Tren Pasar

Asing Kabur, Kenapa Investor Lokal Berani Tampung IHSG?

  • IHSG kembali menyentuh level tertinggi di tengah tekanan nilai tukar rupiah. Dominasi transaksi investor lokal terbukti mampu meredam aksi jual investor asing.
IHSG Ditutup Melemah.jpg
Karyawan beraktivitas di depan layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin, 9 Mei 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026. Reli ini melanjutkan penutupan perdagangan sebelumnya yang sukses mencatatkan rekor all time high baru.

Berdasarkan pantauan TrenAsia.Id hingga pukul 10.50 WIB, IHSG mencatatkan rekor intraday 9.163 atau menguat 0,36%. Kondisi pun membingungkan karena gerak IHSG dengan mata uang Rupiah bergerak berlawan arah.

Momentum ini melanjutkan tren positif perdagangan Senin, 19 Januari 2026, di mana IHSG sukses mencetak rekor tertinggi baru di level 9.133. Kekuatan pasar juga tercermin pada indeks LQ45 yang ditutup menguat 0,41% atau naik 3,69 poin menuju level 893,12 pada penutupan sesi sore kemarin.

Fenomena ini memicu diskusi hangat di kalangan pelaku pasar karena pergerakan indeks terlihat bergerak berlawanan arah dengan indikator makroekonomi eksternal. Di saat bursa global tertekan, pasar saham Indonesia justru menunjukkan resiliensi yang luar biasa bagi para investor saham domestik.

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, memberikan pandangan mengenai anomali positif ini. Menurutnya, pencapaian IHSG di level 9.133 menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia sedang berada dalam fase kepercayaan yang sangat kuat terhadap prospek ekonomi nasional di masa depan yang akan datang.

Kondisi ini tetap terjadi meskipun sentimen global saat ini dipenuhi berbagai risiko sistemik yang mengancam. Mulai dari ancaman perang dagang yang kembali memanas, ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed, hingga ketegangan geopolitik yang terus bereskalasi di berbagai kawasan dunia.

"Kondisi ini mencerminkan adanya perubahan perilaku signifikan pada para pelaku pasar di awal 2026. Investor kini cenderung mampu memisahkan antara sentimen global jangka pendek dengan fundamental emiten serta prospek pertumbuhan domestik yang nyata," ujar Hendra kepada TrenAsia.id pada Senin, 19 Januari 2026.

Likuiditas Domestik Jadi Penopang

Hendra menjelaskan bahwa faktor utama pendorong IHSG adalah melimpahnya likuiditas domestik yang tetap terjaga. Hal ini terbukti dari data perdagangan Senin kemarin, di mana investor lokal tampil percaya diri melakukan aksi akumulasi masif saat investor asing cenderung menarik dana.

Berdasarkan data yang dihimpun TrenAsia dari laman Stockbit Sekuritas, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp542,75 miliar. Asing tercatat menjual saham senilai Rp8,12 triliun, lebih besar dibandingkan nilai pembelian mereka yang hanya mencapai Rp7,58 triliun.

Sebaliknya, investor domestik menjadi penopang utama likuiditas dengan mencatatkan transaksi jumbo. Investor lokal melakukan pembelian sebesar Rp19,92 triliun dan penjualan Rp19,37 triliun. Sehingga, tercatat aksi beli bersih (net buy) domestik sekitar Rp550 miliar pada perdagangan kemarin.

Angka tersebut menunjukkan bahwa barang yang dibuang asing diserap sepenuhnya oleh lokal. Dominasi domestik sangat terlihat pada persentase partisipasi pasar yang mencapai 71,45% dari total nilai transaksi, sementara partisipasi asing hanya berkontribusi sebesar 28,55% pada hari tersebut.

Fundamental Ekonomi dan Risiko Global

Ketangguhan ini, kata Hendra, diorong oleh keyakinan bahwa Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas fiskal nasional. Hal ini sangat krusial di tengah depresiasi nilai tukar rupiah yang kini merayap mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS di pasar spot saat ini.

Meskipun pelemahan rupiah memberikan tekanan pada biaya impor, ekspektasi pertumbuhan ekonomi tetap positif bagi pasar. Fondasi pertumbuhan di atas 5% menjadi penopang utama indeks. Kenaikan IHSG kali ini dinilai tidak digerakkan oleh euforia semata, melainkan melalui pertimbangan investasi yang sangat rasional.

Investor lebih memilih sektor-sektor yang memiliki daya tahan terhadap tekanan eksternal global. Selain itu, mereka mencari peluang pertumbuhan laba yang jelas meskipun kondisi makroekonomi sedang rapuh. Hal ini tercermin dari masuknya aliran dana ke saham-saham berkapitalisasi besar.

Namun, Hendra memberikan catatan kewaspadaan bagi para pelaku pasar modal di tanah air. Risiko akan meningkat jika tekanan eksternal berkembang menjadi krisis sistemik global. Eskalasi perang dagang atau pemangkasan suku bunga The Fed yang tertunda dapat menjadi sandungan serius bagi laju indeks.