Tren Ekbis

SMI Buka Obligasi Baru untuk Biayai Proyek Hijau

  • PT SMI membuka peluang masyarakat berinvestasi lewat obligasi berbasis keberlanjutan untuk membiayai proyek energi terbarukan nasional.
IMG-20260304-WA0003.jpg
Media briefing PT SMI (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI bersiap membuka obligasi baru dalam strategi pendanaan pembangunan nasional. Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansyah mengatakan langkah ini membuka peluang partisipasi publik yang sebelumnya didominasi investor institusi seperti perbankan, dana pensiun, asuransi, dan korporasi.

“Kami akan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat secara umum untuk bisa berpartisipasi pada penerbitan obligasi ini,” ujar Reynaldi dalam Media Briefing, Selasa, 3 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa penerbitan obligasi ini bukan sekadar aksi korporasi biasa, melainkan bagian dari transformasi peran perseroan sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan dalam mendorong pembangunan yang inklusif.

Langkah tersebut dinilai sebagai inovasi penting, mengingat selama ini investor PT SMI didominasi oleh institusi besar seperti perbankan, dana pensiun, perusahaan asuransi, hingga korporasi. Dengan membuka akses kepada publik, perseroan ingin menghadirkan alternatif investasi yang tidak hanya menawarkan imbal hasil, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan dengan pembiayaan mulai dari Rp8-10 triliun.

Sebagai lembaga pembiayaan infrastruktur, PT SMI selama ini mengandalkan beragam sumber dana, termasuk pasar modal. Penerbitan obligasi menjadi salah satu instrumen utama dalam menjaga kesinambungan pendanaan proyek.

“Sebagaimana tadi telah disampaikan, kami ini sebagai lembaga pembiayaan. Salah satu sumber pendanaannya adalah memang melalui pasar modal,” jelas Reynaldi.

Namun, yang membedakan rencana kali ini adalah pendekatannya yang lebih inklusif serta fokus pada prinsip keberlanjutan. Obligasi yang akan diterbitkan dirancang berbasis sustainability bond, sehingga dana yang dihimpun secara khusus dialokasikan untuk proyek-proyek yang memenuhi kriteria lingkungan dan sosial.

Sebelumnya, PT SMI juga telah mencatatkan sejumlah inovasi, termasuk penerbitan obligasi zero coupon bertenor panjang 10–15 tahun. Instrumen tersebut menunjukkan kemampuan perseroan dalam menghadirkan variasi produk pendanaan yang adaptif terhadap kebutuhan pasar.

Dalam rencana terbaru ini, dana hasil penerbitan obligasi akan diarahkan untuk membiayai proyek-proyek energi baru dan terbarukan. Sektor ini menjadi prioritas sejalan dengan agenda transisi energi nasional dan komitmen Indonesia terhadap pengurangan emisi karbon.

“Penerbitan obligasi ini juga berbasis keberlanjutan, di mana proyek-proyek yang akan kita biayai adalah proyek-proyek dalam industri baru maupun terbarukan,” tegas Reynaldi.

Permintaan terhadap proyek berkelanjutan dinilai masih sangat kuat. PT SMI melihat peluang pembiayaan di berbagai subsektor, seperti pembangkit listrik tenaga panas bumi (geotermal), mini hidro, hingga tenaga surya.

Kebutuhan pembiayaan di sektor ini memang tidak kecil. Transisi energi memerlukan investasi jangka panjang dengan struktur pembiayaan yang stabil dan berkelanjutan. Dalam hal ini, PT SMI mengambil peran sebagai katalis, untuk menjembatani kebutuhan proyek dengan sumber dana masyarakat.

Sebagai SMV di bawah Kementerian Keuangan, PT SMI memiliki mandat khusus untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur nasional. Infrastruktur yang memadai diyakini menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan merata.

Melalui pembiayaan proyek jalan, jembatan, energi, air minum, hingga fasilitas publik lainnya, PT SMI berupaya memastikan setiap proyek memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang terukur.

Dengan membuka peluang obligasi ritel berbasis keberlanjutan, perseroan memperluas peran tersebut. Bukan hanya sebagai lembaga pembiayaan, tetapi juga sebagai jembatan antara masyarakat dan agenda pembangunan jangka panjang.

Langkah ini menjadi pergeseran paradigma bahwa pembangunan tidak semata tanggung jawab pemerintah atau investor besar. Masyarakat pun dapat menjadi bagian dari solusi pembiayaan, sekaligus memperoleh manfaat investasi yang terukur.