Perputaran Uang HUT RI Capai Puluhan Triliun, Siapa Panen Cuan?
- Perputaran uang saat HUT RI mencapai puluhan triliun. Simak sektor usaha yang panen omzet, dari ritel modern hingga UMKM.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia tidak hanya menjadi momentum nasional untuk mengenang kemerdekaan, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Mulai dari pusat perbelanjaan, pelaku UMKM, pedagang makanan dan minuman, hingga produsen atribut merah putih merasakan dampak meningkatnya belanja masyarakat.
Namun, di balik besarnya perputaran uang tersebut, tidak semua pelaku usaha menikmati keuntungan yang sama. Data dari berbagai daerah menunjukkan terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat.
Di satu sisi, ritel modern dan pelaku usaha kuliner mencatat kenaikan omzet, tetapi di sisi lain banyak pedagang atribut fisik justru mengalami penurunan penjualan akibat persaingan platform digital dan perubahan kebijakan di tingkat daerah.
Lantas, sektor apa saja yang paling diuntungkan dari momentum 17 Agustus, dan siapa yang justru menghadapi tantangan?
Ritel Modern Jadi Penyumbang Transaksi Terbesar
Salah satu indikator besarnya aktivitas ekonomi selama perayaan kemerdekaan terlihat dari kinerja sektor ritel modern.
Pada penyelenggaraan Indonesia Shopping Festival (ISF) 2025, yang digelar di sekitar 400 pusat perbelanjaan di berbagai kota pada 14–24 Agustus, total transaksi mencapai sekitar Rp25,19 triliun.
Baca juga : MSCI Segera Umumkan Rebalancing, Cek 2 Skenario IHSG
Festival belanja yang diselenggarakan bersama oleh Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), pemerintah, serta pelaku industri ritel tersebut menjadi salah satu penggerak utama konsumsi masyarakat selama peringatan Hari Kemerdekaan.
Besarnya transaksi menunjukkan bahwa momentum 17 Agustus kini tidak hanya identik dengan perlombaan dan upacara, tetapi juga menjadi salah satu musim belanja penting bagi industri ritel nasional.
Pedagang Kuliner dan UMKM Lokal Ikut Panen Omzet
Selain pusat perbelanjaan, pelaku UMKM berbasis kuliner menjadi kelompok yang paling banyak menikmati lonjakan permintaan.
Keramaian berbagai kegiatan seperti jalan sehat, karnaval, pawai budaya, hingga panggung hiburan mendorong meningkatnya penjualan makanan dan minuman di lokasi acara.
Pada tahun 2025, sejumlah daerah bahkan melaporkan kenaikan omzet yang cukup signifikan, antara lain:
- Pedagang minuman di Bone, Sulawesi Selatan, mencatat omzet harian meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari sekitar Rp300 ribu menjadi hampir Rp1 juta saat kegiatan jalan santai HUT RI.
- Pameran UMKM di Karangasem, Bali, menghasilkan perputaran uang sekitar Rp772 juta hanya dalam waktu satu pekan.
- Pemerintah Kabupaten Kupang juga menjadikan rangkaian HUT RI sebagai sarana promosi produk UMKM, hasil pertanian, dan pangan olahan lokal.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kegiatan yang menghadirkan kerumunan masyarakat masih menjadi motor utama peningkatan pendapatan pelaku usaha mikro.
Produsen Bendera Masih Kebanjiran Pesanan
Meski sebagian pedagang atribut mengeluhkan penurunan penjualan, kondisi berbeda justru dialami produsen dalam skala lebih besar. Perajin bendera di sejumlah daerah mengaku masih menerima pesanan dalam jumlah tinggi menjelang Hari Kemerdekaan.
Salah satunya adalah perajin bendera asal Jombang yang dikenal sebagai Mbah Alpan. Dilansir TrenAsia, Rabu, 12 Agustus 2026, Mbah Alpan menerangkan menjelang HUT ke-81 RI, jumlah pesanannya meningkat sekitar tiga kali lipat.
Produksi yang sebelumnya berkisar antara 40 hingga 70 bendera per hari melonjak menjadi lebih dari 400 bendera setiap hari untuk memenuhi permintaan dari berbagai daerah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap atribut kemerdekaan sebenarnya masih tinggi, tetapi pola distribusi dan saluran penjualannya mulai berubah.
Baca juga : Hari UMKM Nasional, BRI Dorong UMKM Lokal Semakin Mandiri
Pedagang Atribut Fisik Justru Mengalami Penurunan
Di sisi lain, pedagang atribut kemerdekaan yang mengandalkan lapak di pinggir jalan menghadapi tantangan yang semakin berat. Berbagai laporan dari sejumlah daerah menunjukkan penurunan omzet yang cukup tajam dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Di Jakarta Selatan, misalnya, seorang pedagang mengaku penjualannya pada musim HUT RI 2025 turun hingga sekitar 90%. Omzet harian yang sebelumnya mencapai sekitar Rp2 juta merosot menjadi hanya sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.
Situasi serupa juga terjadi pada musim perayaan 2026.
Beberapa contoh yang dilaporkan antara lain:
- Pedagang atribut di Tigaraksa, Tangerang, mengaku omzet yang sebelumnya berkisar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per hari kini sulit menembus Rp100 ribu.
- Seorang pedagang di Surabaya mengatakan hingga awal Agustus modal usahanya bahkan belum kembali, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya sudah balik modal pada pekan pertama Agustus.
Momentum Ekonomi Masih Besar, Tetapi Polanya Berubah
Data tersebut menunjukkan bahwa perayaan Hari Kemerdekaan tetap menjadi salah satu momentum ekonomi terbesar setiap tahun.
Namun, distribusi manfaat ekonominya tidak lagi merata. Ritel modern, pusat perbelanjaan, pelaku kuliner, hingga produsen berskala besar masih menikmati peningkatan permintaan.
Sebaliknya, pedagang atribut yang hanya mengandalkan penjualan langsung menghadapi tekanan akibat perubahan perilaku konsumen yang semakin beralih ke belanja daring.
Ke depan, pelaku usaha atribut diperkirakan perlu menyesuaikan model bisnis dengan memperkuat penjualan melalui marketplace, media sosial, maupun menerima pesanan khusus dari instansi, sekolah, dan perusahaan.
Sementara itu, bagi pelaku UMKM makanan dan minuman, berbagai kegiatan perayaan kemerdekaan diperkirakan masih akan menjadi salah satu momentum paling efektif untuk meningkatkan penjualan sekaligus memperluas pasar.

Chrisna Chanis Cara
Editor
