OCBC Optimistis Bisnis Wealth Management RI Cerah
- Direktur OCBC Johannes Husin optimistis bisnis wealth management di Indonesia terus tumbuh didorong pertumbuhan ekonomi, kelas menengah, dan teknologi.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Direktur OCBC, Johannes Husin menilai prospek bisnis pengelolaan kekayaan (wealth management) di Indonesia masih sangat menjanjikan dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional, meningkatnya kelas menengah, serta semakin mudahnya akses masyarakat terhadap produk investasi menjadi pendorong utama perkembangan industri tersebut.
Johannes mengatakan perubahan besar mulai terasa sejak pandemi Covid-19. Saat itu, teknologi digital dan media sosial mempercepat penyebaran informasi investasi sehingga masyarakat semakin mengenal berbagai instrumen keuangan.
“Sejak Covid, pasar bukan di Indonesia saja, di seluruh dunia itu berubah kulturnya. Jelas ada unsur teknologi yang sangat membantu perkembangan informasi dan kata yang kita gunakan adalah democratize,” ujar Johannes dalam pernyataan langsung di Jakarta, Selasa, 20 Mei 2026.
Ia menjelaskan democratize dalam konteks investasi berarti semakin banyak masyarakat yang kini memiliki akses untuk memahami produk keuangan dan mulai berinvestasi. Menurut dia, fenomena ini merupakan perkembangan positif karena membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk mengelola aset dan kekayaannya.
Baca juga : Konsolidasi Manajemen Investasi Himbara Berdampak Positif Jangka Panjang
Pertumbuhan Ekonomi Jadi Indikator Positif
Johannes menilai kondisi ekonomi Indonesia yang relatif stabil juga menjadi faktor penting yang menopang optimisme industri wealth management. Ia menyinggung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sempat berada di kisaran 5% lebih sebagai sinyal kuat bahwa aktivitas ekonomi nasional masih bertumbuh.
“Kita berharap ini akan bertumbuh terus. Bangsa kita aspirasi juga tinggi untuk growth dan ini menciptakan new wealth, kekayaan baru,” katanya.
Menurut Johannes, pertumbuhan kelompok masyarakat menengah dan menengah atas dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan tren positif. Hal itu membuat kebutuhan terhadap produk investasi dan pengelolaan kekayaan semakin meningkat.
“Kalau tahun 90-an semua orang masih ngejar uang, sekarang uang nganggurnya juga sudah banyak yang harus direinvestasi,” ujarnya.
Ia menyebut masyarakat kini tidak hanya fokus mencari penghasilan, tetapi juga mulai memikirkan bagaimana mengembangkan aset yang dimiliki agar dapat menghasilkan keuntungan jangka panjang.
Dalam konteks itu, wealth management memiliki peran penting membantu nasabah merancang strategi investasi sesuai tujuan finansial masing-masing.
Johannes juga menilai tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi saat ini dapat menjadi peluang untuk memperkuat investasi domestik. Menyinggung potensi pengumuman BI Rate yang akan disampaikan Bank Indonesia siang ini, menurutnya, ketika bunga berada di level 5%-7%, masyarakat cenderung lebih tertarik menempatkan dana di instrumen keuangan karena memberikan imbal hasil yang kompetitif.
“Kalau misalnya bunga 6%-7%, orang berpikir uangnya diam saja sudah tumbuh. Ini akan menjadi amunisi untuk memperkuat kekuatan konsumsi Indonesia,” katanya.
Baca juga : Apa Itu Suku Bunga BI? Bisa Ubah Nasib Rupiah, Cicilan, dan Dompet
Pentingnya Memahami Portofolio
Ia menambahkan pertumbuhan aset masyarakat Indonesia seharusnya dapat diarahkan kembali ke produk-produk investasi dalam negeri sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Johannes mengakui kondisi pasar global saat ini masih dipenuhi ketidakpastian akibat tensi geopolitik, perang, dan tekanan ekonomi global. Namun menurut dia, kondisi seperti ini justru menjadi pengingat penting bagi investor untuk memiliki perencanaan keuangan jangka panjang.
“Kita tidak tahu sebenarnya apa yang akan terjadi. Makanya perencanaan harus dijalankan. Ini jadi pelajaran yang baik dan nasabah kami juga melihatnya sebagai momen untuk belajar,” ujarnya.
Dalam menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif, OCBC mendorong nasabah menerapkan strategi investasi berbasis diversifikasi portofolio. Strategi tersebut dilakukan dengan menempatkan dana pada berbagai jenis aset agar risiko investasi dapat lebih seimbang.
Johannes menjelaskan investor dapat membagi penempatan dana ke instrumen seperti deposito, reksa dana saham, obligasi, hingga emas. Dengan begitu, ketika satu instrumen mengalami tekanan, aset lain dapat membantu menjaga stabilitas portofolio.
“Kalau kita lihat contoh sekarang, yang paling bagus mungkin bukan equity, tapi emas. Nah kebetulan di kita, emas itu masuk ke dalam model portfolio juga,” katanya.
Menurut Johannes, pendekatan portofolio menjadi semakin relevan di tengah situasi global yang tidak menentu. Ia menegaskan penting bagi investor untuk tidak hanya fokus pada keuntungan jangka pendek, melainkan tetap disiplin menjalankan rencana investasi jangka panjang yang telah disusun bersama penasihat keuangan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
