Tren Ekbis

Meneropong Kekuatan Industri Garmen Indonesia

  • Di balik maraknya PHK, industri garmen Indonesia tetap menjadi basis produksi merek global seperti Nike dan Adidas. Simak fakta, data, dan prospeknya.
Suasana aktivitas di salah satu pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), perusahaan tekstil yang diputus pailit karena kesulitan keuangan.
Suasana aktivitas di salah satu pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), perusahaan tekstil yang diputus pailit karena kesulitan keuangan. (Dokumentasi Internal Sritex)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Ketika mengenakan sepatu Nike, jersey Adidas, atau pakaian dari berbagai merek fesyen internasional, banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa sebagian produk tersebut dibuat di Indonesia.

Di tengah sorotan pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor tekstil dan garmen dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia ternyata masih menjadi salah satu pusat produksi pakaian terbesar di dunia. 

Berdasarkan berbagai data industri, Indonesia menempati posisi sebagai produsen garmen terbesar ke-8 dunia, sekaligus menjadi basis manufaktur bagi sejumlah merek global.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa industri garmen nasional masih memiliki daya saing tinggi di pasar internasional. Bahkan, sejumlah perusahaan multinasional terus memperluas produksi di Indonesia karena dinilai mampu memenuhi standar kualitas global.

Seberapa Besar Industri Garmen Indonesia?

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor strategis dalam industri manufaktur Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Kementerian Perdagangan, subsektor tekstil dan pakaian jadi menyumbang sekitar Rp218,21 triliun atau 0,99% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2024. 

Sementara itu, nilai tambah sektor tersebut tumbuh sekitar 4,26% dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan mulai pulihnya aktivitas industri setelah menghadapi tekanan dalam beberapa tahun terakhir.

Dari sisi pasar, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan nilai industri tekstil dan garmen Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$40 miliar. 

Dari jumlah tersebut, sekitar US$29 miliar berasal dari pasar domestik, sedangkan sekitar US$11 miliar berasal dari pasar ekspor. Angka ini merupakan estimasi ukuran pasar (market size), bukan nilai ekspor resmi, sehingga berbeda dengan statistik perdagangan luar negeri yang diterbitkan BPS.

Baca juga : Menimbang Saham INDY, Mulai Rebound dari Level Terendah

Adapun berdasarkan statistik perdagangan BPS, nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia mencapai sekitar US$11,9 miliar pada 2024. Nilai tersebut mencakup berbagai komoditas TPT, seperti serat, benang, kain, hingga pakaian jadi. 

Sementara itu, ekspor pakaian jadi (garmen) sebagai salah satu subsektor TPT tercatat sekitar US$8,32 miliar, menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir garmen penting di pasar global.

Mengapa Nike dan Adidas Memilih Indonesia?

Salah satu indikator kualitas industri garmen nasional adalah kepercayaan dari merek-merek global.

Selama bertahun-tahun, Nike dan Adidas menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis produksi utama mereka. Industri manufaktur nasional bahkan menyumbang hampir 30% dari total tenaga kerja pabrik global kedua merek olahraga tersebut.

Kepercayaan itu tidak datang begitu saja. Indonesia memiliki rantai pasok tekstil yang relatif lengkap, mulai dari produksi benang, kain, proses pencelupan, hingga pakaian jadi. Ditambah lagi dengan ketersediaan tenaga kerja terampil dalam jumlah besar yang mampu memenuhi standar kualitas internasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia juga berhasil memperoleh tambahan alokasi produksi yang sebelumnya berada di Tiongkok, Vietnam, maupun Kamboja untuk sejumlah lini produk Adidas dan Nike.

Baca juga : Kisah Rosidah, Pengusaha Gula Merah Sumenep yang Naik Kelas Berkat KUR BRI

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya saing industri garmen Indonesia tidak hanya ditentukan oleh biaya produksi, tetapi juga kualitas manufaktur yang diakui pasar global.

Indonesia merupakan salah satu dari 10 eksportir garmen terbesar di dunia. Berdasarkan data World Trade Organization (WTO) 2024, Indonesia menempati peringkat kedelapan sebagai eksportir produk garmen atau apparel/ready-made garments berdasarkan nilai ekspor. 

Posisi tersebut menempatkan Indonesia di bawah China, Bangladesh, Vietnam, Turki, India, Kamboja, dan Pakistan, sekaligus menegaskan peran strategis industri garmen nasional dalam rantai pasok fesyen global dan pasar ekspor internasional.

Menyerap Jutaan Tenaga Kerja

Industri garmen juga menjadi salah satu sektor padat karya terbesar di Indonesia. Secara keseluruhan, industri tekstil dan garmen menyerap sekitar 3 juta tenaga kerja, sementara industri alas kaki mempekerjakan sekitar 1 juta pekerja.

Sepanjang 2024, sektor pakaian jadi bahkan menambah lebih dari 10 ribu tenaga kerja baru, meningkat sekitar 30% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagian besar pabrik berada di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang menjadi pusat produksi tekstil nasional. Selain berkontribusi terhadap ekonomi, sektor ini juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja perempuan terbesar di Indonesia.

Di balik capaian tersebut, industri garmen tetap menghadapi tantangan besar. Tekanan dari membanjirnya produk impor murah, biaya produksi yang meningkat, serta perlambatan permintaan global menyebabkan sebagian perusahaan melakukan efisiensi.

Data menunjukkan puluhan pabrik tekstil dan garmen dilaporkan berhenti beroperasi sejak 2023. Pada 2024, sektor industri pengolahan—termasuk tekstil dan garmen—menjadi penyumbang terbesar kasus PHK di Indonesia.

Namun, pelaku industri menilai kondisi tersebut lebih mencerminkan fase penyesuaian dibanding kemunduran permanen.

Ketua Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, menyebut industri tekstil nasional tengah bertransformasi melalui efisiensi energi, digitalisasi, dan penerapan prinsip keberlanjutan untuk meningkatkan daya saing.

Baca juga : Pendapatan MINE Naik Jadi Rp1,22 T, Lini Konstruksi Terbang 94 Persen

Mampukah Indonesia Menjadi Pemain Global yang Lebih Besar?

Pelaku industri menargetkan nilai industri tekstil dan garmen nasional meningkat menjadi US$100 miliar pada 2035, terdiri atas US$60 miliar dari pasar domestik dan US$40 miliar dari ekspor.

Target tersebut dinilai realistis apabila Indonesia mampu meningkatkan penguasaan pasar dalam negeri yang saat ini masih didominasi produk impor serta memperbesar pangsa ekspor global.

Sebagai produsen garmen terbesar ke-8 dunia, Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi manufaktur yang kuat. Tantangan berikutnya bukan lagi membuktikan kualitas produksi, melainkan meningkatkan daya saing agar posisi sebagai raksasa manufaktur juga tercermin dalam kekuatan ekspor dan penguasaan pasar domestik.

Dengan kapasitas produksi yang telah diakui merek-merek dunia seperti Nike dan Adidas, industri garmen Indonesia memiliki peluang besar untuk naik kelas dari sekadar basis produksi global menjadi salah satu pemain utama dalam perdagangan fesyen dunia.