Bantul dan Pacitan Dilanda Gempa, Penyebabnya Berbeda
- Meski terjadi pada hari yang sama dan dirasakan di wilayah yang luas, BMKG menjelaskan gempa Bantul dan Pacitan dipicu oleh mekanisme geologi yang berbeda.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Dua gempa bumi mengguncang wilayah selatan Pulau Jawa pada Selasa, 27 Januari 2026, masing-masing di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Pacitan, Jawa Timur.
Meski terjadi pada hari yang sama dan dirasakan di wilayah yang luas, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kedua gempa tersebut dipicu oleh mekanisme geologi yang berbeda.
Gempa pertama terjadi di wilayah Bantul dengan magnitudo 4,5, sementara gempa kedua mengguncang Pacitan dengan magnitudo 5,7.
Gempa bermagnitudo 4,5 yang mengguncang Bantul terjadi pada Selasa pagi dan tergolong sebagai gempa kerak dangkal. BMKG menjelaskan bahwa gempa ini berkaitan langsung dengan aktivitas Sesar Opak, salah satu sesar aktif paling berbahaya di Pulau Jawa.
“Berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber, gempa berada di wilayah aktivitas Sesar Opak. Kedalamannya relatif dangkal, sehingga guncangan dirasakan cukup jelas oleh masyarakat,” jelas Tim Observasi Stasiun Geofisika BMKG DIY, Budiarta, dalam keterangan resmi, dikutip Selasa, 27 Januari 2026.
Awalnya, BMKG mencatat kekuatan gempa sebesar M4,4, namun setelah analisis lanjutan, magnitudonya dimutakhirkan menjadi M4,5. Episenter gempa terletak pada koordinat 7,87 Lintang Selatan dan 110,49 Bujur Timur, atau sekitar 16 kilometer timur Bantul, dengan kedalaman 11 kilometer.
Getaran dirasakan di sejumlah wilayah DI Yogyakarta, meliputi Bantul, Sleman, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Selain itu, guncangan juga terasa hingga Magelang, Purworejo, Wonogiri, dan Solo di Jawa Tengah, serta Pacitan dan Trenggalek di Jawa Timur.
BMKG mencatat intensitas gempa di beberapa lokasi mencapai III MMI, yakni getaran terasa nyata di dalam rumah seperti ada kendaraan berat melintas. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa.
Baca juga : BREN Masuk LQ45 Geser ACES, Bobotnya Langsung Jumbo
Sesar Opak adalah patahan aktif di Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi sumber utama gempa dangkal di wilayah Bantul dan sekitarnya. Sesar ini membentang sekitar 45–50 kilometer dari kawasan Kretek di Bantul hingga Prambanan di Sleman, sejajar dengan aliran Sungai Opak.
Secara mekanisme, Sesar Opak bertipe sesar geser (strike-slip) dengan komponen vertikal kecil, sehingga gempa yang dihasilkan umumnya berkedalaman dangkal dan dapat menimbulkan guncangan kuat meskipun magnitudonya tidak terlalu besar.
Sesar Opak dikenal berbahaya karena memiliki sejarah gempa merusak, termasuk gempa besar 27 Mei 2006 bermagnitudo 6,4 yang menewaskan ribuan orang dan merusak ratusan ribu bangunan di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Berdasarkan kajian kebencanaan, sesar ini berpotensi memicu gempa hingga magnitudo sekitar 6,6 dan hingga kini masih aktif secara geologi.
Risiko dampak gempa di wilayah sekitar Sesar Opak semakin tinggi karena banyak area didominasi tanah lunak yang dapat memperkuat guncangan, sehingga kesiapsiagaan dan penerapan bangunan tahan gempa menjadi sangat penting.
Gempa Pacitan Dipicu Deformasi Dalam Lempeng
Pada hari yang sama, wilayah Pacitan, Jawa Timur, diguncang gempa bermagnitudo 5,5 yang kemudian dimutakhirkan menjadi M5,7. Berbeda dengan gempa Bantul, gempa Pacitan merupakan gempa menengah dengan kedalaman 122 kilometer.
BMKG mencatat episenter gempa Pacitan berada di koordinat 8,18° Lintang Selatan dan 111,33° Bujur Timur, dengan lokasi pusat gempa di darat, sekitar 24 kilometer tenggara Pacitan. Gempa ini dirasakan luas hingga Yogyakarta, Jawa Tengah bagian selatan, Jawa Timur, bahkan sampai Bali.
BMKG memastikan gempa Pacitan tidak berpotensi tsunami. Mekanisme sumber gempa berupa pergerakan naik (thrust fault) yang dipicu oleh deformasi batuan dalam lempeng (intraplate), bukan oleh sesar aktif di permukaan.
Baca juga : Gen Z Tinggalkan Alkohol dan Lebih Memilih Minum Kopi
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," jelas Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, dikutip keterangan resmi.
Wilayah selatan Jawa merupakan zona tektonik aktif akibat pertemuan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Tekanan antar lempeng ini dapat terakumulasi dan dilepaskan sewaktu-waktu dalam bentuk gempa bumi, baik gempa dangkal, menengah, maupun dalam.
Untuk wilayah Pacitan, selain gempa intraplate seperti yang terjadi hari ini, terdapat pula Sesar Grindulu, sesar aktif yang membelah Kabupaten Pacitan dengan orientasi timur laut–barat daya. Sesar Grindulu pernah memicu gempa dangkal yang umumnya bersifat lokal dan dirasakan terbatas di sekitar Pacitan.
BMKG menegaskan bahwa gempa Pacitan kali ini tidak berkaitan langsung dengan Sesar Grindulu, melainkan berasal dari proses deformasi batuan jauh di dalam kerak dan mantel atas.

Muhammad Imam Hatami
Editor
