Tren Ekbis

Mandiri Sekuritas Revisi Target IHSG 2020 Jadi 5.540

  • JAKARTA – PT Mandiri Sekuritas merevisi target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini setelah ambruk terdampak COVID-19 hingga ke level...
Sukirno

Sukirno

Author

JAKARTA – PT Mandiri Sekuritas merevisi target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini setelah ambruk terdampak COVID-19 hingga ke level 3.989 pada Maret 2020.

Head of Equity Research, Strategy & Consumer Mandiri Sekuritas Adrian Joezer memproyeksi IHSG akan berada di level 5.540 pada akhir 2020. Proyeksi itu bersifat dinamis karena saat ini perekonomian Indonesia masih dalam masa pemulihan akibat dampak adanya pandemi COVID-19.

“Forecast akhir tahun 5.540 untuk skenarionya tapi perlu diingat, ini kan fase recovery jadi ini sangat dinamis perubahannya,” kata dia dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu, 17 Juni 2020.

Adrian menyatakan komposisi indeks saham nasional mayoritas ditopang oleh saham perbankan, sehingga berbeda dengan Amerika Serikat yang ditopang oleh saham perusahaan teknologi.

“Jadi fokusnya masing-masing beda. Prediksi 5.540 berubahnya bisa drastis tergantung recovery-nya seperti apa. Kalau baik, ya bisa ada perubahan lagi datanya,” ujarnya.

Dia menjelaskan pemulihan ekonomi akan mempengaruhi gerak IHSG. Sehingga, Mansek bakal terus memantau dinamika investasi saham dari para investor.

“Level 5.540 itu sesudah revisi. Kami buat revisi targetnya bottom up. Masing-masing analis melakukan forecast laba bersih, lalu dengan laba bersih yang kami forecast terakhir keluar 5.540,” tegasnya.

Adrian menuturkan, jenis saham yang menarik untuk investasi jangka panjang terutama dalam kondisi pandemi COVID-19 adalah saham cyclical lantaran memiliki valuasi murah.

“Banyak yang murah-murah. Saham cyclical seperti perbankan dan otomotif yang bukan kebutuhan sehari-hari ibaratnya. Saham cyclical ini untuk jangka panjang sangat menarik untuk entry point,” urainya.

Fokus Investor

Secara terpisah, Direktur Investasi Schroders Indonesia Irwanti menilai para pelaku pasar global saat ini lebih bereaksi terhadap berita terkait pembukaan kembali (reopening) ekonomi dan pengembangan vaksin untuk COVID-19, dibandingkan dengan jumlah kasus positif kasus itu.

“Pasar sudah mengabaikan jumlah kasus yang meningkat, yang sudah mencapai jumlah 8 juta kasus lebih. Pasar tidak bereaksi lagi terhadap penambahan kasus. Pasar bereaksi terhadap, reopening ekonomi dan vaksin,” ujar Irwanti.

Saat ini, kata dia, pasar saham memang tengah volatil. Namun, saham bergerak mengikuti berita terkait COVID-19 terutama soal pengembangan vaksin dan pembukaan kembali kegiatan ekonomi.

“Jadi, setiap kali ada berita reopening, berita vaksin, pasar menikmati itu. Namun, jika ada berita penambahan infeksi COVID-19, pasar kelihatan sudah mengabaikan jumlahnya,” kata dia.

Meski jumlah kasus COVID-19 terus meningkat, dia menilai indeks bursa saham global terlihat bergerak melandai atau bahkan naik.

Indeks S&P 500 misalnya, sejak Mei terlihat bergerak relatif datar, sedangkan Nasdaq justru bergerak naik. Dari dalam negeri, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) cenderung bergerak mendatar.

Pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2020, IHSG ditutup di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,02% sebesar 1,31 poin ke level 4.987.77. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.018,98 pada awal perdagangan yang kemudian bergerak sideways.

Meski ditutup di zona positif, IHSG masih terkoreksi 20,82% sejak awal tahun ini. Sepanjang hari ini, dua sektor menjadi penekan IHSG yaitu industri kimia dasar yang turun 0,05% dan keuangan terkoreksi 0,64%.

Saat yang sama, investor asing masih mencatat aksi jual bersih (net sell) senilai Rp757,58 miliar. Sehingga, catatan net sell investor asing sejak awal tahun menebal menjadi Rp11,6 triliun. (SKO)