terhadap guncangan harga energi global.
Laporan tersebut menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang merepresentasikan sekitar 82 % konsumsi energi dunia. Posisi Indonesia berada di peringkat kedua secara global dalam hal faktor perlindungan total (total insulation factor), tepat di bawah Afrika Selatan.
Ketahanan ini diukur berdasarkan porsi energi final yang minim paparan terhadap fluktuasi harga energi global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Secara lebih rinci, Indonesia mencatatkan tingkat ketahanan sebesar 77%, sementara Afrika Selatan berada di posisi pertama dengan skor 79%.
Posisi Indonesia dalam kategori total faktor perlindungan ini juga berada di atas negara-negara besar seperti China, India, dan Vietnam.
Baca juga : Pertamax Naik, Ini Life Hack Yang Bisa Dilakukan Biar Tetap Hemat
Apa Sebabnya Indonesia Juara?
Indikator utama yang digunakan JP Morgan adalah total insulation factor, yaitu ukuran proporsi energi suatu negara yang tidak bergantung pada minyak dan gas global. Semakin kecil ketergantungan impor, semakin kuat daya tahan terhadap guncangan eksternal.
Penilaian ini mencakup dua sisi, yaitu eksposur dan penyangga:
- Indikator eksposur (kerentanan terhadap impor):
- Ketergantungan impor minyak: 16%
- Ketergantungan impor gas: -8% (masih net eksportir)
- Ketergantungan pasokan dari Selat Hormuz: 1%
- Porsi konsumsi minyak dan gas dalam ekonomi: 29%
- Intensitas energi terhadap PDB: 0,7%
- Indikator penyangga (kekuatan domestik):
- Produksi gas domestik: 22%
- Batu bara domestik: 48%
- Energi baru terbarukan: 7%
Dengan kata lain, sekitar 77% kebutuhan energi nasional masih dapat dipenuhi dari dalam negeri. Ini menjadi bantalan penting yang membuat Indonesia relatif lebih tahan terhadap gangguan distribusi global seperti di Selat Hormuz.
Tiga Pilar Utama Ketahanan Energi Indonesia
1. Batu Bara: Tameng Terbesar
Laporan JP Morgan secara eksplisit menyebut bahwa negara seperti China, India, Indonesia, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina mendapat manfaat dari produksi batu bara domestik yang signifikan selama terjadi guncangan energi.
Indonesia adalah eksportir terbesar batu bara termal di dunia. Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara memastikan sebagian produksi dialokasikan untuk pembangkit listrik dalam negeri dengan harga yang dikendalikan pemerintah, sehingga tarif listrik nasional tetap stabil meski harga LNG global melonjak.
2. Gas Alam: Produsen Terbesar ke-13 Dunia
Pada 2024, Indonesia tercatat sebagai produsen gas alam terbesar ke-13 secara global dengan produksi sekitar 2.465 miliar meter kubik. Posisi ini memberikan bantalan tambahan bagi sektor industri dan pembangkit listrik.
3. Diversifikasi Energi dan Kebijakan Subsidi
Diversifikasi bauran energi primer yang mencakup panas bumi, tenaga air, dan biodiesel berkontribusi pada stabilitas sistem energi nasional. Mekanisme intervensi pemerintah melalui subsidi BBM, subsidi listrik, dan kebijakan DMO batu bara juga berperan sebagai peredam dampak langsung ke masyarakat.
Kekuatan ekonomi Indonesia yang 56 % ditopang oleh konsumsi domestik juga memberikan ruang gerak lebih luas saat pasar ekspor manufaktur global terganggu.
Baca juga : Ironi BBM Nasional: Produksi Naik Tipis, Konsumsi Tak Terkendali
Negara Maju Justru Lebih Babak Belur
Sebaliknya, sejumlah negara maju seperti Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, hingga Belanda tercatat sebagai yang paling terdampak. Tingginya ketergantungan terhadap impor minyak dan gas menjadi faktor utama kerentanan tersebut.
Jepang, Korea Selatan, dan Singapura hampir sepenuhnya mengandalkan impor energi primer. Ketika distribusi di Selat Hormuz terganggu, biaya industri dan transportasi di negara-negara ini langsung melonjak tanpa banyak pilihan mitigasi.
Di tengah kabar positif ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia justru bersikap realistis. Ia mengakui bahwa ketahanan energi Indonesia masih memiliki celah besar, khususnya pada sisi produksi dan kapasitas penyimpanan minyak.
Bahlil menjelaskan bahwa konsumsi bahan bakar minyak Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi (lifting) domestik baru berkisar 600–610 ribu barel per hari. "
Kita masih impor kurang lebih sekitar 1 juta barel per day. Di tengah kondisi global yang seperti ini, kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber. Tidak hanya di satu negara, tapi di hampir semua negara," jelas Bahlil kepada awak media di Jakarta beberapa waktu lalu.
Untuk mengamankan pasokan jangka pendek, pemerintah juga telah mengamankan ketersediaan minyak mentah dari Rusia hingga akhir tahun 2026.
"Untuk crude satu tahun dari mulai bulan ini sampai dengan bulan Desember, insyaallah sudah aman. Jadi kita nggak perlu risau, tinggal kita meningkatkan produksi daripada kilang kita," jelas Bahlil.
Temuan Cadangan Gas Raksasa
Menteri Bahlil juga mengumumkan penemuan cadangan migas besar di Blok Geliga, Wilayah Kerja Ganal, Kutai, Kalimantan Timur, yang diidentifikasi oleh perusahaan energi global asal Italia, ENI. Blok tersebut diperkirakan memiliki cadangan gas sekitar 5 triliun cubic feet (TCF) dan kondensat sekitar 300 juta barel minyak ekuivalen.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan produksi minyak nasional dapat mencapai 900 ribu hingga 1 juta barel per hari pada 2030. "Dengan demikian, maka menuju swasembada energi, kita harus mampu memenuhi stok kebutuhan kita dengan memanfaatkan cadangan-cadangan di negara kita," kata Bahlil.
Meskipun memiliki ketahanan kuat, laporan JP Morgan memberi catatan mengenai penurunan produksi minyak mentah domestik di tengah konsumsi yang terus meningkat. Lonjakan harga minyak global tetap berisiko menekan nilai tukar rupiah karena kebutuhan dolar AS untuk membiayai sisa impor bahan bakar minyak.
Untuk memperkuat posisi ini, Bahlil memastikan Indonesia akan memulai pembangunan Cadangan Penyangga Energi (CPE) berupa fasilitas tangki penyimpanan minyak baru pada Mei 2026.
Langkah ini diambil untuk meningkatkan ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasokan akibat konflik geopolitik global.
Peringkat kedua dunia versi JP Morgan bukan hadiah melainkan cermin dari kombinasi kekayaan sumber daya alam domestik dan kebijakan energi yang cukup cerdas. Batu bara, gas, dan diversifikasi bauran energi menjadi fondasi utama yang membuat Indonesia lebih tahan dibanding banyak negara maju sekalipun.

Chrisna Chanis Cara
Editor
