Kuasai 50 Persen Pasar Dunia, Simak Sejarah Sawit Indonesia
- Meski menghadapi tantangan iklim dan peremajaan tanaman, industri sawit tetap menopang ekspor, tenaga kerja, dan perekonomian nasional.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Indonesia dikenal sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Industri ini berkembang pesat meski menghadapi berbagai tantangan, mulai dari isu deforestasi, perubahan iklim, kebutuhan peremajaan (replanting), hingga penuaan tanaman.
Berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Indonesia menguasai lebih dari separuh pangsa pasar minyak sawit dunia. Dukungan luas lahan perkebunan serta kondisi geografis yang sesuai menjadikan kelapa sawit sebagai salah satu penopang utama perekonomian nasional.
Selain berperan sebagai komoditas ekspor unggulan, industri kelapa sawit juga menyerap jutaan tenaga kerja dan mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah, terutama di Sumatera dan Kalimantan.
Produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia menunjukkan tren jangka panjang yang relatif kuat. Pada 2022, produksi CPO tercatat mencapai 46,82 juta ton dengan luas areal perkebunan sekitar 16,83 juta hektare.
Memasuki periode Januari–September 2025, produksi telah melampaui 43 juta ton, meningkat sekitar 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, total produksi minyak sawit Indonesia sepanjang 2023 mencapai sekitar 54,8 juta ton.
Namun pada 2024, produksi mengalami penurunan sekitar 3,8% menjadi sekitar 52,76 juta ton. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh dampak El Nino, pelaksanaan program peremajaan tanaman, serta banyaknya kebun sawit yang telah memasuki usia tua. Penurunan paling signifikan tercatat pada bulan-bulan awal 2024.
Dari sisi perdagangan, nilai ekspor sawit Indonesia juga mengalami koreksi, dari sekitar Rp463 triliun pada 2023 menjadi Rp440 triliun pada 2024. Meski demikian, ekspor ke sejumlah pasar, seperti Pakistan dan kawasan Timur Tengah, justru mencatatkan pertumbuhan.
Secara global, posisi Indonesia masih mendominasi. Data USDA periode 2022/2023 menunjukkan Indonesia memproduksi sekitar 45,5 juta ton CPO, atau setara sekitar 59% dari total produksi minyak sawit dunia yang mencapai 77,22 juta ton.
Di peringkat kedua terdapat Malaysia dengan produksi sekitar 18,8 juta ton. Selisih produksi yang cukup lebar menempatkan Indonesia sebagai pemasok utama yang berpengaruh terhadap pasokan dan dinamika harga minyak sawit global.
Sebaran perkebunan sawit nasional terkonsentrasi di dua wilayah utama, yakni Sumatera dan Kalimantan. Provinsi dengan produksi terbesar antara lain Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Keberadaan perkebunan sawit di wilayah tersebut tidak hanya mendorong kinerja ekspor, tetapi juga memberikan dampak ekonomi daerah melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta pembangunan infrastruktur pendukung.
Sejarah Industri Sawit
Kelapa sawit bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini pertama kali diperkenalkan pada masa kolonial Belanda. Pada 1848, empat biji kelapa sawit (Elaeis guineensis) dibawa dari Afrika dan ditanam di Kebun Raya Bogor.
Percobaan budidaya berlanjut pada akhir abad ke-19 di Jawa dan Sumatera. Kelapa sawit kemudian terbukti tumbuh optimal di wilayah Deli, Sumatera Utara, yang melahirkan varietas unggul dikenal sebagai “Deli Dura”.
Tonggak industri sawit komersial terjadi pada 1911, saat perkebunan kelapa sawit skala besar pertama dibuka di Pantai Timur Sumatera dan Aceh. Pengembangan industri ini diperkuat dengan pendirian pusat riset Algemeene Proefstation der AVROS di Medan pada 1916, yang berperan dalam pengembangan bibit dan teknologi budidaya.
Ekspor CPO pertama Indonesia tercatat pada 1919, menandai awal keterlibatan Indonesia dalam perdagangan minyak sawit global.
Dari sisi produktivitas, kelapa sawit dikenal sebagai tanaman minyak nabati yang efisien. Rata-rata produksi minyak sawit mencapai sekitar 3,3–4,0 ton per hektare per tahun, atau sekitar 5–8 kali lebih tinggi dibandingkan tanaman minyak nabati lain seperti kedelai dan rapeseed.
Di tengah sorotan isu lingkungan, Indonesia juga menjadi salah satu produsen utama minyak sawit berkelanjutan. Sekitar 56% minyak sawit bersertifikat RSPO secara global berasal dari Indonesia.
Sertifikasi keberlanjutan tersebut berperan penting dalam menjaga akses pasar internasional sekaligus memenuhi standar global terkait praktik perkebunan yang berkelanjutan.
Saat ini, industri kelapa sawit tercatat sebagai salah satu sektor strategis nasional. Selain menjadi sumber devisa, sektor ini menyerap jutaan tenaga kerja langsung dan tidak langsung, dari kegiatan hulu hingga hilir industri.

Ananda Astri Dianka
Editor
