Digantikan AI, 200.000 Karyawan Bank di Eropa Terancam PHK
- Morgan Stanley dalam laporan terbarunya menyebutkan sekitar 10% tenaga kerja bank-bank besar di Eropa berpotensi terdampak hingga 2030.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diperkirakan akan membawa dampak signifikan terhadap industri perbankan Eropa dalam lima tahun ke depan.
Lebih dari 200.000 pekerjaan perbankan diproyeksikan berada dalam risiko seiring semakin masifnya adopsi AI dan digitalisasi operasional lembaga keuangan.
Morgan Stanley dalam laporan terbarunya menyebutkan sekitar 10% tenaga kerja bank-bank besar di Eropa berpotensi terdampak hingga 2030.
“lebih dari 200.000 pekerjaan perbankan di Eropa berada dalam ancaman selama lima tahun ke depan, seiring lembaga keuangan semakin mengadopsi kecerdasan buatan.” tulis Morgan Stanley dalam laporannya, dikutip Financial Times, Jumat, 2 Januari 2026.
Baca juga : Emas Antam 2025 Cuan 65 Persen, Tahun 2026 Giliran Perak?
Back Office Jadi Sektor Paling Rentan
Tekanan terbesar diperkirakan akan terjadi pada fungsi-fungsi yang bersifat rutin dan administratif, seperti back office, manajemen risiko, kepatuhan (compliance), serta layanan internal.
AI dinilai mampu menggantikan banyak tugas berulang yang sebelumnya membutuhkan keterlibatan manusia secara intensif.
Analis Morgan Stanley menilai otomatisasi berbasis AI akan meningkatkan efisiensi biaya secara signifikan. Namun, di sisi lain, langkah tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja konvensional.
“Bank-bank besar Eropa berpotensi memangkas sekitar satu dari sepuluh posisi kerja mereka dalam beberapa tahun ke depan,” tulis laporan tersebut.
Selain pengurangan tenaga kerja, transformasi digital juga mempercepat penutupan cabang fisik di berbagai negara Eropa. Bank semakin mengandalkan platform digital, aplikasi seluler, serta sistem berbasis AI untuk melayani nasabah, sekaligus menekan biaya operasional jangka panjang.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran strategi industri perbankan yang semakin menitikberatkan pada efisiensi teknologi dan layanan digital dibandingkan jaringan kantor konvensional.
Baca juga : 10 Kebiasaan yang Bikin Kamu Susah Sukses Seumur Hidup
Tren adopsi AI juga memunculkan kekhawatiran terkait pengembangan sumber daya manusia, khususnya bagi bankir junior. Beberapa eksekutif perbankan menilai ketergantungan berlebihan pada AI dapat menghambat pembentukan keterampilan dasar.
“jika bankir junior tidak lagi mempelajari keterampilan fundamental karena terlalu bergantung pada AI, hal ini justru bisa merugikan industri dalam jangka panjang.” tulis salah satu eksekutif perbankan Uni Eropa, kutip Financial Times.
Menurutnya, pengalaman operasional dasar tetap penting sebagai fondasi pengambilan keputusan strategis di masa depan.
Meski membawa risiko terhadap lapangan kerja, AI juga membuka peluang baru bagi industri perbankan, termasuk peningkatan akurasi analisis risiko, pengembangan produk keuangan, serta layanan nasabah yang lebih cepat dan personal.
Namun, para analis menilai keberhasilan transformasi ini akan sangat bergantung pada kemampuan bank menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan pengelolaan tenaga kerja. Tanpa strategi reskilling dan upskilling yang memadai, adopsi AI berisiko memicu tekanan sosial dan ketenagakerjaan yang lebih luas.
Dengan laju perkembangan teknologi yang terus meningkat, periode menuju 2030 diperkirakan akan menjadi fase krusial bagi perbankan Eropa dalam menentukan arah transformasi digital dan keberlanjutan industrinya.

Amirudin Zuhri
Editor
