Ditunjuk Sebagai Presiden Dewan HAM PBB, Siapa Sidharto Reza Suryodipuro?
- Sidharto Reza Suryodipuro adalah seorang diplomat karier yang telah mendedikasikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk kepentingan diplomasi Indonesia.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Duta Besar Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Sidharto Reza Suryodipuro, resmi terpilih sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB dengan masa tugas selama satu tahun ke depan.
Penunjukan ini menjadi capaian penting bagi diplomasi Indonesia di ranah multilateral internasional. Sidharto terpilih setelah Indonesia diajukan sebagai calon tunggal oleh kelompok negara Asia Pasifik, yang pada periode ini memperoleh giliran memimpin Dewan HAM PBB sesuai dengan mekanisme rotasi kawasan.
Penetapan Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB secara resmi dilakukan dalam sidang Dewan HAM PBB pada Kamis, 8 Januari 2026. Indonesia terpilih melalui mekanisme pemilihan di tingkat kawasan oleh negara-negara anggota Asia-Pacific Group (APG), sebelum kemudian dinominasikan dan disepakati secara global.
Profil Sidharto Reza Suryodipuro
Sidharto Reza Suryodipuro adalah seorang diplomat karier yang telah mendedikasikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk kepentingan diplomasi Indonesia. Ia tumbuh dalam lingkungan yang mendorong pemahaman kuat mengenai hubungan internasional dan pentingnya dialog dalam menyelesaikan konflik.
Sebelum ditugaskan ke Jenewa sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBPP) RI pada November 2025, Sidharto mengemban peran strategis di dalam negeri. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN dan menjadi figur penting ketika Indonesia memegang keketuaan atau Presidensi ASEAN pada 2023.
Sidharto Reza Suryodipuro lahir pada 29 September 1966 di Cologne, Jerman Barat. Ia merupakan keturunan bangsawan Mangkunegaran yang berasal dari keluarga dengan rekam jejak kuat dalam sejarah diplomasi dan dunia media nasional.
Kakeknya, Suyoto Suryodipuro, dikenal sebagai satu pendiri Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia sekaligus Radio Republik Indonesia (RRI). Semasa muda, Sidharto pernah bermimpi menjadi pilot dan memilih jurusan IPA saat SMA. Namun, keterbatasan pada penglihatannya membuat ia kemudian mengubah tujuan karier dan menekuni bidang hubungan internasional.
Ia kemudian melanjutkan studi Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, dan lulus pada 1991. Setelah menyelesaikan studinya, dia mengikuti proses seleksi dan diterima sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri RI.
Hal tersebut menjadi sebuah tonggak penting dalam hidupnya yang terjadi tidak lama setelah kepergian sang kakek. Selanjutnya, ia kembali menempuh pendidikan pascasarjana melalui beasiswa Fulbright di Naval Postgraduate School, Amerika Serikat.
Pada 2003, ia meraih gelar Master of Arts with Distinction in National Security Affairs, yang semakin memperkokoh fondasi akademiknya dalam bidang keamanan dan diplomasi internasional.
Karier diplomatik Sidharto Reza Suryodipuro terbilang panjang dan strategis. Ia pernah mengemban tugas sebagai First Secretary di Kedutaan Besar RI di Canberra pada 2004-2006, kemudian melanjutkan penugasan sebagai Counsellor di Perwakilan Tetap RI untuk PBB pada 2006-2009.
Di dalam negeri, ia juga dipercaya menempati berbagai posisi penting di Kementerian Luar Negeri, mulai dari Deputy Director APEC, Direktur, hingga menjabat sebagai Deputy Chief of Mission di Kedutaan Besar RI di Washington DC pada 2014-2017.
Nama Sidharto dikenal luas oleh publik ketika ia menjabat sebagai Duta Besar RI untuk India dan Bhutan pada periode 2017-2021. Setelah itu, ia dipercaya mengemban peran sebagai Direktur Jenderal sekaligus Senior Official Indonesia untuk ASEAN selama hampir lima tahun.
Sejak November 2025, Sidharto menduduki jabatan Duta Besar dan Wakil Tetap RI untuk PBB dan WTO di Jenewa, yang sekaligus mengantarkannya menjadi Presiden Dewan HAM PBB pada 2026.

Distika Safara Setianda
Editor
