BREN Masuk LQ45 Geser ACES, Bobotnya Langsung Jumbo
- BEI umumkan evaluasi LQ45: BREN masuk dengan bobot besar 6,83%, sementara ACES resmi keluar. Simak dampak rotasi indeks ini bagi portofolio investasi Anda.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Bursa Efek Indonesia baru saja mengumumkan hasil evaluasi mayor terhadap konstituen indeks LQ45 untuk periode perdagangan mendatang. Dalam pengocokan ulang kali ini, saham emiten energi terbarukan PT Barito Renewables Energy Tbk atau BREN resmi masuk menjadi anggota baru indeks elite tersebut.
Masuknya BREN ke dalam jajaran 45 saham paling likuid ini langsung disertai dengan penetapan bobot indeks yang tergolong sangat signifikan. Hal ini mencerminkan dominasi kapitalisasi pasar perseroan yang besar serta tingkat likuiditas perdagangan yang tinggi dibandingkan saham penghuni indeks lainnya.
Perubahan konstituen ini akan mulai berlaku efektif pada perdagangan tanggal 2 Februari 2026 hingga 30 April 2026 mendatang. Investor diharapkan mencermati rotasi ini karena seringkali memicu penyesuaian portofolio atau rebalancing oleh manajer investasi yang menggunakan LQ45 sebagai acuan kinerja produknya.
1. Bobot Jumbo BREN
Berdasarkan data evaluasi terbaru, BREN tercatat memiliki rasio saham beredar di masyarakat atau free float sebesar 12,30% saat ini. Mengacu pada rasio tersebut, bursa menetapkan jumlah saham BREN yang diperhitungkan dalam indeks setelah evaluasi adalah sekitar 16,46 miliar lembar saham.
Sebagai pendatang baru, emiten energi milik Prajogo Pangestu ini langsung memperoleh bobot indeks yang sangat besar yakni mencapai 6,83%. Angka ini tergolong fantastis untuk sebuah saham yang baru saja bergabung, sekaligus menempatkannya di jajaran atas penggerak utama indeks tersebut.
Besarnya bobot ini menunjukkan bahwa BREN memiliki kapitalisasi pasar dan likuiditas yang sangat signifikan dibandingkan konstituen lain di indeks LQ45. Masuknya saham ini diprediksi akan memberikan warna baru pada pergerakan indeks ke depannya, terutama dari sektor energi terbarukan yang sedang naik daun.
2. ACES Terdepak
Di sisi lain, masuknya anggota baru ini memakan korban dengan terdepaknya salah satu saham ritel dari perhitungan indeks LQ45 periode ini. Dalam pengumuman resmi disebutkan bahwa PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk atau ACES harus rela keluar dari daftar saham paling likuid tersebut.
Keluarnya ACES dari indeks LQ45 menandai berakhirnya periode keanggotaan emiten ritel perlengkapan rumah tangga ini dalam jajaran saham elite bursa. Evaluasi rutin ini memang dilakukan bursa secara berkala untuk memastikan konstituen indeks tetap relevan dengan kondisi likuiditas pasar yang dinamis.
Investor perlu mewaspadai potensi tekanan jual jangka pendek pada saham ACES akibat adanya penyesuaian portofolio reksa dana indeks. Manajer investasi biasanya akan melepas saham yang keluar dari indeks acuan mereka dan menggantinya dengan saham baru yang masuk agar kinerja tetap selaras.
3. Metode Free Float
Dalam dokumen evaluasi yang diterbitkan pada tanggal 26 Januari 2026, dijelaskan bahwa setiap saham dievaluasi secara ketat berdasarkan rasio free float. Rasio ini merupakan persentase kepemilikan saham oleh investor publik yang bukan pemegang saham pengendali dan sahamnya siap diperdagangkan di pasar reguler.
Rasio free float ini menjadi dasar utama bagi otoritas bursa untuk menentukan jumlah saham yang dihitung dalam bobot indeks tersebut. Semakin besar porsi saham yang dimiliki oleh publik, maka semakin besar pula pengaruh saham tersebut terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.
Pendekatan ini digunakan untuk memastikan bahwa indeks LQ45 benar-benar mencerminkan kondisi pasar yang riil dan dapat ditransaksikan oleh para investor. Saham dengan kapitalisasi pasar besar namun tidak likuid atau dikuasai pengendali tidak akan mendominasi pergerakan indeks secara tidak wajar di pasar.
4. Batas Atas Bobot
Selain metode free float, Bursa Efek Indonesia juga menerapkan aturan ketat mengenai batas maksimum bobot atau cap sebesar 15% per saham. Kebijakan ini diambil untuk mencegah satu saham memiliki pengaruh yang terlalu dominan dan tidak proporsional terhadap pergerakan indeks LQ45.
Tanpa adanya pembatasan ini, saham dengan kapitalisasi pasar super jumbo bisa menyetir arah indeks sendirian, sehingga mendistorsi gambaran pasar yang sebenarnya. Dengan batas 15%, pergerakan indeks diharapkan lebih stabil dan merepresentasikan kinerja kolektif dari 45 saham likuid yang menjadi anggotanya.
Mekanisme pembatasan bobot ini dievaluasi secara berkala bersamaan dengan evaluasi mayor konstituen indeks untuk menjaga kewajaran dan integritas pasar modal. Hal ini memberikan perlindungan bagi investor pasif yang mengikuti indeks agar portofolio mereka tetap terukur risikonya dan tidak terkonsentrasi pada satu emiten.

Alvin Bagaskara
Editor
