Tren Global

Ekonom: Ketahanan Energi Tak Bisa Hanya Bertumpu pada Harga Murah

  • Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara harga energi, kepastian pasokan, dan investasi agar ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah gejolak global.
Ekaputra.jpg
Kapal pengangkut Liquid Natural Gas (LNG) milik PT GTS Internasional Tbk (GTSI). (gtsi.co.id)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Lonjakan harga energi global akibat ketegangan geopolitik kembali menguji ketahanan energi berbagai negara, termasuk Indonesia. Di tengah tekanan tersebut, pemerintah dinilai perlu menjaga keseimbangan antara harga energi yang terjangkau, kepastian pasokan, dan keberlanjutan investasi sektor energi.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan kekhawatiran pelaku industri terhadap kenaikan harga gas dan LNG merupakan hal yang wajar karena energi menjadi salah satu faktor utama penopang sektor manufaktur nasional. "Gas bumi bukan hanya komoditas, tetapi juga bahan bakar produksi industri," ujarnya.

Data Kementerian ESDM menunjukkan mayoritas pemanfaatan gas bumi Indonesia digunakan untuk kebutuhan domestik, terutama sektor industri. Kondisi tersebut membuat isu harga gas tidak sekadar berkaitan dengan penyedia energi, tetapi juga menyangkut daya saing industri dan stabilitas ekonomi nasional.

Harga Murah Belum Tentu Menjamin Ketahanan Energi

Josua menjelaskan hampir seluruh negara Asia kini menghadapi tantangan serupa, yakni menjaga pasokan energi di tengah kenaikan harga LNG global.

Berdasarkan data PetroVietnam dan IEEFA 2026, harga gas di Vietnam mencapai sekitar US$27,81 per MMBtu. Sementara di Filipina mencapai US$28,50 per MMBtu. Adapun Singapura mencatat harga lebih tinggi, yakni sekitar US$40,12 per MMBtu untuk sektor industri dan US$47,54 per MMBtu untuk konsumen umum.

Sebagai perbandingan, harga LNG domestik Indonesia setelah penyesuaian diperkirakan berada pada kisaran US$21-25 per MMBtu, sehingga masih relatif lebih kompetitif dibanding sejumlah negara di kawasan.

Menurut Josua, risiko terbesar jika harga LNG dipaksa terlalu rendah adalah terganggunya minat investasi dan kepastian pasokan energi di masa depan.

"Kepastian pasokan bisa melemah karena penyedia energi akan lebih berhati-hati mengambil kontrak jangka panjang atau membeli pasokan tambahan yang mengikuti harga global," katanya.

Senada, Direktur Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (PPKE FEB UB) Candra Fajri Ananda menilai penyesuaian harga energi merupakan konsekuensi yang sulit dihindari ketika biaya produksi meningkat.

"Dalam situasi seperti sekarang, yang paling penting adalah memastikan energi tersedia dan tidak langka," ujarnya.

Di tengah meningkatnya persaingan global memperebutkan pasokan LNG, tantangan Indonesia bukan sekadar menjaga harga energi tetap rendah. Yang lebih krusial ialah memastikan pasokan tetap tersedia bagi industri dan masyarakat dalam jangka panjang.

Karena itu, keseimbangan antara perlindungan konsumen, keberlanjutan investasi hulu migas, dan ketahanan energi nasional menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing ekonomi ke depan.