Potensi Sukuk ESG Tembus US$70 Miliar, Apa Pendorongnya?
- Nilai sukuk ESG global diprediksi tembus US$70 miliar pada 2026. Kenapa instrumen ini makin diminati investor? Simak ulasan pendorong dan risikonya di sini.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Nilai sukuk berbasis environment, social, and governance atau ESG secara global diperkirakan akan terus meroket tajam hingga akhir tahun 2026 mendatang. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings memprediksi total nilai instrumen syariah berkelanjutan ini bakal menembus angka fantastis sekitar US$70 miliar.
Perkembangan pesat tersebut mencerminkan adanya pergeseran minat investor yang mulai melirik investasi berbasis nilai-nilai keberlanjutan global. Kehadiran kerangka regulasi baru di pasar-pasar berkembang menjadi motor penggerak utama yang memperkuat posisi sukuk ESG dalam portofolio investasi berskala internasional saat ini.
Refinancing serta kebutuhan pembiayaan proyek ramah lingkungan menjadi alasan kuat bagi banyak emiten untuk menerbitkan instrumen keuangan ini. Target emisi nol bersih yang dicanangkan berbagai negara turut memperlebar ruang pertumbuhan bagi pasar surat utang syariah dunia tersebut pada tahun ini.
1. Momentum Pertumbuhan Global
Selain kebutuhan pembiayaan, momentum pasar sukuk syariah tahun ini sangat didorong oleh mandat keberlanjutan yang kian kuat di seluruh dunia. Para emiten kini lebih aktif mendiversifikasi sumber dana mereka guna memenuhi target standar lingkungan yang telah ditetapkan oleh regulator global.
Sentimen positif juga datang dari estimasi tingkat suku bunga acuan The Fed yang diprediksi melandai ke level 3,25% pada tahun 2026. Kondisi makroekonomi yang lebih stabil ini memberikan ruang bagi penurunan biaya modal bagi para penerbit sukuk di pasar modal dunia.
Bashar Al Natoor selaku Global Head of Islamic Finance Fitch menyatakan bahwa kombinasi regulasi dan permintaan solid menjadi fondasi pertumbuhan industri ini. “Kami memperkirakan sukuk ESG akan mempertahankan momentum yang kuat pada 2026 didukung oleh kerangka regulasi baru,” dalam keterangan resminya pada Senin, 16 Februari 2026.
2. Dominasi Pasar Berkembang
Kontribusi instrumen syariah berkelanjutan ini terlihat sangat dominan dalam kategori penerbitan utang berdenominasi dolar AS dari wilayah pasar berkembang. Pada tahun 2025 saja, sukuk ESG sudah menyumbang sekitar 40% dari total nilai utang hijau yang diterbitkan secara internasional oleh banyak negara.
Angka partisipasi tersebut menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan dengan capaian pada tahun 2024 yang hanya menyentuh level 18%. Penyelarasan prinsip syariah dengan standar International Capital Market Association menjadi faktor kunci yang berhasil memperluas basis partisipasi para pemodal global.
Dominasi penerbitan dalam mata uang dolar AS dinilai akan terus memikat minat para pengelola dana kakap untuk masuk lebih dalam. Hal ini sekaligus memperkuat posisi sukuk sebagai instrumen likuid yang mampu bersaing dengan obligasi konvensional bertema serupa di bursa finansial internasional.
3. Peta Kekuatan Negara Inti
Meskipun trennya terus meningkat, pasar sukuk berkelanjutan saat ini terpantau masih terkonsentrasi di sejumlah negara inti keuangan syariah saja. Arab Saudi memimpin persaingan dengan pangsa pasar 33%, diikuti oleh Malaysia yang mengamankan porsi sebesar 28% dari total penerbitan global.
Uni Emirat Arab berada di posisi ketiga dengan kontribusi 19%, sementara Indonesia berhasil mencatatkan porsi penerbitan sebesar 9% pada tahun lalu. Pertumbuhan nilai sukuk berkelanjutan secara global melonjak lebih dari 60% menjadi US$18,5 miliar sepanjang periode tahun 2025 yang lalu.
Total nilai instrumen yang masih beredar atau outstanding bahkan telah mencapai angka US$58 miliar pada penutupan akhir tahun lalu. Sebagian besar dari nilai tersebut diterbitkan dalam denominasi dolar AS guna menjaga stabilitas nilai tukar bagi para pemegang aset di pasar sekuritas dunia.
4. Kualitas Kredit dan Risiko
Dari sisi kualitas, profil kredit instrumen syariah berkelanjutan ini dinilai tetap sangat kuat meski menghadapi berbagai tantangan makroekonomi dunia. Sebanyak 92% dari total sukuk berkelanjutan yang memiliki peringkat resmi saat ini berada pada kategori layak investasi atau investment grade bagi publik.
Kendati demikian, pasar tetap mewaspadai kemunculan risiko greenwashing serta ketegangan geopolitik yang dapat mengganggu stabilitas arus modal internasional. Dinamika kompleksitas persyaratan syariah serta perbedaan prioritas standar lingkungan antarnegara juga menjadi faktor risiko yang wajib untuk terus dipantau secara intensif.
Bashar Al Natoor menambahkan bahwa tantangan utama tersebut tidak akan menggoyahkan fundamental industri yang sejauh ini masih sangat terjaga. “Meskipun persyaratan ESG terus berkembang dan ada ketegangan geopolitik, namun profil kreditnya tetap sangat kuat,” tegasnya.
5. Geliat Regulasi dan Proyek
Geliat industri ini semakin terlihat nyata melalui langkah berani beberapa negara OKI yang mulai menerbitkan instrumen hijau perdana mereka. Pakistan secara resmi telah meluncurkan sukuk hijau pertamanya, langkah yang kemudian diikuti oleh Oman melalui penerbitan instrumen berkelanjutan berperingkat stabil di pasar.
Sementara itu, pemerintah Malaysia memberikan insentif pajak khusus bagi instrumen investasi syariah berkelanjutan guna mendorong partisipasi sektor swasta lebih luas. Langkah serupa juga diambil oleh otoritas Arab Saudi dan Qatar yang mulai meluncurkan pedoman kerangka kerja keuangan berkelanjutan bagi publik.
Turki yang akan menjadi tuan rumah agenda COP31 pada November 2026 diprediksi bakal menjadi katalisator pertumbuhan industri syariah berkelanjutan. Momentum tersebut diharapkan mampu mendongkrak volume penerbitan instrumen hijau di wilayah pasar inti keuangan islami dalam waktu dekat bagi para investor.

Alvin Bagaskara
Editor
