Fenomena Gen Z Cepat Resign, Kapan Sebaiknya Dilakukan?
- Gen Z sering dicap mudah resign. Padahal data menunjukkan sejumlah faktor jadi alasan mereka pindah kerja. Lantas kapan waktu yang tepat untuk resign?

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Fenomena pekerja Generasi Z (Gen Z) yang cepat berganti pekerjaan kerap menjadi sorotan. Tren ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara dengan struktur pasar kerja modern.
Label “tidak betah kerja” yang kerap dilekatkan pada Gen Z dinilai terlalu menyederhanakan persoalan. Berbagai survei dan data menunjukkan keputusan resign umumnya dipicu oleh kombinasi faktor ekonomi, psikologis, dan nilai hidup yang berubah.
Gen Z yang lahir sekitar 1997 hingga 2012 tumbuh dalam era digital, keterbukaan informasi, dan kesadaran tinggi terhadap kesehatan mental serta keseimbangan hidup. Nilai-nilai tersebut membentuk ekspektasi berbeda terhadap dunia kerja dibanding generasi sebelumnya.
Gaji Masih Jadi Faktor Utama
Dikutip laman asal Inggris, Independent, dalam laporan bertajuk “Gen Z sees jobs as short-term situationships”, mengungkap salah satu alasan paling dominan di balik tingginya mobilitas Gen Z adalah ketidakpuasan terhadap kompensasi. Sejumlah survei menunjukkan bahwa 41% Gen Z di Indonesia memilih resign karena gaji yang dianggap tidak memadai.
Secara global, 55% responden Gen Z mengaku bersedia pindah kerja demi bayaran lebih tinggi, sementara 81% kandidat secara umum menempatkan gaji sebagai faktor terpenting dalam memilih pekerjaan.
Kenaikan biaya hidup, tekanan ekonomi pascapandemi, serta keterbukaan informasi soal standar gaji industri membuat Gen Z lebih berani membandingkan dan menegosiasikan nilai diri mereka. Ketika ruang negosiasi tertutup, opsi resign menjadi alternatif rasional.
Baca juga : Gen Z Catat, Kapan Boleh Gunakan PayLater?
Work-Life Balance dan Fleksibilitas Jadi Prioritas
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung memprioritaskan stabilitas, Gen Z menempatkan keseimbangan hidup sebagai prioritas utama.
Fleksibilitas kerja baik dalam bentuk remote working, jam kerja luwes, maupun kebijakan hybrid dipandang bukan lagi sebagai fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar.
Ketika perusahaan menarik kembali kebijakan fleksibel dan memaksakan kembali sistem kerja penuh waktu di kantor tanpa alasan jelas, banyak pekerja muda memilih hengkang. Benturan ini sering kali terjadi karena perbedaan gaya manajemen, terutama di perusahaan dengan kepemimpinan yang lebih konservatif.
Lingkungan Toksik dan Kesehatan Mental
Isu kesehatan mental menjadi pembeda signifikan antara Gen Z dan generasi sebelumnya. Data menunjukkan sekitar 21% Gen Z siap meninggalkan pekerjaan yang dinilai toksik. Bahkan, hampir setengah responden dalam beberapa survei menyatakan terbuka untuk resign kapan saja jika kondisi kerja memburuk.
Sekitar 34% melaporkan mengalami burnout atau kejenuhan berkepanjangan, sementara 38% mengaku merasa kesepian di tempat kerja. Fenomena ini menunjukkan bahwa faktor sosial dan psikologis di lingkungan kerja memegang peran penting dalam keputusan bertahan atau pergi.
Tidak hanya burnout akibat tekanan berlebihan, muncul pula istilah “boreout” kejenuhan akibat pekerjaan monoton tanpa tantangan. Gen Z cenderung mencari dinamika dan pertumbuhan cepat, sehingga rutinitas yang stagnan dapat memicu ketidakpuasan serius.
Ketidakjelasan Karier dan Hubungan dengan Atasan
Selain faktor finansial dan psikologis, ketidakjelasan jalur karier juga menjadi pemicu resign. Gen Z umumnya menginginkan roadmap karier yang transparan, target yang terukur, serta peluang pengembangan keterampilan yang konkret. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, rasa stagnasi muncul lebih cepat.
Hubungan dengan atasan turut menjadi variabel penting. Gaya kepemimpinan yang terlalu mengontrol, kurang komunikatif, atau tidak terbuka terhadap dialog sering memicu benturan budaya. Gen Z cenderung menyukai pendekatan kolaboratif dan partisipatif, bukan model hierarkis yang kaku.
Baca juga : Tren Gig Economy Naik, Gen Z Dicengkeram Kapitalisme
Kapan Waktu yang Tepat untuk Resign?
Meski tren resign meningkat, keputusan tersebut idealnya tetap diambil secara strategis. Tidak ada patokan waktu universal, tetapi ada sejumlah indikator yang dapat menjadi bahan refleksi.
Pertama, ketika perkembangan diri terhenti dan perusahaan tidak menyediakan jalur pertumbuhan meskipun sudah dikomunikasikan. Kedua, ketika kesehatan mental dan fisik terganggu secara konsisten akibat lingkungan kerja yang toksik.
Ketiga, ketika nilai pribadi sudah tidak lagi sejalan dengan budaya perusahaan. Keempat, ketika kompensasi tidak kompetitif dan tidak ada ruang negosiasi yang realistis.
Namun, ada pula kondisi yang menuntut pertimbangan ulang. Resign dalam waktu kurang dari satu tahun tanpa pencapaian signifikan bisa berdampak pada kredibilitas awal karier. Begitu pula jika belum memiliki rencana cadangan yang jelas, baik tawaran kerja baru, rencana studi lanjut, maupun proyek bisnis.
Masalah sesaat seperti konflik tim atau tekanan proyek tertentu juga belum tentu menjadi alasan permanen untuk hengkang. Dalam beberapa kasus, komunikasi terbuka dapat menjadi solusi lebih efektif dibandingkan keputusan impulsif.
Fenomena Gen Z cepat resign sejatinya menjadi sinyal bagi dunia usaha untuk beradaptasi. Transparansi karier, fleksibilitas kerja, perhatian pada kesehatan mental, serta kompensasi kompetitif kini menjadi elemen fundamental dalam strategi manajemen talenta.
Bagi Gen Z sendiri, mobilitas tinggi bukanlah masalah selama setiap langkah merupakan kemajuan strategis, bukan sekadar pelarian dari ketidaknyamanan sementara. Dunia kerja tengah berubah, dan dinamika ini menuntut keseimbangan antara idealisme generasi muda dan realitas bisnis.
Pada akhirnya, keputusan resign bukan tentang cepat atau lambat, melainkan tentang kesiapan, perencanaan, dan arah jangka panjang karier yang ingin dibangun.

Amirudin Zuhri
Editor
