Tren Ekbis

Produksi CPO Naik 12,6% Tapi Ekspor Turun 77.000 Ton

  • Produksi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) naik 12,6% mencapai 3,68 ton pada April, tetapi ekspor CPO justru turun 77.000 ton pada Maret 2020....
Sukirno

Sukirno

Author

Produksi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) naik 12,6% mencapai 3,68 ton pada April, tetapi ekspor CPO justru turun 77.000 ton pada Maret 2020.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mencatat produksi CPO pada April mencapai 3,68 juta ton atau tumbuh 12,6% dari produksi Maret sebesar 3,27 juta ton.

“Meningkatnya produksi pada April ini diharapkan merupakan titik awal fase kenaikan produksi musiman untuk tahun 2020,” kata dia di Jakarta, Senin, 8 Juni 2020.

Berdasarkan catatan Gapki, tren produksi CPO sejak awal tahun cenderung menurun yakni dari 3,48 juta ton pada Januari 2020, kemudian menjadi 3,3 juta ton pada Februari, dan 3,27 juta ton pada Maret.

Sementara itu jika dibandingkan Januari-April 2019, produksi CPO 2020 lebih rendah sekitar 12,2%. Produksi yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu merupakan efek dari kemarau panjang.

Untuk konsumsi dalam negeri pada April turun 98.000 ton atau turun sekitar 6,6% dibandingkan Maret, yang dipengaruhi dari turunnya konsumsi biodiesel sebanyak 113.000 ton.

Hal itu merupakan dampak dari turunnya mobilitas masyarakat. Namun jika dibandingkan dengan Januari-April 2019, konsumsi biodiesel pada tahun ini lebih tinggi karena implementasi B30.

Jika dilihat dari penggunaannya, konsumsi untuk keperluan pangan naik tipis dari 721.000 ton menjadi 725.000 ton. Sementara itu konsumsi oleokimia naik 11.000 ton menjadi 115.000 ton karena meningkatnya pemakaian hand sanitizer dan sabun.

“Konsumsi oleokimia diperkirakan masih akan bertahan meskipun ada pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena protokol COVID-19 masih tetap diterapkan,” kata Mukti.

Mukti menambahkan bahwa di tengah pandemi COVID-19 yang telah berjalan lebih dari dua bulan, kegiatan operasional di perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit masih berjalan normal dengan mengikuti protokol pencegahan secara disiplin.

Ekspor Turun Tipis

Sementara itu, Gapki mencatat ekspor minyak sawit pada bulan April turun 77.000 ton menjadi 2,65 juta ton dibandingkan Maret 2020.

Berdasarkan catatan Gapki, ekspor minyak sawit yang terdiri atas CPO dan produk turunannya mengalami tren yang terus tumbuh, yakni sebesar 2,4 juta ton pada Januari 2020; kemudian 2,54 juta ton pada Februari, dan 2,73 juta ton pada Maret 2020, tapi pada April turun sebesar 2,8% dibandingkan Maret.

“Ekspor turun 2,8% dibandingkan Maret, mengalami penurunan sebesar 77.000 ton, terdiri dari 44.000 ton dari refined palm oil dan 33.000 ton dari CPO,” kata Mukti Sardjono.

Mukti menjelaskan berdasarkan tujuannya, penurunan ekspor terbesar terjadi ke Bangladesh, Afrika, dan Timur Tengah masing-masing sebesar 118.000 ton, 62.000 ton, dan 56.000 ton. Ketiga negara tersebut menyumbang impor terbesar pada Maret lalu.

Sebaliknya, ekspor ke Pakistan naik 100% menjadi 201.000 ton disebabkan impor yang sangat rendah pada Maret.

Ekspor ke China tercatat naik 37% menjadi 417.000 ton, meskipun volume ini masih jauh lebih rendah dari ekspor ke negara tersebut pada 2019 sebesar 730.000 ton.

Sementara itu, ekspor ke India dan Uni Eropa juga menunjukkan sedikit kenaikan. Mukti menilai tren yang positif ini diperkirakan akan berjalan terus dengan semakin meredanya pandemi COVID-19.

Jika dibandingkan dengan Januari-April 2019, ekspor tahun ini lebih rendah 12,1%, namun nilai ekspornya lebih tinggi sebesar 9,4% yakni US$6,96 miliar, dibandingkan tahun lalu sebesar US$6,37 miliar.

Gapki juga mencatat harga CPO turun dari rata-rata US$636 per ton pada Maret menjadi US$516 per ton Cif Rotterdam pada April. (SKO)