Tren Pasar

Menimbang Saham INDY, Mulai Rebound dari Level Terendah

  • Mengapa saham INDY kembali naik? Ketahui empat katalis utama, kinerja kuartal I-2026, prospek bisnis Indika Energy, serta risiko divestasi Kideco.
indika-energy.jpg
Kantor Indika Energy (INDY). (Ist)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Indika Energy Tbk (INDY) sedang memasuki fase rebound setelah sempat jatuh ke kisaran Rp1.800 pada awal Juli 2026. 

Hingga sesi I perdagangan Kamis, 30 Juli 2026, saham INDY bahkan sempat menyentuh Rp2.680 atau menguat sekitar 4%, sebelum bergerak fluktuatif di sekitar Rp2.610 akibat aksi ambil untung.

Kenaikan tersebut memperpanjang reli saham INDY sepanjang Juli sekaligus memunculkan pertanyaan baru di kalangan investor, mengapa saham INDY kembali menguat, apakah rebound ini berkelanjutan, dan bagaimana prospek perusahaan ke depan?

Mengapa Saham INDY Naik?

Sedikitnya terdapat empat katalis utama yang mendorong pemulihan saham Indika Energy. Pertama, kinerja keuangan kuartal I-2026 membaik signifikan. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$7,02 juta, melonjak 142% secara tahunan, sementara EBITDA meningkat 40,7%. 

Perbaikan tersebut menunjukkan efisiensi operasional mulai memberikan hasil meskipun pendapatan relatif stagnan di US$493,2 juta.

Kedua, rumor divestasi PT Kideco Jaya Agung meningkatkan ekspektasi pasar bahwa Indika Energy berpotensi memperoleh dana segar bernilai lebih dari US$1 miliar apabila transaksi terealisasi. 

Meski manajemen belum mengonfirmasi kabar tersebut, spekulasi aksi korporasi menjadi salah satu sentimen positif bagi investor.

Baca juga : Pendapatan MINE Naik Jadi Rp1,22 T, Lini Konstruksi Terbang 94 Persen

Ketiga, INDY resmi kembali masuk indeks LQ45 dengan efektivitas mulai 3 Agustus 2026. Masuknya saham ke dalam indeks acuan tersebut berpotensi meningkatkan permintaan dari investor institusi dan dana indeks (index fund).

Keempat, pasar mulai memberikan apresiasi terhadap transformasi bisnis Indika Energy yang menargetkan 50% pendapatan berasal dari sektor nonbatu bara pada 2028.

Pemulihan harga saham cukup mencolok. Pada awal Juli 2026, saham INDY sempat diperdagangkan di sekitar Rp1.800. Dalam waktu kurang dari satu bulan, harga melonjak hingga Rp2.680, atau naik lebih dari 45% dari titik terendahnya.

Meski demikian, posisi tersebut masih jauh di bawah harga tertinggi tahun 2026 di level Rp4.240 yang tercapai pada 2 Maret 2026. Artinya, secara historis saham INDY masih memiliki ruang pemulihan apabila sentimen positif terus berlanjut.

Apa Risiko Terbesar INDY?

Di balik prospek rebound, terdapat satu faktor yang masih menjadi perhatian utama investor, yakni ketergantungan terhadap PT Kideco Jaya Agung. Pada kuartal I-2026, Kideco menyumbang sekitar 72,8% pendapatan konsolidasi atau US$377,4 juta dari total pendapatan INDY sebesar US$493,2 juta.

Apabila divestasi benar-benar dilakukan, pendapatan dan laba perusahaan berpotensi mengalami penurunan dalam jangka pendek. Namun di sisi lain, dana hasil pelepasan aset dapat mempercepat transformasi menuju bisnis energi hijau, memperkuat struktur permodalan, serta mengurangi ketergantungan terhadap batu bara.

Prospek jangka menengah Indika Energy tidak lagi hanya bergantung pada batu bara. Perusahaan tengah mengembangkan tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan yang ditargetkan mulai uji coba produksi pada akhir 2026 dan memasuki produksi komersial pada kuartal I-2027.

Selain itu, Indika terus memperluas investasi pada energi baru terbarukan, kendaraan listrik, logistik, hingga bisnis hijau sebagai bagian dari transformasi perusahaan energi terdiversifikasi.

Strategi tersebut dinilai dapat mengurangi risiko siklus harga batu bara sekaligus membuka peluang memperoleh sumber pendapatan baru dalam beberapa tahun mendatang.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: MEDC dan DEWA Perkasa, ASII Tiarap

Apakah Saham INDY Masih Layak Dicermati?

Sejumlah indikator menunjukkan peluang pemulihan saham INDY masih terbuka. Dari sisi valuasi, saham INDY masih diperdagangkan dengan price to book value (PBV) sekitar 0,81 kali, atau berada di bawah nilai bukunya (book value), yang kerap diartikan pasar belum sepenuhnya menghargai nilai aset bersih perseroan. 

Optimisme tersebut juga tercermin dari konsensus analis yang masih menempatkan target harga rata-rata Rp4.350 per saham dalam 12 bulan ke depan, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp5.400. 

Dibandingkan level perdagangan di kisaran Rp2.610–Rp2.680 pada sesi I 30 Juli 2026, target tersebut mengindikasikan potensi kenaikan yang masih cukup besar apabila kinerja operasional dan sentimen pasar terus membaik.

Dari sisi fundamental, kinerja kuartal I-2026 turut memperkuat optimisme pasar. Perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$7,02 juta, melonjak 142% secara tahunan (year-on-year/YoY). 

Baca juga : Bongkar Kinerja MLPT, Sempat ARA Berjilid Usai Stock Split

Sementara itu, EBITDA meningkat 40,7%, margin laba kotor naik menjadi 15% dari sebelumnya 13%, dan posisi kas serta setara kas mencapai US$494,5 juta. 

Kondisi tersebut memberikan ruang yang cukup bagi perusahaan untuk mendanai proyek-proyek strategis, termasuk pengembangan tambang emas Awak Mas, investasi energi hijau, serta ekspansi bisnis nonbatu bara yang menjadi fokus transformasi Indika Energy.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang dapat memengaruhi prospek saham INDY. Hingga kuartal I-2026, PT Kideco Jaya Agung masih menyumbang sekitar 72,8% pendapatan konsolidasi atau US$377,4 juta dari total pendapatan perusahaan sebesar US$493,2 juta, sehingga setiap perkembangan terkait isu divestasi akan menjadi perhatian utama pasar.

Selain itu, volatilitas harga batu bara global, percepatan pembangunan proyek emas Awak Mas yang ditargetkan memasuki produksi komersial pada kuartal I-2027, serta keberhasilan perusahaan mencapai target 50% pendapatan dari bisnis nonbatu bara pada 2028 akan menjadi faktor penting yang menentukan keberlanjutan fase rebound saham INDY dalam jangka menengah hingga panjang.