Soroti Anomali Pasar, Menkeu Purbaya Ungkap 4 Fakta Rupiah
- JAKARTA, TRENASIA.ID – Dinamika pasar keuangan Indonesia pada awal pekan ini menunjukkan fenomena yang tidak lazim, di mana nilai tukar mata uang Garuda terus t

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Dinamika pasar keuangan Indonesia pada awal pekan ini menunjukkan fenomena yang tidak lazim, di mana nilai tukar mata uang Garuda terus tertekan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Situasi ini kontras dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru sedang berpesta dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.075,41.
Kontradiksi antara pasar saham yang bullish dan pasar uang yang bearish ini memicu respons dari otoritas fiskal, mengingat derasnya arus modal masuk (capital inflow) secara teori seharusnya memperkuat kurs. Tak ayal, anomali ini menjadi sorotan karena terjadi justru di saat indikator fundamental ekonomi nasional menunjukkan tren perbaikan.
Merespons hal itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tetap menghormati wewenang penuh otoritas moneter dalam menjaga stabilitas kurs. Meski terjadi tekanan pada nilai tukar, ia meyakini fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup tangguh untuk meredam gejolak eksternal tersebut.
1. Kewenangan Mutlak Bank Sentral
Purbaya menegaskan fakta bahwa pemerintah tidak memiliki instrumen untuk mengintervensi pasar valas secara langsung. Ia menyatakan bahwa pertanyaan mengenai penyebab pelemahan Rupiah di tengah banjirnya modal asing lebih tepat ditujukan kepada Bank Indonesia selaku pemegang otoritas kebijakan moneter.
“Tanya saja ke Bank Sentral apa yang terjadi. Ketika capital inflow masuk ke sini besar, kenapa rupiahnya melemah? Karena saya enggak bisa intervensi untuk kebijakan nilai tukar, itu otoritas Bank Sentral,” tegas Purbaya di kompleks Kementerian Keuangan, Senin, 19 Januari 2026.
2. Depresiasi Masih Terkendali
Fakta kedua menyoroti besaran pelemahan yang dinilai masih dalam batas wajar. Secara tahun berjalan (year to date), depresiasi Rupiah berada di kisaran 2% hingga 3%. Angka ini dianggap Purbaya masih relatif kecil dan tidak akan mengguncang stabilitas ekonomi makro secara keseluruhan.
Kondisi menegaskan bahwa volatilitas yang berlangsung belum memerlukan respons kebijakan fiskal yang drastis oleh pemerintah. “Kalau pelemahan dilihat dari persentase, kan sedikit dibanding level sebelumnya. Jadi harusnya sistem kita terjaga dan dampaknya ke ekonomi minimum,” ujarnya.
3. Bukti Arus Modal Masuk
Selain itu, Menkeu menyoroti fakta tak terbantahkan dari kinerja pasar modal sebagai indikator kepercayaan investor. Kenaikan IHSG yang mencetak rekor All Time High adalah bukti konkret adanya aliran dana besar yang masuk ke Indonesia, yang membuat pelemahan Rupiah saat ini semakin tidak memiliki landasan fundamental yang kuat.
Melihat IHSG yang berjaya, Purbaya pun optimis jika fundamental ekonomi dijaga dan terus diperbaiki, mata uang Garuda akan cenderung menguat seiring masuknya modal asing. “Anda lihat pasar modal kan naik. Pasar modal enggak mungkin naik kalau enggak ada investor asing atau investor domestik masuk ke sini juga,” jelasnya.
4. Penilaian Internal
Fakta terakhir berkaitan dengan koordinasi antarlembaga. Purbaya mengakui dirinya memiliki assessment atau penilaian pribadi mengenai penyebab divergensi pasar ini, namun ia memilih bungkam. Hal ini dilakukan untuk menjaga etika komunikasi publik antaranggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Meski demikian, ia memastikan sinergi dengan BI, OJK, dan LPS terus berjalan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. “Saya punya assessment, tapi saya enggak boleh ngomong. Anda tanya ke Bank Sentral aja apa yang terjadi,” tutupnya.

Alvin Bagaskara
Editor
